Perjuangan Pahlawan Perempuan

Sumber foto: https://m.tajuklombok.com/

Syarifah Natasyah Adelia / Jenni Sihombing

Pijar, Medan. “Ketahuilah oleh tuan-tuan bahwa perempuan itu sunting permainan dunia, tapi racun bagi siapa yang tak beriman”. Sepenggal tulisan yang memperjuangkan hak aspirasi perempuan.  Jejak perjuangannya telah membebaskan perempuan dari kesengsaraan pahitnya kebodohan karna keterbatasan pendidikan.

Pahlawan perempuan itu ialah Rohana Kudus, seorang pejuang pendidikan dan aspirasi perempuan. Meskipun Rohana tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali, gemar membaca dan belajar sendiri adalah hobinya yang semakin meningkatkan kompetensinya. Di masa kecilnya ia hanya fokus membagi semua ilmu yang ia miliki. Bahkan, Rohana Kudus tercatat dalam sejarah sebagai orang yang pertama kali mendirikan sekolah terbuka bagi Indonesia.

Rohana yang lahir di Koto Gadang Bukittinggi, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884 merupakan pahlawan perjuangan perempuan melalui tulisan. Rohana mempunyai motivasi besar untuk memperjuangkan pendidikan, terutama untuk kaum perempuan yang berada di tengah segelintir diskriminasi saat itu. Adat istiadat yang sangat kental masa itu membatasi perempuan untuk hal apapun terkhususnya dalam hal pendidikan.

“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang semuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” sebut Rohana dengan bijak.

Perjuangan yang dilakukannya bukan semata mata untuk melanggar kodratnya sebagai seorang perempuan. Namun lebih tepatnya untuk memperteguhkan fungsi alamiah perempuan itu sendiri. Perempuan sejati ialah perempuan yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan. Untuk itulah diperlukan pendidikan bagi perempuan.

Semangat Rohana Kudus yang semakin berkobar untuk memperjuangkan pendidikan perempuan Indonesia tercermin dari berdirinya perkumpulan Kerajinan Amai Setia yang memiliki tujuan meningkatkan derajat perempuan melalui pendidikan. Perkumpulan KAS (Kerajinan Amai Setia)  itu pun semakin besar, bahkan telah menjadi sebuah lembaga pendidikan dan keterampilan perempuan. Keterampilan yang dihasilkan di lembaga itupun berhasil dipasarkan.

Perjuangan Rrohana untuk menjunjung pendidikan perempuan tidak hanya berhenti di titik itu saja. Ia juga berjuang dalam dunia pers, bekerja sama dengan DT. ST. Maharaja yang merupakan pemimpin surat kabar Utusan Melayu di Kota Padang. Perjuangannya di dunia pers menjadi sebuah pembelaan besar terhadap perempuan dalam memperjuangkan hak haknya. Terbukti dengan perjuangan Rohana mendirikan surat kabar perempuan “Sunting Melayu” yang dipimpin langsung oleh Rohana Kudus.

Dari perjalanan dan perjuangannya ini ia dinobatkan sebagai jurnalis perempuan pertama Indonesia, yang kemudian pada tanggal 8 Desember 2019 Rohana kudus ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo. Keputusan ini didapat dari hasil pertemuan antara Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan dengan Presiden Joko Widodo pada Rabu, (6/11/19).

Dari perjalanan perjuangannya, bisa Sobat Pijar ambil pelajaran bahwa betapa pentingnya pendidikan bagi perempuan. Perjuangan Rohana Kudus yang meningkatkan derajat perempuan dan memperteguh fungsi perempuan sejati membuat tidak ada lagi kekerasan yang menjadikan perempuan sebagai korban.

(Editor: Rassya Priyandira)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *