Hits: 188
Shafna Jonanda Soefit Pane / Deswita Fajarani
Pijar, Medan. Di era sekarang, banyak kita temukan generasi baru dengan berbagai istilah unik. Salah satunya adalah generasi lunak yang dinamakan dengan generasi stroberi (strawberry generation). Tampak indah, tetapi mudah hancur. Buah stroberi inilah yang menggambarkan generasi anak muda saat ini.
Seperti cuitan oleh mahasiswa berusia 21 tahun yang diunggah oleh akun Twitter @collegemenfess, “gua anak umur 21, gak nyangka ternyata kuliah itu seburuk itu untuk mental health, semester 1 kemarin gua udah dihujanin materi sama tugas yang bener-bener banyak, akibatnya waktu gua untuk healing sama self reward jadi kurang banget. Yang tadinya gua masih bisa nonton Netflix sama chat-an dengan bestie sekarang jadi susah banget. Gua kayaknya belum siap kuliah deh.”
“Gua udah ngomong ke ortu kalau gua mau cuti dulu semester ini. Gua mau fokus healing selama 6 bulan dulu. Tapi ortu gua malah ga setuju, bahkan gua dibilang manja. Gua bingung mau gimana takutnya kalau paksain ipk ku malah tambah anjlok. Gua juga susah komunikasikan ini ke ortu karena mereka ga aware sama mental health kaya gua. Gua mesti gimana….???,” lanjutnya dengan diakhiri emotikon menangis.
Curhatan tersebut sempat viral dari salah satu mahasiswa yang sedang duduk di semester dua. Karena adanya cuitan tersebut, masyarakat jadi banyak membahas mengenai generasi baru ini, yaitu strawberry generation.
Istilah strawberry generation sendiri pertama kali muncul di Taiwan. Disebut demikian karena buah stroberi sendiri merupakan buah yang tampak indah, tetapi saat dipijak atau ditekan sedikit dapat langsung hancur.
Dilansir dari Wikipedia, strawberry generation adalah sebuah neologisme bahasa Tionghoa untuk orang Taiwan yang lahir setelah 1981 yang “gampang mengkerut” seperti stroberi. Artinya, mereka tak dapat menghadapi tekanan sosial atau kerja keras seperti generasi orang tua mereka.
Istilah tersebut merujuk kepada orang yang manja, penyendiri, arogan, dan malas kerja. Hal tersebut bermula dari sudut pandang bahwa para anggota generasi ini dibesarkan dengan terlalu dilindungi oleh orang tua mereka. Selain itu, mereka juga berada di lingkungan yang kaya akan ekonomi. Hal ini diumpamakan seperti stroberi yang tumbuh di rumah kaca yang dilindungi dan dihargai lebih tinggi daripada buah-buahan lainnya.
Dikutip dari ultimagz.com, menurut Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya “Strawberry Generation” (2017), mereka adalah generasi yang penuh dengan gagasan kreatif, tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati. Para generasi stroberi ini, biasanya mudah pesimis dan kerap menganggap diri sendiri sebagai seseorang yang buruk sehingga berpengaruh terhadap kepercayaan diri mereka.
Peran orangtua yang kurang memberikan eksplorasi sekitar kepada anak juga menjadi faktor munculnya generasi lunak ini. Pola asuh seperti ini yang sering memunculkan rasa takut akan tantangan dan mudah stres pada anak.
Generasi stroberi ini juga menginginkan segala sesuatu yang instan karena ketergantungan dengan adanya perkembangan teknologi. Mereka harus belajar bahwa segala sesuatu yang dilakukan tetap membutuhkan proses.
Padahal, dengan adanya perkembangan teknologi tersebut, generasi stroberi dapat lebih mengeksplorasi bakat dan kreativitas mereka. Hasilnya pun dapat menjangkau lebih banyak informasi dan menjadikan hal tersebut sebagai bentuk dari kemajuan dan perkembangan diri.
Generasi lunak ini tidak hanya memiliki sisi negatif karena merupakan generasi yang kreatif dan memiliki banyak ide baru. Fakta ini didorong dengan sifat mereka yang cenderung bosan dengan hal yang monoton. Hal ini dapat menjadi bagian dari perkembangan yang baik bagi manusia. Mereka juga dapat memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mencari ide kreatif dan inovatif. Jadi, generasi lunak ini tidak selamanya dipandang buruk.
Stigma mengenai strawberry generation tergantung pada individu tersebut. Tidak semua yang termasuk dalam generasi stroberi adalah orang-orang yang lemah. Kita dapat menjadi bagian dari perkembangan dengan berada dalam generasi ini. Mencari banyak ide dan menjadi pribadi yang kreatif sehingga kita tidak hanya dipandang dari sisi lunak yang lemah saja. Namun, juga menjadi generasi yang indah dipandang seperti stroberi.
(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

