Hits: 78
Widya Tri Utami
Pijar, Medan. Sebutan single mother kerap terdengar di telinga masyarakat. Sebutan itu merujuk pada seorang ibu yang membesarkan anaknya sendirian tanpa didampingi sang ayah dari buah hati mereka. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa sang anak tersebut, yang tumbuh tanpa kehadiran ayahnya, tengah mengalami fenomena fatherless.
“Fatherless diartikan sebagai anak yang bertumbuh kembang tanpa kehadiran ayah atau yang mempunyai ayah tapi ayahnya tidak berperan maksimal dalam proses tumbuh kembang anak dengan kata lain pengasuhan,” kata Retno Lystiarti selaku Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang dikutip dari Antara News.
Seperti yang disebutkan di atas, fenomena ini hadir dengan berbagai alasan. Seorang anak yang ditinggal tiada oleh ayahnya, atau yang pergi meninggalkan anaknya tanpa alasan, hingga pembagian hak asuh anak yang jatuh ke tangan ibu akibat perceraian. Bahkan kurangnya waktu bersama ayah meskipun hidup berdampingan di satu atap yang sama dengan anaknya, juga dapat menjadi alasan dari timbulnya fenomena ini.
Fatherless menjadi permasalahan yang terus menerus ada tidak hanya di Indonesia tapi juga di berbagai belahan dunia lainnya. Di Amerika, data yang didapatkan dari Biro Sensus AS menyatakan bahwa 18,4 juta anak, 1 dari 4, hidup tanpa ayah kandung, ayah tiri, atau ayah angkat di rumahnya seperti yang dikutip dari fatherhood.org.
Sering kalanya, sosok ayah lupa akan perannya yang tidak hanya sebagai penyongsong nafkah keluarga, tetapi juga ikut berperan dalam tumbuh kembang buah hatinya. Persepsi mereka pada umumnya beranggapan bahwa tugas tersebut hanya patut diemban oleh sang ibu saja. Sebuah persepsi yang muncul akibat kepercayaan akan peran gender yang masih dianut sebagian masyarakat.
Hilangnya kehadiran sosok ayah pada anak laki-laki maupun perempuan memiliki dampak serius ketika usia semakin beranjak dewasa. Bagi anak perempuan, tidak sedikit dari mereka akan mengalami kesulitan ketika menjalin hubungan. Hal ini dikarenakan hilangnya kriteria pria idaman mereka akibat hilangnya sosok dari cinta pertama, yakni ayahnya. Bagi kaum lekaki, kehilangan ayah juga diartikan sebagai kehilangan sosok panutan akan pencarian makna pria yang sesungguhnya.
Dilansir dari kanal YouTube Halodoc, Psikolog Khadra Ulfa meyampaikan bahwa peran ayah sangat penting dalam memengaruhi perkembangan anak. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan memengaruhi perkembangan tidak hanyak fisik, tapi juga kognitif, sosial, emosional, maupun perkembangan akademik anak,” terangnya.
Tak banyak ayah yang menyadari, bahwa kehadirannya dalam mengasuh anak juga berperan penting terhadap kehidupan sang anak. Pemikiran tentang rendahnya kredibiltas sosok ayah dalam mengasuh anak hendaknya dibuang jauh-jauh. Ibu dan ayah adalah kedua sosok yang berbeda. Hal-hal yang hanya dimiliki masing-masing itulah yang membuat sang anak harus mendapatkan kasih sayang dari kedua belah pihak sehingga tidak berat sebelah aliran cinta yang didapatnya.
(Redaktur Tulisan: Tasya Azzahra)

