Hits: 5

Lainatus Syifa Hasibuan

Hari itu, 12 Februari 2006, hari ulang tahunku.

“Kak, ayo bangun!” tubuhku diguncang, ini benar-benar menjengkelkan. Pasalnya, aku sedang tertidur lelap setelah lelah mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi makhluk mengesalkan itu terus saja mengganggu tidurku.

“Memangnya sekarang jam berapa, sih? Dasar pengganggu,” ucapku ketus. Sejak kepergian orang tuaku, adikku menjadi sosok yang paling kubenci sedunia. Ia-lah penyebab dua malaikatku harus meregang nyawa.

Tubuhku kembali diguncang. Kesabaranku akhirnya runtuh dan aku menepis tangannya. “Tidak bisakah kau diam dan pergi? Tingkahmu membuatku muak,” aku beranjak dari tempat tidur, meninggalkan adikku yang diam tertunduk.

“Farsya hanya ingin membangunkan Kakak, hari ini hari ulang tahun Kak Rami, kan?” ujarnya takut-takut.

Tanpa melihat ke arahnya, aku tertawa. “Ulang tahun? Untuk apa aku merayakannya tanpa Ayah dan Ibu? Kau tak perlu mengingat hari ulang tahunku karena kau-lah yang membuat ulang tahun bukan lagi menjadi hari spesial bagiku,” ujarku telak. Aku tidak peduli bagaimana ekspresinya saat ini. Bukan urusanku.

Aku melirik ponselku kemudian menghela napas. Tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun, lockscreen ponselku hanya menampilkan reminder yang sudah kuatur. “Ulang tahun Rami”,  begitu tulisannya.

Wajar sebenarnya, aku memang selalu dijuluki ‘Rami Si Anti Sosial’ karena temanku hanya dua, itu pun tidak terlalu dekat. Aku memiliki pribadi yang tertutup. Terlebih, kejadian yang menimpa kedua orang tuaku membuatku semakin malas berinteraksi.

Lamunanku buyar ketika suara Farsya kembali mengusik pendengaranku. “Kak, aku pergi dulu,” ujarnya. Setelah itu, hanya terdengar suara pintu yang ditutup dan langkah kaki yang kian menjauh.

Leave a comment