Hits: 107
Hanina Afifah / Hannysa
Pijar, Medan. Menjalin hubungan percintaan dengan orang yang disenangi merupakan dambaan dari kebanyakan orang. Namun, kerap kali rasa cinta tersebut disalahgunakan untuk menyalurkan emosi-emosi negatif yang tak seharusnya dilampiaskan kepada orang lain. Bom cinta atau love bombing adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan situasi tersebut.
Love bombing merupakan keadaan di mana seseorang dihujani rasa kasih sayang secara berlebihan oleh kekasihnya dengan tujuan memanipulasi pasangannya. Kemudian, hal ini berujung kepada hubungan yang tidak sehat karena hal ini dapat menimbulkan gangguan cemas dan stress bagi korban yang mengalami. Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Inez Kristanti, pakar psikolog sekaligus mentor seksualitas.
Menurut Inez, ciri-ciri love bombing ditandai dengan melakukan hal-hal romantis secara berlebihan padahal hal tersebut mengarah kepada tindakan kekerasan emosional sewaktu-waktu. Umumnya, tindakan love bombing ini mulai dilakukan dengan memberi perhatian, hadiah, dan pujian di luar batas wajar. Tak jarang pula, perilaku love bombing ini diawali dengan iming-iming janji menikahi di waktu yang akan datang atau disebut juga dengan faking future.
Dilansir dari laman klikdokter.com, seorang psikolog bernama Ikhsan Bella Persada, M.Psi., mengatakan jika love bombing ini cukup berbahaya. Salah satunya dapat menyebabkan korban merasa bingung dan terkekang. Korban jadi bertanya-tanya apakah yang dialami ini memang bentuk kasih sayang atau perilaku yang mengganggu.
Parahnya lagi, love bombing dikategorikan sebagai pelecehan emosional. Korban yang mengalaminya akan dijebak dengan aturan ataupun komitmen yang diciptakan oleh pelaku dan dilimpahkan rasa bersalah. Selain itu, juga ada keharusan untuk memberi timbal balik yang sama kepada pelaku serta tak jarang pula korbannya direndahkan dan dihina secara terus-menerus. Tentunya, hal tersebut dapat merusak kesehatan mental seseorang.
Selain itu, ada banyak faktor yang memengaruhi seseorang melakukan perilaku love bombing terhadap pasangannya. Diantaranya karena budaya kasih sayang yang cenderung ekspresif dalam keluarga, kesepian, dan keinginan punya hubungan yang berkembang dengan cepat. Adapun faktor lainnya ialah hasrat untuk memanipulasi, memengaruhi, atau mengambil keuntungan.
Lantas, bagaimana cara melepaskan diri dari hubungan yang terkontaminasi oleh love bombing? Para pakar psikologi menyarankan bahwa memutuskan hubungan secara sepihak (cut off) adalah cara yang paling memungkinkan untuk melepaskan diri dari pelaku love bombing. Untuk mendukung keberhasilan tersebut maka perlu adanya tekad dan kemauan yang kuat dari dalam diri untuk mengakhirinya.
Setelah berhasil lepas dari love bombing, pastinya seseorang akan merasa trauma dan sulit untuk memercayai orang lain. Bahkan juga dapat menyebabkan krisis identitas kepada korban karena kerap dirundung rasa bersalah akibat diterpa manipulasi. Akan tetapi, mencari jalan keluar adalah solusi terbaik ketimbang terus-menerus terjebak dalam situasi yang dapat menghancurkan kesehatan mental.
Mengatasi dampak negatif dari perilaku love bombing dapat dilakukan dengan beberapa cara. Mulai dari menyayangi diri sendiri dan meluapkan perasaan melalui waktu yang berkualitas (quality time) bersama teman ataupun keluarga. Adapun juga mengikuti terapi diri untuk menyembuhkan luka batin yang telah menimpa. Memupuk kembali rasa percaya diri merupakan kunci utama untuk bebas dari tekanan yang menyelimuti.
Jika kita menelisik kembali, tentu ada perbedaan yang mendasari dari cinta yang tulus (real love) dengan love bombing. Seseorang yang mencintai dengan tulus, akan membuat pasangannya merasa nyaman, tidak ada dominasi yang berlebihan dari kedua belah pihak, dan mampu membuat semakin percaya diri serta terbuka. Sementara, hubungan yang didasari oleh love bombing justru terjadi sebaliknya. Lantaran perubahan perilaku yang ekstrem dan manipulasi dari pelaku akan terus menghantui pasangannya.
Mulai dari sekarang, kalian harus pandai membedakan antara cinta yang tulus dengan bom cinta. Apabila kamu merasa terjebak dalam lingkaran love bombing, segeralah ambil langkah yang tepat. Sebab kesehatan mental kamu jauh lebih berharga daripada cinta yang tak pasti.
(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

