Hidayat Sikumbang

Aku mulai menyalakan lagu Menghapus Jejakmu yang dinyanyikan Peterpan. Volumenya aku kecilkan sedikit, agar seluruh pengunjung kafe tidak merasa terganggu dengan suara Ariel yang serak-serah basah. Berbeda dengan teman-teman pemilik kafe yang lain, aku lebih nyaman menyalakan musik dengan lagu-lagu 2000an. Weekend ini, suasana pengunjung kafe lumayan padat di saat pagi. Anak-anak kuliahan terkadang memanfaatkan suasana kafe ini untuk webinar daring. Bapak-bapak dengan koleganya biasanya duduk di lantai atas. Sedangkan muda-mudi lebih memilih lantai bawah, konon katanya tempatnya estetik. Di antara banyak pengunjung yang singgah, aku hafal pesanan Isnin. Mba-mba yang konon katanya kuliah di kampus dekat sini. Pesanannya sederhana, Caramel Macchiato. Tidak terlalu manis dan lebih senang disajikan dengan gelas dibandingkan cup.

“Mas, nyalain lagu Pamungkas dong, yang I love you but I’m lettin’ go,” pintanya. Aku tak menjawab. Tanganku langsung menggapai laptop yang hanya bisa dibuka untuk Mozilla Firefox dan Microsoft Office doang. Kubuka kanal Youtube, dan langsung kucari lagu Pamungkas sesuai permintaan.

As you wish, Princess,” ucapku. Ia kemudian tersenyum kecil. “Nanti bikin satu album Pamungkas saja ya, Mas. Atau kalau misalnya bosan ya nyalain aja lagu The Script,” pintanya lalu meninggalkanku dan bergegas ke lantai atas.

Tumben, tidak biasanya Mba Isnin ke sana. Meja favoritnya yang biasa ia tempati padahal belum ada yang menghuni sama sekali. Namun, aku tak mau ambil pusing. “Mungkin ia mau mencari suasana baru,” gumamku dalam hati.

Aku mengantarkan Caramel Macchiato kesukaannya. Pandangannya tampak kosong. Sesakali kepalanya mendongak ke atas, menatap kipas angin yang berputar pelan.

“Di sini boleh merokok, mas?” suaranya terdengar pelan.

Aku mengangguk, “Boleh. Is everything okay, Mbak Isnin?”

Ia diam seribu bahasa. Aku tahu, suasana pasti memang sedang tak baik-baik saja. Rokok yang sedari tadi tersimpan di kantung celananya kemudian ia buka. “Ada korek, ngga mas?”

Aku kemudian menyalakan rokoknya. Hisapan demi hisapan dari mulut mungilnya seakan memberi isyarat bahwa ini bukanlah pertama kalinya ia menghisap rokok.

“Kamu tutup jam berapa, Mas?”

“Malam, kayak biasa Mbak Isnin. Emang ada apa Mbak?”

“Kafe lagi rame ya, Mas?” tanyanya lagi.

“Kalau di jam segini sih, pelanggan baru mulai berdatangan sih, Mbak. Mbak masih perlu koreknya?”

Ia tak menggubris, tapi seakan-akan raut wajahnya memang memberi bukti bahwa ia sedang menjalani hari yang berat. Aku pun kemudian meninggalkan korek tersebut, dan berlalu meninggalkannya.

Pelanggan kafe terlihat mulai berdatangan. Antrean mulai memanjang. Lagu-lagu Pamungkas satu album yang sedari tadi menyala mulai berakhir. Aku pun menuruti permintaan selanjutnya dari Mbak Isnin. Tanpa ragu, aku mulai menyalakan lagu The Script yang satu album penuh. Lagu pertama dimulai dengan judul The Man Who Can’t be Moved. Ketika hendak mengantarkan pesanan di meja atas, aku pun kemudian melihat Mbak Isnin ikut berdendang. Mulutnya tampak mengikuti lirik yang sedang bermain.

“Hey!” teriaknya padaku.

Aku menoleh.

“Ini, korekmu,” ucapnya pelan. Aku mengambil korek tersebut dari tangannya.

“Aku tambah Caramel Macchiato tapi yang panasnya, segelas. Boleh?”

“Siap, laksanakan kapten!” aku memberi hormat, selayaknya Sersan Satu mendapatkan mandat.

Aku kembali ke lantai bawah, pelanggan lain terlihat berdatangan. Dari mulai ibu-ibu yang mengantre bersamaan dengan pasukan arisannya hingga anak-anak kuliahan yang hanya memesan es teh manis namun duduknya bisa sampai petang. Sesekali ada banyak protes-protes yang mereka sampaikan. Dari mulai Wi-Fi yang lemot, hingga kenapa di kafe ini hanya tersedia minuman saja. Pesanan Matcha tersebut telah selesai. Aku mengantarkan dan dibalas dengan senyuman yang sama lagi. Mbak Isnin tampak menikmati lirik-lirik dari lagu Breakeven ini.  “‘Cause I got time while she got freedom. ‘Cause when a heart breaks no it don’t breakeven,” ucapnya sambil mengikuti lagu tersebut.

Aku kembali ke bawah. Sekitar pukul empat sore, Mbak Isnin tampak mulai menuruni tangga. Ia sudah berkemas. Dengan raut wajah seperti seorang wanita yang baru saja selesai berperang dengan isi hatinya sendiri, langkah Mbak Isnin tampak gontai menuruni anak tangga.

“Berapa, Mas?”

“Nggak usah, Mbak,” ucapku padanya.

“Loh, kenapa gitu? Kan Mas di sini bekerja.”

“Mbak, entah kenapa rasanya saya ngerasa kalau dunia Mbak sedang nggak baik-baik saja. Mungkin memang dunia ini nggak adil, Mbak. Saat kita sedang terluka, orang-orang masih tetap nongkrong, ketawa-ketiwi. Dunia akan tetap berlanjut meski dunia kita sedang runtuh. Itulah, kenapa. Mungkin saya cuma bisa kasih minuman. Tetapi percayalah, Mbak. Ada satu-dua orang yang mencoba hadir di sisi Mbak untuk saat ini.”

Aku mengembalikan selembar uang seratus ribu ke tangannya yang tadi ia taruh di atas meja. Senyum mulai tersirat dari raut wajahnya yang tadinya sayu. Aku membuka dompet. Meninggalkan kartu nama berwarna yang hanya berisikan nama, alamat email, dan nomor handphone-ku dengan format font Times New Roman. Sebenarnya, kartu nama ini sudah menahun di dompetku, tak pernah terpakai. Dahulu kubuat waktu baru lulus SMK. Kucetak ratusan lembar. Tak pernah terpakai, tetapi akhirnya berguna juga.

“Mbak nanti kalau butuh teman cerita, bisa hubungin aku ya. Itu sekalian nomor Whatsapp juga. Tenang, aku jomblo kok, Mbak. Ga akan ada yang marah kalau Mbak hubungin,” candaku lagi.

Ia mengambil kartu nama tersebut. Senyum kecil itu terpancar lagi. “Manggala Hatta. Indah namanya. Makasih ya,” jawabnya kemudian berlalu pergi sambil memerhatikan kartu nama yang tadi kuberi.

Sepeninggal Mbak Isnin. Aku masih berkutat di meja barista ini. Langit luar tampak mulai kelam. Bukan karena malam sudah beringsut menjelang, tetapi juga hujan mulai turun. Deru petir semakin berkecamuk. Hingga hari menunjukkan pukul 11 malam, pengunjung satu per satu mulai pergi.

Lagu Gelang Sipaku Gelang aku nyalakan sebagai pertanda bahwa kafe sudah hendak tutup. Kafe pun sudah mulai kosong. Setelah mengurusi berapa pemasukan hari ini, aku pun kemudian mematikan seluruh listrik yang menyala, mengunci apa saja yang harus dikunci, dan menutup kafe ini. Kota Bandung yang dingin ditambah seisi kota telah basah diguyur hujan membuat tubuhku menggigil sampai tulang.

Setibanya di rumah, hari telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Kulihat gawai ponselku, 5 panggilan tak terjawab dari nomor yang tak kukenal, ditambah 1 pesan Whatsapp yang cukup panjang.

“Hai, masih sibuk di kafe ya? Aku yang tadi. Iya, ini Isnin. Sudah cukup lama orang tidak memanggil namaku dengan itu dengan nama lengkapku. Maaf kalau pesan ini mungkin jadi obrolan pertama dan terakhir kita. Mungkin kalimatmu tadi memang benar kalau dunia memang tidak adil. Orang-orang yang kusayang pergi, bahkan orang yang paling aku cintai justru malah bermain hati dengan sahabatku sendiri. Aku tidak tahu ingin menyampaikan pesan ini kepada siapa, tapi terima kasih telah hadir untukku. Terima kasih telah setia membuatkan Caramel Macchiato yang terenak untukku. Terima kasih telah memberikan minuman yang enak tadi untukku secara cuma-cuma. Aku tak tahu, apakah aku akan bisa menikmati kopi seenak punyamu di alam yang lain nantinya. Sampai jumpa di waktu yang lain, Manggala Hatta.”

Hatiku terenyuh. Aku tak tahu harus bagaimana. Pandanganku tiba-tiba nanar. Penuh rasa bersalah. Penyesalan membuncah. “Manggala Hatta, kenapa tadi tidak mau duduk sebentar mendengar ceritanya sebentar,” gumamku dalam hati. Ribuan penyesalan yang tidak akan lagi ada gunanya. Penghuni meja pojok kiri itu tidak akan lagi bekunjung. Aku mengambil korek yang tadi dipakai Mbak Isnin. “Terima kasih, setidaknya tadi kamu telah mewakili kehadiranku untuk yang terakhir kali,” ucapku dalam hati seraya menghisap rokok dengan setitik rasa penyesalan. Mbak Isnin telah pergi, tepat di hari Senin tengah malam tadi.

Leave a comment