Hits: 117

Aisha Tania Sinantan Sikoko

Pijar, Medan. Tahun ini umat Buddha kembali merayakan Hari Raya Waisak. Di Indonesia sendiri, perayaan Hari Waisak berpusat di Candi Borobudur. Tetapi seperti pada tahun sebelumnya, para umat Buddhis masih belum dapat berkumpul ramai dalam memeriahkan perayaan ini. Namun, hal itu pun tidak mengurangi nilai dari Hari Raya Waisak sebagai salah satu dari empat hari besar agama Buddha.

Hari Raya Waisak di Indonesia tahun ini jatuh pada tanggal 26 Mei. Tahun lalu Hari Waisak ditetapkan pada 7 Mei. Perayaan Waisak sendiri menggunakan kalender yang berbeda. Sehinguga tidak heran jika tanggal dan bulannya selalu berubah, namun selalu jatuh antara bulan Mei hingga awal Juni kalender Masehi.

Penyebutan Hari Raya Waisak juga biasa diikuti dengan penulisan tahun yang asing, seperti tahun ini adalah Hari Raya Waisak 2565 BE. BE merupakan singkatan dari “Buddhist Era” yang berarti era Buddha. Sedangkan angka 2565 merupakan tahun berdasarkan perhitungan yang dimulai dari tahun saat Buddha meninggal dunia pada 543 SM hingga sekarang sudah mencapai tahun ke 2565.

Hari Raya Waisak atau Tri Suci Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha sebelum dan sesudah menjadi seorang Buddha. Di mana peristiwa penting pertama saat Pangeran Sidharta Gotama lahir ke dunia di Taman Lumbini, Nepal di bulan Waisak pada tahun 623 SM.  Peristiwa penting kedua saat Pertapa Gotama mencapai penerangan sempurna di Hutan Uruvela di bawah pohon bodhi ketika berusia 35 tahun pada 588 SM. dan peristiwa penting ketiga yaitu ketika Buddha mencapai Parinibbana atau meninggal dunia di Kusinara pada 543 SM saat berusia 80 tahun. 

Buddha sendiri adalah sebuah gelar dan ketika berhasil mencapai penerangan sempurna, Sidharta Gautama menjadi seorang Buddha yang juga Guru Agung Umat Buddha. Buddha menyebarkan dan mengajarkan Dhamma, ajaran Buddha.

Peralaksanaan Hari Raya Waisak bertujuan untuk mengajak umat Buddha merenungkan kembali perjuangan Buddha Gautama. Beliau yang terlahir sebagai pangeran melepaskan hal-hal duniawi atas kemauan diri untuk mencari sesuatu yang hakiki.

Kevincent, umat Buddha asal Medan berbagi rasa bahwa perayaan Hari Waisak baginya memiliki makna yang mengarah pada inti ajaran Buddha. “Dalam ketiga kisah peristiwa penting tersebut ada makna, artinya terdapat sebuah kesimpulan dari inti sari ajaran Buddha yaitu perbanyaklah kebajikan, sucikan hati dan pikiran, inilah inti ajaran Buddha,” ucap Kevincent.

Kemudian Fanny, umat Buddha asal Medan lainnya juga menyampaikan makna Hari Waisak bagi dirinya. “Makna waisak tersendiri bagi saya adalah sebagai wujud penghornatan kepada Sang Buddha yang telah mengorbankan segalanya untuk dapat mencari obat mengatasi dukkha (penderitaan) dan yang paling penting adalah bagaimana kita menerapkan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari dan melestarikannya,” jelas Fanny.

Fanny dan Kevin juga turut menyampaikan harapan yang sama agar semua bersatu dalam menghadapi pandemi ini. “Semoga di hari suci ini dapat dijadikan pengingat untuk saling membantu dan berbagi di masa pandemic. Serta semoga dapat dijadikan momen bagi umat Buddha untuk dapat merenungkan kembali segala perbuatan yang telah dilakukan dan bertekad untuk melakukan lebih banyak lagi kebajikan,” ujar Fanny.

“Semoga dengan memperingati hari suci waisak tahun ini, kita bisa lebih bergotong royong dalam kesadaran menghadapi pandemi agar bisa cepat melewatinya,” harap Kevincent.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment