Hits: 163
Alya Rizky Fitriani / Naomi Adisty
Pijar, Medan. Hadirnya pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak bagi kehidupan manusia, tapi juga hewan. Salah satunya keberadaan kucing-kucing liar di kawasan USU yang kini harus kehilangan sumber makanan mereka sejak berkurangnya aktivitas perkuliahan tatap muka di kampus.
Salah satu mahasiswa FISIP USU yang merupakan seorang pecinta kucing, Yogi Depari, ungkap tanggapannya terkait keberadaan kucing liar di USU. Yogi Depari mengungkapkan, kondisi kucing liar yang berada di USU cukup memprihatinkan dan berharap pemeliharaan tidak hanya pada rusa yang ada di sekitar kampus saja tetapi kucing liar sekitar kampus juga diperhatikan.
“Berdasarkan penglihatan saya selama ke kampus, kondisi kucing liar di USU cukup memprihatinkan. Dapat dilihat dari tubuh kucing tersebut yang kurus kekurangan makanan, mungkin kalo kuliah luring masih ada yang memberi dari sisa-sisa makanan kantin. Harapannya tidak hanya rusa yang di USU saja diberi makan, tapi kucing liar di kawasan kampus pun turut diperhatikan juga keberlangsungannya,” ungkap Yogi.
Melihat kondisi kucing liar di sekitaran USU yang memprihatinkan selama perkuliahan daring, hal ini pula yang mendorong Meilina Magdalena Verera Silalahi untuk mendirikan komunitas bernama “Kucing Kampus USU”. Gerakan komunitas ini dimulai dengan penggalangan dana berupa donasi melalui akun Instagram @kucing_kampus_usu sebagai bentuk kepedulian terhadap para kucing.
“Pergerakan ini awalnya terbentuk pada bulan November 2020 karena terjadinya pandemi Covid-19, sehingga membuat saya kepikiran akan keberlangsungan hidup kucing-kucing di kampus USU. Apalagi luasnya wilayah kampus tersebar setidaknya kurang lebih seratus ekor kucing yang telantar tentunya memerlukan perhatian,” jelasnya.
Lebih lanjut, kondisi kucing-kucing di sekitaran kampus pasca pandemi ini sangat memprihatinkan, bahkan jumlah mereka lambat laun berkurang. Tragisnya lagi, kucing tersebut mati kelaparan dan terkadang telantar di jalan raya sekitar kampus untuk mencari makan. Namun, Meilina mengatakan merasa beruntung dan bersyukur bahwa masih ada orang yang berpartipasi dan donatur yang membantu kegiatan ini.
“Bersyukur, untungnya masih banyak warga sekitar, teman sesama mahasiswa, donatur, bahkan beberapa dosen dan kepegawaian birektorat USU yang antusias ikut andil untuk berkeliling di area kampus setidaknya maksimal dua kali seminggu memberikan makan kucing liar di USU. Pemberian makan kucing juga tergantung pada jumlah persediaan stok pakan yang tersedia dari donatur,” jelasnya.
Selain itu, komunitas tersebut lewat akun instagram @kucing_kampus_usu juga turut aktif dalam mendokumentasikan informasi, baik mengenai kondisi terbaru kucing-kucing kampus maupun di setiap kegiatan mereka saat melaksanakan cat street feeding.
Terlepas dari kondisi kucing-kucing liar di USU selama pandemi yang memprihatinkan, terselip harapan agar mahasiswa lebih aktif dan peduli terhadap keberadaan kucing-kucing liar di USU ketika nanti perkuliahan tatap muka telah berlangsung.
“Berharap setelah masuknya kuliah nanti, para mahasiswa lebih aware akan keberlangsungan hidup kucing-kucing liar di kampus dengan ada baiknya membawa pakan untuk disedekahi kepada kucing-kucing di setiap fakultas mereka,” tutup Meilina.
(Redaktur Tulisan: Tasya Azzahra)

