Annisa Van Rizky

“Itu yang kusuka dari air putih. Kesegarannya akan membersihkan pikiranmu dari semua kebingungan. Dan membantumu memulai dari lembaran yang baru. Semua itu tak tergantikan ketika dia mengalir dalam tubuhmu.” – Hal. 125                                          

Pijar, Medan. Katarsis merupakan novel pertama karangan Anastasia Aemilia bergenre psychology thriller yang terbit pada 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama. Kemudian cetakan keduanya pada tahun 2019 dengan pembaharuan desain dan ilustrasi sampul baru, yaitu nuansa warna merah sangat mewakili isi cerita yang tampak lebih menarik. Novel setebal 261 halaman ini memiliki versi atau terjemahannya dalam bahasa inggris yang berjudul ‘Catharsis’.

Menurut KBBI, katarsis mengandung tiga arti yaitu antara lain, Kris penyucian diri yang membawa pembaruan rohani dan pelepasan dari ketegangan; Psi cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas; Sas kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.

Dalam psikologi yang dilansir dari Pijarpsikologi, katarsis berarti menuangkan segala isi hati dengan bebas dan salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk mengungkapkan emosi yang sedang dirasakan. Setiap orang tentulah berbeda cara melepaskan emosinya seperti ada yang berteriak, berkeluh kesah di media sosial, berolahraga, menari, bernyanyi, dan sebagainya. Selain itu, adapula yang melakukan katarsis dengan cara yang buruk atau berlebihan yaitu ketika seseorang melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri atau merugikan orang lain.

Novel katarsis ini menggunakan sudut pandang orang pertama “aku” dalam kedua tokohnya, yakni Tara dan Ello. Kedua tokoh ini diceritakan mengalami gangguan kepribadian, di mana keduanya menunjukkan perilaku anti-sosial ataupun psikopat. Oleh karena itu, penyimpangan perilaku tersebut menyebabkan banyak tragedi pada orang-orang disekitar mereka.

Cerita semakin menarik untuk dibaca setelah mengetahui, Tara dan Ello dikisahkan menjalin asmara. Sebuah kengerian tercipta ketika mengikuti kisah sepasang kekasih psikopat diikuti dengan berbagai tragedi yang ditimbulkan oleh mereka di dalam novel ini.

Tokoh ‘Tara’ menunjukkan keanehan perilaku sejak kecil. Dia sudah terlihat berbeda dari anak kecil pada umumnya, melihat bagaimana Tara mengekspresikan emosinya dengan cara yang salah.

Hubungan dengan orang tuanya juga tidak harmonis. Bagaimana ia sangat membenci kedua orang tuanya sejak menamainya ‘Tara’, memanggil kedua orang tuanya hanya dengan nama. Hingga ia pernah mendorong seorang bocah lelaki karena kesal saat bermain bersama, membuat kepala bocah tersebut terbentur tepian kotak pasir yang cukup keras dan darah mengalir di kepalanya. Tara sudah melakukan perilaku penyimpangan sedari kecil dan berlanjut hingga ia beranjak dewasa.

Alur cerita ini berpusat pada Tara yang berusia delapan belas tahun yang menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung, di mana kejadian tersebut menewaskan anggota keluarganya antara lain, ayah, paman, bibi dan kakak sepupunya. Sementara itu, Tara ditemukan disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat.

“Tubuhku meringkuk di dalam kotak perkakas yang lebarnya tak lebih daripada kandang anjing. Kedua tanganku diikat menggunakan borgol plastik yang ditemukan di laci dapur, hingga pembuluh darahku nyaris mati. Kepalaku dipaksanya menunduk begitu dalam, dan kakiku ditekuk hingga lututku terantuk dahi. Tubuhku tak bisa bergerak. Aku bahkan tak bisa merasakan jemariku sendiri.” – (Hal.9)

Polisi menduga pelakunya adalah sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan. Tokoh ‘Alfons’ sebagai psikiater berusaha membantu Tara lepas dari trauma yang menghantuinya dan bersamaan dengan itu muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang tampaknya memiliki keterkaitan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara.

Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam? .“Apakah aku jahat? Mungkin. Apa aku tak punya sisi baik? Kau yang memutuskan” (Hal. 80).  Semua misteri tentunya dapat kita ketahui saat membaca tuntas novel ini.

Novel katarsis sangat direkomendasikan khususnya untuk kamu yang menyukai genre crime, psychology thriller dan gore. Jika bukan penikmat genre tersebut, akan menjadi sebuah tantangan tersendiri ketika membaca buku ini karena, di setiap halamannya dapat membuat kamu bergidik dengan kengerian dan adegan-adegan sadis didalamnya. Sedangkan, untuk kamu yang menyukai genre tersebut, novel karangan penulis lokal ini tidak boleh kamu lewatkan, apalagi sangat jarang kita temukan penulis Indonesia menyentuh genre ini.

(Editor: Lolita Wardah)

Leave a comment