Wakil Bupati Tapanuli Selatan Angkat Bicara Soal Kopi Mandailing

Sumber foto: Instagram Madina Kopi Bareng

Dira Claudia Bahroeny

Pijar, Medan. Setiap penikmat kopi pasti sudah tidak asing lagi dengan varian kopi Arabika khas Mandailing Natal. Perpaduan dari sedikit rasa asam dan aroma yang nikmat, membuat kopi ini diminati oleh banyak orang. 

Berkaitan dengan hal tersebut, Madina Kopi Bareng (Makobar) kembali mengadakan diskusi dengan tajuk “Cerita Kopi Mandheiling Kini” pada Selasa (23/03) pukul 20.15 WIB, melalui Zoom meeting dan disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Makobar Indonesia.

Pada episode kedua ini, Syafruddin Pohan selaku moderator dan juga Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara membawakan diskusi dengan mengundang Rasyid Assaf Dongoran yang merupakan pelaku pendamping petani kopi dan Hamdani Harahap selaku pengamat kopi. Adapun pembanding pada diskusi ini, yaitu Said Tanjung sebagai Ketua Asprindo Medan dan owner Nanggroe Kopi.

Di tengah kesibukannya sebagai Wakil Bupati Tapanuli Selatan, Rasyid Assaf mengaku masih menyempatkan diri untuk terus mendampingi para petani kopi. “Satu literatur FAO (Food and Agriculture Organization) mengatakan sesungguhnya kopi Mandailing bukan membicarakan tentang geografisnya. Tapi ia bicara bahwa kopi Mandailing adalah sebuah merek,” ujar Rasyid Assaf membuka diskusi. 

Rasyid Assaf Dongoran selaku pelaku pendamping petani kopi saat berdiskusi di MAKOBAR Selasa (23/03). (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Mengenai indikasi geografis terhadap kopi Mandailing, sebenarnya sudah ada sertifikasi dari Kementerian Hukum dan HAM yang dikeluarkan pada 16 Desember 2016. Sertifikasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menjamin kualitas produk indikasi geografis sebagai produk asli, sehingga dapat terhindar dari kecurangan. “Jadi tidak bisa lagi bibitnya dari Mandailing, kita tanam di Aceh, pegunungan Bromo, atau Jember, lalu mereka jual kopi Mandailing,” Rasyid Assaf menegaskan. 

Hamdani Harahap sepakat bahwa apapun yang berkaitan dengan kearifan lokal harus diusahakan bersama. Belakangan terdapat fakta, bahwa terjadi penururan harga kopi lokal yang menguntungkan para eksportir luar negeri. Ia percaya dengan menggiatkan sosialisasi pada generasi muda untuk mengonsumsi kopi original akan membantu harga kopi untuk kembali naik.

“Perubahan itu harus kita yang melakukannya. Kita harus mulai sekarang menyarankan orang minum kopi yang benar, yang original. Maka kopi di level lokal akan naik dan eksportir kopi dunia akan gigit jari melihatnya,” jelas Hamdani.

Di akhir diskusi, Rasyid Assaf berpesan bahwa kreativitas sangat diharapkan bagi generasi muda di Mandailing Natal. Poin penting lainnya adalah dengan giat berpikir, bekerja, konsisten, dan terus berinovasi. Dengan itu tidak hanya generasi muda yang diuntungkan, melainkan petani dan pemerintah juga.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *