Hits: 95
Deswita
“Emosi kita itu kompleks karena manusia itu pun juga kompleks. Semua emosi yang manusia rasakan adalah valid, bagian dari realita yang perlu diterima sebagai bentuk pertumbuhan diri” – Viola Amelia
Pijar, Medan. Hingga saat ini banyak orang yang menganggap bahwa berpikir positif dapat membantu seseorang untuk mengurangi rasa down. Hal itu memang benar, namun kita juga harus tahu batasannya.
Pada situasi dan kondisi tertentu, selalu berpikir positif pun dapat menyebabkan adanya toxic positivity yang justru malah membuat seseorang yang sedang mengalami permasalahan jadi lebih ingin menghindarinya, daripada harus menghadapinya. Tanpa disadari, adanya toxic positivity ini seakan memaksa kita untuk terus positif dan menghindarkan emosi yang sebenarnya kita rasakan.
Membahas persoalan toxic positivity, pada hari Rabu (7/4), Cahaya Bangsa Classical School mengadakan webinar yang berlangsung pada pukul 13.15 WIB-selesai. Webinar ini dilaksanakan melalui Zoom meeting dan Live Streaming Youtube pada channel Sam Michael Nugraha Situmorang.
Webinar yang bertajuk “Toxic Positivity” ini menghadirkan 2 pemateri sekaligus, yaitu Viola Amelia dan Sella Giovani yang keduanya merupakan Bachelor of Psychology. Diadakannya webinar “Toxic Positivity” ini juga sebagai arahan untuk para remaja, agar mereka dapat mengetahui apa itu itu toxic positivity dan dapat mengubah toxic positivity menjadi true positivity.
Viola Amelia selaku pemateri mengatakan bahwa tentu ada perbedaan antara toxic positivity dengan true positivity, yaitu jika true positivity seseorang akan mengakui emosi negatif dalam dirinya (tidak ada penolakan/penyangkalan). Sedangkan toxic positivity merupakan seseorang yang mengurangi intensitas negatif dalam dirinya (ada penolakan dan penyangkalan).
“Obat dari toxic positivity adalah jangan judge dahulu, tetapi dengarkan dahulu. Masalah dari adanya toxic positivity sendiri adalah penilaian yang begitu cepat dan over generalization,” jelas Viola.
Hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi bahkan meniadakan toxic positivity, kita dapat berlatih melalui bahasa atau kalimat yang akan kita ucapkan, misalnya kita terbiasa bilang “kamu kuat, kamu pasti bisa melewati ini”, ganti dengan respon yang true positivity dengan “aku tahu kamu masih merasa terluka dan ini adalah hal yang sulit bagimu, tetapi aku ada disini untuk mendukungmu melewati ini.”
“Kita bisa cari tau solusi, dengan menerima masalah di awal. Semua perasaan yang kita punya itu wajar, tidak perlu merasa manusia yang paling aneh dan paling bersalah,” tegas Viola di akhir sesinya.
(Editor: Erizki Maulida Lubis)

