Annisa Van Rizky

Ini hari terburukku. Kupikir bangun kesiangan karena alarm tidak berbunyi, hampir ditabrak mobil saat menyebrang dan diusir dari kelas karena telat semenit sudah cukup buruk untuk memulai hari. Ternyata itu hanya permulaan. Ya, permulaan untuk memulai kegilaan yang sebenarnya.

”Apakah saudara adalah penghuni kamar 27? Saya meminta kerja sama saudara dalam proses penyelidikan… “

Dadaku terasa sesak. Rasanya seperti puluhan bola boling menghantam wajahku secara bergantian. Sukar dipercaya aku masih bisa tersenyum di hadapan dua polisi yang tengah menatapku dengan sorot wajah tajam.

“Bisa jelaskan, di mana saudara dan sedang melakukan apa pada hari minggu pukul 1 dini hari?”

Baru saja aku mau menjawab pertanyaannya, tiba-tiba saja Bu Mia menerjangku dengan penuh kekesalan mencekram kerah kemejaku sekuat tenaga dan berteriak, “KEMBALIKAN CALLISTAKU!”

“Maaf Ibu tidak boleh melakukan ini, Ibu akan menganggu proses penyelidikan kami…”

Bu Mia tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu dengan mendengar perkataan polisi tersebut. Wajah dan tanganku habis terkena cakarannya. Apakah aku bisa melaporkannya karena tindakannya barusan? Entahlah, sejenak kupikir apa kesalahanku sehingga harus mengalami ini semua.

Baiklah, akan kujelaskan apa yang terjadi padaku hari ini. Kesialan beruntun yang kurasa tidak bisa kuhadapi. Kalian bisa membayangkan bagaimana rasanya diusir dari kelas dan tidak diberikan kesempatan mengumpulkan tugas yang telah kau kerjakan mati-matian? Kurasa duniaku akan runtuh begitu saja. Waktu yang kuhabiskan sepanjang malam untuk mempelajari materi dan mengerjakannya rasanya sia-sia. Ditambah lagi dalam keadaan yang sangat berantakan itu dengan terpaksa aku berjalan pulang menuju kamar kostku dan ternyata sesampainya di sana aku tengah dicurigai sebagai pencuri dua ekor kucing berjenis british shorthair yang salah satunya milik Bu Mia, ibu kostku. Teman Bu Mia menitipkan kucingnya yang berjenis sama kepadanya dan akhirnya kedua kucing itu, termasuk miliknya hilang.

“Sepanjang hari aku hanya berada di kamar, belajar hingga larut karena ada kelas penting dan tugas yang harus dikumpulkan.”

“Ada yang bisa membuktikan alibimu itu?”

Sialnya tidak ada.

“Kau bilang ada kelas penting hari ini, kenapa jam segini kau sudah pulang?”

Rasanya aku telah dibunuh dua kali. Apakah aku juga harus menjelaskan kesialan tidak masuk kelas yang terjadi hari ini padanya?

“Aku sungguh tidak mengerti kenapa kau mencurigaiku. Apa motifku untuk mencuri kucing-kucing itu? Memegangnya saja aku tidak berani Pak,” ucapku tegas sambil kemudian menghela napas panjang.

“Dari seluruh penghuni kamar kost di gedung ini, hanya tiga orang yang sudah kembali sementara penghuni lainnya belum kembali dari liburan semester mereka. Dua orang lainnya sudah kami periksa alibinya dan mereka tidak mencurigakan. Hanya kau seorang yang tidak bisa membuktikan bahwa kau benar-benar berada di kamarmu saat itu. Ditambah menurut kesaksian Bu Mia, ia pernah mendengar kau bertengkar perihal duit saat bertelpon. Apakah kau mencuri kucing itu dan menjualnya karna butuh uang?”

Apakah hidupku adalah lelucon? Baru saja aku merasa duniaku runtuh karena telat menghadiri kelas hukum pidana dan sekarang aku terlibat kasus pidana? Lelucon ini harus segera kuakhiri.

“Bukti. Kau punya bukti aku mencuri dua ekor kucing itu?”

Dering telpon berbunyi, panggilan dari Ibuku yang tampaknya sudah mendengar entah dari siapa kasus ini. “Kau? Kau dituduh mencuri?” ucapnya begitu ku angkat telfon darinya.

Belum sempat kujawab pertanyaannya, ia melanjutkan, “Jangan katakan apapun. Ibu akan mengirim pengacara kenalan ibu, jadi jangan lakukan apapun.”

“Tapi aku tidak mencur-“ balasku tetapi sambungan telpon terputus.

Sungguh menyedihkan. Tidak ada yang mempercayaiku, bahkan keluargaku sendiri. Setelah kupikir-pikir, aku tidak pernah benar-benar mempunyai pilihan. Tidak ada pilihan A atau pilihan B untukku yang besar di keluarga hukum. Apapun yang terjadi aku harus menjadi petugas hukum. Aku sendiri tidak yakin apa yang sebenarnya kuinginkan dalam hidup ini karena aku bahkan tidak pernah memikirkannya.

“Kutegaskan sekali lagi, aku adalah mahasiswa hukum, calon petugas hukum yang tidak punya waktu untuk mencuri kucing yang bahkan tidak bisa kupegang karena aku alergi bulu kucing. Apakah kalian tidak mempertimbangkan orang luar atau mungkin dua kucing itu melarikan diri?”

“Oke, bagaimana kau menjelaskan ini… ada bulu kucing di depan pintumu?”

Tamat sudah. Permainan berakhir. Mungkin inilah akhirku. Entah bagaimana, bulu-bulu kucing itu menyebar di penjuru kamarku setelah dilakukan pemeriksaan keseluruhan dan bodohnya baru kusadari mengapa malam itu aku bersin terus menerus. Bagaimana kebenarannya dan apa yang sebenarnya terjadi? Aku sendiri tidak tahu. Tetapi, yang pasti ada jaksa yang akan mendakwaku di pengadilan.

Dan kau tau apa yang selanjutnya terjadi? Bu Mia yang tidak terlihat batang hidungnya tiba-tiba saja di tengah-tengah proses persidangan, ia berlari sambil membawa dua ekor kucing dan berteriak “CALLISTAKU KEMBALI DAN JUGA MOMO!”

Aku yang sedang duduk di kursi terdakwa hanya menghela napas panjang tidak tahu harus berekspresi apa melihat itu. Hidupku memang sebuah lelucon seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Ingin tahu kebenarannya? Dua kucing itu jelas melarikan diri. Bu Mia tidak menutup rapat jendela atasnya, kedua kucing itu memanjat dan melarikan diri.

Sementara itu, alasan mengapa bulu-bulu mereka menyebar di kamarku adalah karena aku yang tidak menyadari bahwa pintuku tidak tertutup rapat. Aku juga sempat ketiduran sebentar pada pukul 1 dini hari sehingga tidak mengetahui keberadaan kedua kucing itu yang sempat singgah ke kamarku karna mencium bau ikan salmon di meja makan dan memakannya. Setelah kenyang dengan dua gigitan ikan salmon, kedua kucing itu pun keluar dari kamarku dan pergi cukup jauh dari gedung kost milik Bu Mia sampai akhirnya ditemukan oleh seorang wanita yang juga menyukai kucing sehingga ia merawatnya. Dua hari kemudian, wanita itu melihat postingan Bu Mia di media sosial tentang pencurian kucing, ia pun langsung menghubunginya. Apakah sampai sini sudah jelas?

Di film Enola Holmes yang kutonton, dikatakan bahwa kita bisa memilih dua jalan, jalanmu sendiri atau jalan yang dipilihkan untukmu. Karena aku tidak pernah memikirkan pilihan pertama, entah mengapa setelah duduk di pengadilan keinginanku menjadi petugas hukum lebih kuat. Aku tidak pernah punya jalan sendiri, tapi jalan yang telah dipilihkan untukku juga tidak buruk-buruk amat. Tidak kusangka, hari terburuk dalam hidupku berubah menjadi hari dimana aku menjadi sangat yakin ingin terjun ke dunia hukum dan bertekad tidak ada lagi lelucon seperti ini yang terjadi kepada siapapun.

Leave a comment