Hits: 31

Ayu Nabila Putri

Pijar, Medan. Himpunan mahasiswa Program Studi (prodi) Sastra Jepang berhasil menyelenggarakan Dies Natalis ke-23 yang dihadiri oleh Kepala Prodi Sastra Jepang, Konjen Jepang, Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya (FIB), dan mahasiwa Sastra Jepang. Acara ini bertempat di Gedung Pagelaran Teater O FIB pada (9/3/24).

Dies Natalis tahun ini mengangkat tema “Ichigo Ichi” yang bermakna menghargai setiap momen yang terjadi dalam hidup. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang diadakan selama dua hari, Dies Natalis Sastra Jepang tahun ini hanya berlangsung selama satu hari. Hal ini merupakan hasil kesepakatan seluruh panitia seperti yang dijelaskan oleh Michael Lion selaku ketua panitia Dies Natalis Sastra Jepang.

“Tahun ini tidak ada seminar seperti tahun lalu karena satu dan lain hal serta berdasarkan kesepakatan bersama,” jelasnya.

"Ichigo Ichi", Keunikan dan Keseruan Dies Natalis Sastra Jepang - www.mediapijar.com
Kata sambutan dari perwakilan Konjen Jepang di Medan.
(Sumber Foto: Dokumentasi Panitia)

Terdapat ciri khas dari Dies Natalis Sastra Jepang yang diadakan dari tahun ke tahun, yaitu permainan Shiritori. Permainan ini dilakukan dengan cara menyambungkan kata akhir dari setiap pemain yang duduk berbaris di atas panggung.

Permainan Shiritori sekaligus menjadi ajang adu kepintaran dalam perbendaharaan kata bahasa Jepang. Pertandingan pun berakhir dengan kemenangan dari mahasiswa Sastra Jepang angkatan 2022.

Dies Natalis tahun ini juga membuat satu karakter tokoh yang diberi nama Ryoichi. Karakter ini digambarkan memiliki pembawaan yang kalem, sangat tenang, dan berhati-hati terutama dalam mengambil keputusan. Ryoichi juga digambarkan menyukai bunga sakura yang sesuai dengan warna rambutnya, yaitu pink cerah.

"Ichigo Ichi", Keunikan dan Keseruan Dies Natalis Sastra Jepang - www.mediapijar.com
Salah satu penampilan yang mengisi rangkaian acara Dies Natalis sastra Jepang ke-23.
(Sumber Foto: Dokumentasi Panitia)

Selain itu, Dies Natalis kali ini menggunakan logo yang menggabungkan elemen Gunung Fuji, bunga sakura, dan bulan serta awan. Logo tersebut menggambarkan harapan Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara (USU) agar mampu menghargai setiap momen yang terjadi di dalam hidup, terutama di lingkungan Sastra Jepang sendiri.

Ade Tri Febrianty selaku salah satu peserta menyampaikan pendapatnya mengenai acara ini, “acaranya terasa meriah dan akrab karena dari perwakilan dosen dan bapak Konjen Jepang ikut memeriahkan acara dan juga menyumbangkan lagu. Jadi kesannya akrab sekali.”

“Semoga hal-hal yang terjadi hari ini, baik itu hal baik atau yang kurang baik dapat dijadikan pelajaran untuk panitia selanjutnya,” tambah Ade.

Michael sebagai ketua panitia juga menyampaikan harapannya, “semoga bisa menjadi kenangan, mengenang hal-hal yang sudah terjadi di Dies Natalis ini.”

 

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment