Hits: 36

Tiara Al Medina

Pijar, Medan. Pernahkan kamu mengalami situasi di mana kamu banyak melakukan hal menyenangkan hari ini, tetapi pada hari berikutnya justru menimbulkan banyak dampak buruk?

Sebagai contoh, hari ini kamu menghabiskan waktu seharian untuk bersenang-senang dengan bersantai dan bermain media sosial, mungkin kamu merasa puas saat itu. Namun, pada hari berikutnya kamu merasa menyesal dan kewalahan karena harus mengejar ketertinggalan tugas-tugas yang seharusnya sudah diselesaikan pada hari sebelumnya.

Jika kamu pernah mengalaminya maka itu disebut sebagai borrowed happiness atau kebahagiaan yang dipinjam.

Borrowed happiness adalah istilah yang digunakan ketika seseorang meminjam atau mengorbankan sebagian kebahagiaan dari masa depan agar dirinya bisa merasakan kebahagiaan yang lebih banyak saat ini.

Akibatnya, kebahagiaan yang seharusnya bisa dinikmati di masa depan tidak lagi dapat dirasakan karena porsinya sudah diambil. Hal ini bisa membuat hidup seseorang menjadi lebih sulit di kemudian hari karena dirinya justru meninggalkan beban dan tanggung jawab yang seharusnya sudah diselesaikan di masa lalu.

Seorang pengguna media sosial X dengan nama pengguna @elisabetguwanto mengungkapkan bahwa konsep borrowed happiness hampir sama dengan instant gratification atau gratifikasi instan. Di mana seseorang cenderung ingin memperoleh kepuasan atau kenikmatan secara instan, tanpa menunda atau mengorbankan apa pun. Hal ini berimbas pada tindakan atau keputusan yang diambil tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang atau dampak negatif yang mungkin timbul.

Borrowed happiness ini seakan-akan menjadi gratifikasi instan yang sangat menggoda. Akan tetapi, borrowed happiness memberikan pemahaman yang menyadarkan kita bahwa kebahagiaan yang dirasakan saat ini sebenarnya hanyalah kebahagiaan yang dipinjam dari masa depan. Apabila terus dilanjutkan, kemungkinan masa depan menjadi semakin suram tidak dapat dihindari.

Dilansir dari situs web psikoterapis asal Hongkong hoffman-counseling.com, yang menjadi masalah terbesar ketika meminjam kebahagiaan dari hari esok atau masa depan adalah menyebabkan hari esok menjadi tidak bahagia.

Jika kebahagiaan yang dipinjam itu diperoleh dari mengonsumsi banyak makanan dan minuman manis, mungkin saat ini kamu merasa bahagia. Namun, pada masa mendatang, hal ini justru akan menimbulkan dampak buruk seperti munculnya penyakit diabetes yang membuat kamu harus mengonsumsi obat sepanjang hidup. Kebahagiaan berupa kesehatan yang seharusnya bisa dinikmati di masa depan, justru berkurang dan bahkan bisa tidak bisa lagi dirasakan akibat kebiasaan meminjam kebahagiaan dari hari esok.

Sama halnya ketika kamu menghabiskan banyak uang hari ini untuk membeli semua barang yang diinginkan. Meskipun saat ini kamu merasa sangat puas dan bahagia, tetapi kesenangan tersebut hanya bersifat sementara. Di masa depan kamu akan menyesal karena uangmu telah habis digunakan untuk membeli kebahagiaan instan.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik benang merah, yaitu apapun cara yang dilakukan seseorang untuk meminjam kebahagiaan sebenarnya hanya akan memperburuk hari esok atau masa depannya.

Ketika hari esok berubah menjadi hari ini, kesengsaraan yang dialami justru semakin mendorong seseorang untuk mencari kebahagiaan lagi. Namun, hal ini hanya membuat dirinya kembali meminjam kebahagiaan, kali ini dari hari esok yang baru. Dengan demikian, siklus ini terus berlanjut tanpa henti, layaknya sebuah lingkaran setan yang tidak bisa terputus.

Sejauh ini belum ada solusi ilmiah yang bisa mencegah kebiasaan borrowed happiness, meskipun peran dari seorang terapis atau psikolog mungkin bisa membantu memutus siklus tersebut.

Namun, kesadaran diri bisa menjadi solusi sederhana dan efektif untuk mengatasi permasalahan ini.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan membuat habits scorecard untuk membantu mengidentifikasi, mencatat, dan meningkatkan kebiasaan dengan memberikan skor pada setiap kebiasaan yang dimiliki. Selain itu, buatlah to-do list dan timeline untuk setiap pekerjaan yang harus dilakukan, serta gunakan meal tracker untuk mengawasi pola makan dan minum. Terakhir, lakukan journaling untuk merefleksikan segala hal yang telah dikerjakan. Bottom of Form

Dengan melakukan langkah-langkah tersebut kamu bisa meningkatkan kualitas hidupmu dengan menciptakan kebahagiaan yang lebih berkelanjutan tanpa harus membayar mahal di masa depan.

Oleh karena itu, jangan biarkan borrowed happiness membuatmu terjebak dalam siklus yang tak berujung dan merampas kebahagiaan jangka panjangmu.

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment