Hits: 46

Sinta Wulandari

Pijar, Medan. Lukisan terkenal “Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya maestro Raden Saleh memang menyimpan begitu banyak misteri dan makna di dalamnya. Tidak hanya karena lukisan itu yang begitu kompleks dan rumit, lukisan Raden Saleh ini juga memiliki makna pemberontakan, perlawanan, sampai pengkhianatan di dalamnya.

Mencuri Raden Saleh merupakan film Indonesia dengan genre yang berbeda. Mengusung tema heist atau perampokan, film garapan Angga Dwimas Sasongko ini mampu membuat gebrakan baru perfilman Indonesia. Film produksi Visinema Pictures ini sukses besar dengan meraih lebih dari dua juta penonton sejak penayangannya pada 25 Agustus 2022 lalu di bioskop.

Inspirasi pembuatan film ini sebenarnya dari hal yang sederhana. Kala itu, Angga Sasongko sang sutradara sedang berkunjung ke suatu tempat dan melihat lukisan Raden Saleh yang minim penjagaan.

“Kalau saya jahat, itu barang sudah lolos, kerja sama orang yang berada di balik tembok untuk mencuri lukisan itu. Dari situ saya terpikir, kenapa enggak dibikin film saja ya,” ungkap Angga dalam jumpa pers dan perilisan trailer Mencuri Raden Saleh yang dikutip melalui tempo.com.

Film Mencuri Raden Saleh menceritakan tentang enam orang anak muda yaitu, Piko (Iqbal Ramadhan), Ucup (Angga Yunanda), Sarah (Aghniny Haque), Fella (Rachel Amanda), Tuktuk (Ari Irham), dan Gofar (Umay Shahab) yang melakukan misi pencurian lukisan Raden Saleh. Pencurian yang mereka lakukan tidak hanya melibatkan pemalsuan, pertengkaran, peretasan, tapi juga manipulasi cerdas dari anak-anak muda yang diremehkan. Untuk bisa menyelesaikan misi tersebut, mereka perlu menyusun strategi yang matang meskipun rencana mereka tak selalu berhasil.

Film ini tak hanya menyoroti tentang bagaimana strategi Piko dan kawan-kawan untuk mencuri lukisan tersebut. Namun, turut menyelipkan kritik terhadap sistem pemerintahan dari sudut pandang anak muda. Mulai dari mengkritik tentang keamanan negara yang masih minim, ketimpangan sosial, sampai kerakusan politikus yang mengalami post power syndrome yaitu ketika seseorang belum bisa menerima hilangnya kekuasaanya yang digambarkan lewat tokoh Permadi (Tio Pakusadewo).

Selayaknya film lainnya, Mencuri Raden Saleh menghadirkan plot twist yang sulit ditebak penonton. Latar belakang ceritanya yang kuat dan logis, membuat kisah pencurian lukisan ini terasa realistis. Angga sebagai sutradara juga sangat cerdas menggunakan ensemble cast. Jajaran pemain yang tidak main-main sangat cocok diperankan dengan alur cerita yang begitu kuat.

Cerita yang disajikan dalam film ini begitu solid dan tidak berat untuk ditonton. Durasi 2,5 jam tetap membuat penonton nyaman dan mengasah pola pikir penonton sehingga penonton seperti turut ikut dalam misi pencurian ini. Tak heran jika film ini masuk nominasi Festival Film Indonesia 2022.

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment