Widya Tri Utami

Marinka kembali menekan tombol blower fan control pada AC mobil, lalu mengibas-ngibas tangan ke arah wajahnya. Berharap ada angin yang keluar untuk menghapus keringatnya. Gelang berwarna perak yang ia pakai pun mulai mengeluarkan bunyi gemerincing yang nyaring karena kecepatan kibasan tangannya yang semakin meningkat. Namun tetap, bulir-bulir keringat yang keluar pada permukaan kulitnya tak kunjung berhenti.

Seakan mengibarkan bendera putih, Marinka mulai membuka kaca mobilnya sedikit demi sedikit. Embusan angin dari luar pun mulai menyentuh permukaan kulit wajahnya. Ia kemudian memejamkan mata, meresapi embusan angin dari luar. Nafasnya pun mulai terasa lebih teratur. Aneh. Matahari sedang terik walau sore, seharusnya udara di luar sana tidak lebih sejuk dari udara di dalam sini.

Pandangan mata Marinka kembali tertuju pada tombol blower fan control itu lagi. Sudah hampir full ia pasang, namun tak kunjung dingin juga AC mobil itu.

“Kak, kok AC-nya ga dingin-dingin, sih?” tanya Marinka.

Tatiana yang sedang menyetir mobil sembari memainkan kerah bajunya karena kepanasan, hanya bisa menggeleng-geleng kepala. “Ga tau, nih. Kayaknya kemarin-kemarin itu baru diservis, deh.”

“Tapi kok bisa ga dingin-dingin ya? Jangan-jangan pas kemarin lagi diservis, ada yang salah-salah lagi,” duga Marinka.

“Hah? Masa, sih? Kayaknya ga mungkin. Servis tempat biasa kok,” jawab Tatiana, meyakinkan diri sendiri.

“Apa jangan-jangan freonnya ya? Kapan terakhir kali isi freon? Kemaren ga sekalian ya?” duga Marinka, lagi.

“Iya juga sih, kayaknya kemaren ga sekalian. AC belakang gimana? Ga dingin juga ya?”

Marinka mulai merogoh-rogoh kipas AC belakang dengan tangannya. Namun hasilnya tetap sama, AC depan maupun belakang mobil itu tetap tidak dingin.

“Panas juga nih,” balas Marinka.

Kalo gitu sekalian aja ini kita ke servis mobil,” ucap Tatiana.

Di saat AC mobil sedang panas begini, jalanan pun malah tampak macet. Bunyi klakson yang nyaring bersahut-sahutan dengan keras, lebih keras dari suara playlist lagu yang sedang diputar. Marinka mulai mengeluarkan dompet dari tasnya, merogoh-rogoh uang kertas yang ada di dalam.

“Kak, ada uangnya kan? Uangku cuma tujuh puluh nih,” ucap Marinka dengan merengut.

“Serius cuma segitu? Uang kakak malah tinggal lima puluh. Ga bawa kartu juga lagi,” jawab Tatiana.

“Waduh, gimana tuh? Cukup ga ya? Bukannya kalo mau isi freon harganya seratus lima puluh ya? Gimana nih? Kalo kita ga servis sekarang, masa kita mau kepanasan gini nyampe rumah?” tanya Marinka mulai panik.

Suara klakson semakin berbunyi nyaring. Bahkan, suara orang-orang yang mulai memaki satu sama lain mulai terdengar. Keadaan lalu lintas tidak mengalami perubahan, masih tetap padat merayap.

“Gara-gara Marinka, sih. Coba tadi ga ngajak beli bubble tea, pasti uangnya masih cukup kan untuk ngisi freon,” ucap Tatiana mulai menuduh.

“Kok salah aku sih? Kakak juga tadi beli tambahan kentang goreng ya supaya dapet tambahan diskon. Padahal ga ada untung-untungnya tuh. Kemakan omongan penjualnya sih,” balas Marinka tak mau kalah.

Sadar tuduhannya tidak berhasil dan dirinya mulai disudutkan, Tatiana kemudian membalas, “Kalo gitu kamu coba cari-cari deh di kantong jok, siapa tau ada duit ketinggalan di situ.”

Marinka mematuhi perkataan kakaknya. Ia mulai merogoh-rogoh kantong belakang tempat duduknya, tapi tidak menemukan apa-apa. Tangannya berlalu pada kantong belakang tempat duduk kakaknya. Kali ini, tangannya mulai merasakan benda yang dirasa seperti kertas. Ketika hendak mengeluarkan benda itu, mobil tiba-tiba berhenti mendadak. Kepala Marinka membentur jok dan benda yang dirasa kertas itu, jatuh tergeletak di bawah tempat duduk kakaknya. Tidak ingin menyerah, Marinka kembali memaksakan tangannya menyentuh bawah tempat duduk itu, mencari benda tersebut. Ketika dirasa dapat, ia cepat-cepat memperbaiki posisi duduknya dan menyunggingkan senyum ketika menyadari dirinya berhasil mendapati tiga lembar uang yang diharapkan.

Setelah melawati perjuangan lalu lintas padat merayap yang cukup menguras tenaga dan emosi, sampailah mereka pada tempat servis mobil yang dituju. Namun ketika hendak masuk, petugas dari tempat servis mobil itu terlihat sedang menutup pagar.

Astaga. Mereka lupa. Sekarang sudah hampir jam 5. Tempat servis mobil memang sudah saatnya tutup.

“Pak, masih bisa servis mobil kan?” tanya Tatiana berharap.

“Maaf dek, udah ga bisa. Kita udah mau tutup ini,” jawab petugas itu.

“Saya minta tolong, Pak, jangan ditutup dulu. Kita cuma mau minta dicek AC-nya aja kok. Ga dingin-dingin, kayaknya minta isi freon. Lagian ini belom pas jam 5, Pak. Masih ada 15 menit lagi,” balas Tatiana memohon.

Seakan menjawab iya, petugas itu kembali membuka pintu pagar tempat servis mobil. Tatiana dan Marinka turun dari mobil, sedangkan si petugas mulai membuka tas peralatan servisnya dan mencari-cari alat yang hendak digunakan. Ia kemudian membuka kap mesin mobil, mulai mengotak-atik isinya. Dahinya kemudian mengerut, tampak kebingungan.

Lalu, ia mulai melangkah masuk ke dalam mobil bagian depan. Mengotak-atik tombol-tombol yang ada di sana. Setelahnya, ia mulai menggaruk-garuk kecil kepalanya, tampak keheranan. Setelah menutup kap mesin mobil, ia balik menghampiri Tatiana dan Marinka.

“Mbak, AC mobilnya baik-baik aja. Cuma tadi tombol temperaturnya itu belom dinyalain. Tombolnya ada di dekat blower fan control itu. Sekarang AC-nya udah dingin kok, Mbak,” jelas si petugas servis.

Tatiana dan Marinka langsung menghampiri mobilnya. Setelah itu, mengarahkan tangannya ke kipas AC mobil. Dingin. Mereka mulai saling bertatapan, sadar akan kebodohan yang dilakukan. Kemudian, mereka kembali menatap si petugas servis itu sembari tersenyum kikuk, berusaha menahan malu.

Leave a comment