Dira Claudia Bahroeny / Lolita Wardah

Pijar, Medan. Kondisi pandemi Covid-19 memberikan beban tambahan bagi lingkungan kita. Terjadi peningkatan limbah plastik yang berasal dari sektor rumah tangga, juga limbah medis seperti masker dan hazmat suit.

Isu tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi online bertajuk Pandemi Covid-19 dan Ekonomi Sirkular yang diadakan oleh AJI Jakarta pada Senin (11/01) melalui video conference Zoom meeting dan disiarkan secara live melalui kanal YouTube AJI Jakarta.

Adapun tujuan diselenggarakannya diskusi ini sebagai salah satu upaya untuk membumikan isu sampah plastik dan limbah medis, serta pengelolaan sampah untuk keberlanjutan ekonomi sirkular.

Diskusi ini mengundang F. Supadi selaku Ketua Tempat Pengelolaan Sampah Terpada (TPST) Reduce, Reuse, Recycle (3R) Mulyoagung Bersatu, Ujang Solihin Sidik selaku Direktorat Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kehutanan (KLHK), serta Elina Ciptadi selaku co-founder Kawal Covid-19.

Meningkatnya bisnis online store selama pandemi berdampak langsung terhadap peningkatan jumlah sampah plastik di rumah tangga yang diakibatkan pemakaian kemasan plastik pada pengemasan dan pengantaran barang.

Hasil riset Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI 2020 menyatakan bahwa belanja online berbentuk paket meningkat 62% dan belanja online berbentuk layanan antar makanan siap saji meningkat 47%.

“Yang perlu dilakukan dalam circular economy adalah mengurangi kemasan produk yang tidak bisa didaur ulang,” ujar Ujang Solihin.

Dalam pemaparannya, Ujang Solihin menambahkan bahwa penting untuk menerapkan ekonomi sirkular, salah satunya adalah Design for Sustainability yang mencakup valuable, recyclable, reusable, refillable, returnable, durable, rechargeable, compatible, dan compostable.

Prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle juga diterapkan di Mulyoagung Bersatu yang dilakukan secara tradisional. Prinsip ini berhasil mengurangi sampah yang masuk di TPA minimal 60-80% dari masyarakat.

Berkaitan dengan hal tersebut, Elina Ciptadi menjelaskan bahwa pemungut sampah rentan untuk terpapar virus Covid-19. Penggunaan suplai sekali pakai seperti masker meningkat, kemudian terdapat masalah sampah yang tidak dipisahkan dan dikelola dengan benar. Resiko ini semakin besar dengan kurangnya health-seeking behaviour para pemungut sampah.

Upaya yang dapat dilakukan adalah mendatangkan mobile testing unit ke kampung padat penduduk dan tempat pengumpulan sampah.

“Ada baiknya bila secara berkala hal ini dilakukan, mengingat bahwa populasi ini adalah populasi yang kalau mereka merasakan gejala yang ringan, mereka tidak langsung ke dokter,” jelas Elina.

Pada diskusi ini dilakukan pula sesi tanya jawab seputar pembahasan yang telah disampaikan dan ditutup dengan pengumuman lomba karya jurnalistik yang diselenggarakan pada bulan Desember lalu.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

 

Leave a comment