Anggi Yessika Situmorang

Pijar, Medan. Perasaan marah, kecewa, dan sedih terkadang tidak semua orang bisa meluapkannya secara blak-blakan. Entah keadaannya sedang tidak bersahabat kala itu atau memang kita takut salah dalam mengekspresikan perasaan-perasaan yang justru akan menciptakan masalah baru. Hasilnya, acap kali kita terjebak dalam rasa dilema ketika ingin meluapkan perasaan yang kemungkinan akan menyakiti hati orang lain atau menahannya kemudian akan mengorbankan diri sendiri yang tersakiti.

Dikutip dari halodoc.com, menahan emosi akan menyebabkan peningkatan hormon stres yang akhirnya memicu gangguan baik dari segi kesehatan maupun mental, misalnya depresi. Menyadari hal itu, Sony Adams meluncurkan buku yang berjudul Rusak Saja Buku Ini sebagai salah satu media penyalur emosi. Pemilihan judul yang terbilang unik dan anti mainstream, membuat para penikmat buku penasaran dengan isi yang disajikan.

Tak hanya judulnya yang membuat kita mengerutkan dahi, tetapi dari halaman pertamanya saja sudah disodori dengan kotak-kotak untuk menuliskan data pribadi dengan beragam perintah. Kemudian kita akan mendapati instruksi-instruksi yang unik bin eksentrik, seperti memenuhi halaman dengan coretan tinta hitam, memenuhi halaman dengan injakan sepatu, dan masih ada 178 perintah dan tantangan lagi yang menanti untuk kita selesaikan.

Rusak Saja Buku Ini bukan seperti buku yang berisikan penggalan narasi pada umumnya yang bertujuan untuk dibaca. Melainkan buku ini diciptakan untuk mengarahkan pembacanya dalam mengekspresikan emosi kepada hal-hal yang lebih produktif dan konstruktif, seperti salah satunya dengan merusak buku tersebut. Jika membaca artikel dengan topik depresi atau kesehatan mental maka hampir semuanya akan memberikan cara untuk mengatasi rasa depresi itu salah satunya dengan menulis segala unek-unek dalam jurnal maupun diary. Sama halnya dengan Rusak Saja Buku Ini yang berusaha memfasilitasi hal itu.

Salah satu instruksi yang unik dari ‘Rusak Saja Buku Ini’ (Fotografer : Anggi Yessika Situmorang)

Mungkin masih menjadi pertanyaan, mengapa buku ini diciptakan hanya untuk dirusak padahal membelinya pun harus mengeluarkan uang? Namun mengapa tidak? Membeli buku ini merupakan suatu penolong sekaligus wadah untuk mengurangi stres. Membayar uang serupa, tidak sebanding dengan meluapkan emosi kita dengan benda bahkan orang lain yang nantinya akan menimbulkan masalah lagi dan lagi. Dengan mengikuti segala instruksi yang ada, diharapkan pada akhirnya mampu memberikan rasa lega kepada para pembaca. Namun bila perintah tersebut malah membuat kita semakin stres, maka lebih baik hancurkan saja buku ini. Dengan demikian, stres baru yang disebabkan oleh buku Rusak Saja Buku Ini pun akan ikut sirna juga.

Misi hebat dari buku ini tidak sampai itu saja, di halaman penutupnya kita akan diberi dua pilihan, pertama mengubur buku ini di depan rumah, lalu memasang waktu pengingat untuk menggalinya lagi dalam 2 tahun mendatang seperti menjadikannya kapsul waktu atau membungkus buku ini kemudian dipaketkan untuk diri kita sendiri. Namun pilihan ini berlaku jika kita sudah menyelesaikan segala perintah dalam buku tersebut. Tujuannya satu, yaitu agar di masa mendatang kita akan memiliki kenangan yang bisa disentuh ataupun dibawa sebagai bukti bahwa kita pernah melakukan hal-hal yang luar biasa demi mengalahkan beban yang pernah berkutat di dalam pikiran kita.

Hadirnya karya Sony Adams kali ini membuat banyak pembaca merasa sangat terbantu sehingga mereka lebih bisa mengatur emosinya dengan baik. Buktinya, karyanya ini sangat laris dipasaran bahkan sudah meluncurkan sekuel Rusak Saja Buku Ini edisi 2 yang diterbitkan pada bulan November 2020 lalu. Namun ada dari mereka yang merasa belum bisa terbantu dengan hadirnya buku ini karena memang emosi yang besar itu sulit dihilangkan dengan cepat tetapi setidaknya sudah mencoba mengalihkannya kepada hal yang positif.

(Editor: Lolita Wardah)

Leave a comment