Hits: 68
Alya Ridzki Nazahwa / Grifin Angelina Tobing
Pijar, Medan. Hari Guru Nasional di Indonesia dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 25 November. Peringatan ini diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi kepada guru yang menjadi garda terdepan dalam memberikan ilmu yang bermanfaat terhadap pendidikan. Hal ini tidak terlepas dari sejarah perjuangan PGRI dalam memperjuangkan pendidikan di Indonesia.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengusung tema Hari Guru Nasional tahun 2022 yaitu “Serentak Berinovasi, Wujudkan Merdeka Belajar”. Sejalan dengan tema tersebut, sistem pembelajaran di Indonesia juga akan terus berinovasi. Terlebih lagi, Indonesia telah memasuki masa pasca pandemi. Sistem pembelajaran sudah dilaksanakan secara luring di mana sebelumnya dilaksanakan secara daring.
Dengan perubahan yang terjadi dalam kurun waktu yang dekat, guru serta peserta didik dihadapi dengan berbagai rintangan. Perubahan yang cukup signifikan terjadi di awal pandemi yang mengharuskan masyarakat untuk melakukan segala kegiatan dari rumah. Tak terkecuali dunia pendidikan.
Sebagai guru pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), Tin Indriati mengungkapkan adanya kendala yang dihadapi guru maupun peserta didik dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
“Banyak siswa yang terkendala masalah handphone dan kuota internet. Guru dan siswa juga tidak dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara tatap muka. Maka perlu melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas,” jelas Tin dalam keterangannya.
Selama 2 tahun, pendidik dan peserta didik melakukan pembelajaran secara daring dikarenakan pandemi. Tak dipungkiri, kebiasaan baru sudah terbentuk dalam proses belajar mengajar. Kesulitan kembali terlihat jelas pada saat kegiatan pembelajaran kembali dilaksanakan secara luring.
Dalam hal tersebut, para guru memiliki tantangan besar yang harus dihadapi untuk menciptakan proses belajar mengajar yang memiliki kesan baik terhadap pelajar. Tin mengungkapkan bahwa tantangan yang dihadapi sangatlah banyak.
“Sebagian siswa sudah terlena dengan pembelajaran daring, sehingga masih malas untuk hadir dan belajar di sekolah. Selain itu, selama pembelajaran daring, ilmu dan pengetahuan yang didapat siswa tidak maksimal sehingga terkendala dalam menerima pembelajaran selanjutnya,” ujarnya.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Tin Indriati berusaha memberi solusi secara perlahan dan bertahap untuk memperbaiki situasi dan kondisi siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah. Upaya untuk menumbuhkan semangat pelajar di era baru juga mendorong guru untuk berinovasi dalam mengajar.
Dengan memperingati Hari Guru Nasional, Tin mengungkapkan harapannya agar pelajar dan pendidikan di Indonesia menjadi semakin baik. Guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa terus berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Harapan terbaik untuk semua pihak ikut serta dalam membangun masa depan pendidikan Indonesia yang cemerlang.
(Redaktur Tulisan: Naomi Adisty)

