Hits: 26

Desy Setiawati / Fadhilah Safa Salsabila Desky 

Pijar, Medan. Hari Sarjana Nasional diperingati setiap tanggal 29 September untuk menghormati jasa dan perjuangan para sarjana Indonesia dalam menempuh pendidikan tinggi, serta kontribusi mereka bagi kemajuan bangsa. Tanggal 29 September dipilih karena bertepatan dengan hari kelahiran Raden Mas Panji Sosrokartono, dikenal sebagai sarjana pertama Indonesia dan simbol penting bagi semangat pendidikan tinggi di tanah air. Momen ini menjadi saat yang tepat untuk mengenang peran sarjana sekaligus merefleksikan relevansi gelar sarjana di era modern.

Selama ini, gelar sarjana dianggap sebagai simbol prestasi akademik dan modal utama untuk memasuki dunia kerja. Namun, dengan perkembangan teknologi digital dan kemudahan akses pembelajaran nonkonvensional, peran gelar sarjana mulai dipertanyakan. Apakah gelar tersebut masih menjadi tiket utama menuju kesuksesan, ataukah sudah menjadi semacam formalitas yang kurang relevan?

Jessy Viola Sirait, salah satu mahasiswa baru di Universitas Sumatera Utara (USU), mengungkapkan pentingnya pendidikan bagi masa depan setiap orang.

 “Alasan utama saya melanjutkan kuliah adalah kesadaran akan pentingnya pendidikan. Saya percaya pendidikan bisa mengubah nasib dan masa depan saya menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Momentum Hari Sarjana 2025 mengajak masyarakat memandang pendidikan tinggi secara seimbang, sebagai salah satu cara membangun kapasitas diri. Gelar sarjana bukanlah satu-satunya jawaban, tetapi tetap memiliki nilai sebagai tanda komitmen dan penguasaan ilmu secara mendalam. Selain memperoleh ijazah, proses perkuliahan memberikan pengalaman berharga yang akan sangat dibutuhkan dalam dunia kerja nantinya.

Jessy juga menilai, bahwa gelar sarjana dianggap sebagai indikator dasar kompetensi yang layak untuk menghadapi persaingan kerja yang semakin kompetitif. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa gelar sarjana bukan sekadar formalitas, melainkan kemampuan untuk mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh, dalam berkontribusi positif bagi masyarakat.

“Gelar sarjana memang bukan jaminan kesuksesan. Namun, persaingan di dunia kerja yang semakin ketat menuntut individu tidak hanya memiliki semangat kerja tinggi, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan yang kompeten. Oleh karena itu, kuliah adalah pilihan yang tepat,” tambahnya.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment