Yang Tidak Ada di Film Perfume

Sumber : ebooks.gramedia.com

Icha Kumala Dewi / Aisha Tania Sinantan Sikoko

Pijar, Medan. Perfume merupakan salah satu novel fenomenal tahun 1985 yang ditulis oleh Patrick Suskind. Novel perdana Suskind ini berhasil mendapatkan pengakuan internasional dan sudah di filmkan pada 2006 dengan judul “Perfume: The Story of A Murderer”. Kisah berlatar abad ke-18 ini, menceritakan tentang kehidupan seorang Jean-Baptiste Greneouille sang jenius yang melakukan pembunuhan terhadap gadis perawan demi menciptakan parfum terbaik di dunia.

Kisah dimulai dari Kota Paris yang kotor dan bau, di mana lahir seorang anak bernama Greneouille yang dianugerahi Tuhan dengan kemampuan yang luar biasa oleh seorang wanita kejam yang telah membunuh empat bayi sebelumnya. Sejak lahir Grenouille telah dioper oleh satu ibu susu ke yang lainnya bahkan pendeta sekalipun tidak sanggup mengasuhnya. Kemudian ia dititip di sebuah panti asuhan Madame Gaillard, dibesarkan tanpa cinta dan kasih sayang. Setiap orang yang berada di dekatnya akan merasa tidak aman sehingga ia tidak memiliki teman dan lebih suka menyendiri. Greneouille mampu mencium dan menegaskan aroma apapun seperti aroma karakter dari setiap orang.

Greneouille yang telah tumbuh besar pun dijual kepada seorang penyamak kulit di mana ia dipekerjakan sebagai buruh secara brutal. Suatu ketika saat ia berjalan ke kota ia mencium aroma yang paling indah baginya. Sejak saat itu ia tak pernah melupakannya. Tak lama setelah itu ia menjadi murid seorang ahli parfum, Giuseppe Baldini yang hampir bangkrut dan Greneouille berhasil membawa Baldini pada kesuksesan yang tidak pernah diraih sebelumnya.

Greneouille yang telah puas berguru kepada Baldini akhirnya memutuskan untuk menambah ilmunya. Dalam perjalanannya ia tinggal hidup di gua selama beberapa tahun sendirian meninggalkan kehidupan manusia, hingga ia dibangunkan oleh mimpi yang sangat menakutkan. Dari sanalah perjalanan Greneouille menciptakan parfum terbaik di dunia dengan membunuh para gadis dimulai hingga ia menutup matanya.

Beberapa hal yang berbeda dari film dan buku diantaranya :

Greneouille tidak setampan di film

Greneouille dijelaskan memiliki tubuh yang kecil, kaki pincang sebelah, jalan membungkuk seperti ada punuk di punggungnya, dan memiliki wajah yang buruk rupa.

Tidak hanya para anak panti yang tidak nyaman kepada si bayi Greneouille

Seluruh ibu susu dan pendeta yang orang dewasa juga tidak nyaman dengan Greneouille.

“Serasa telanjang dan buruk ? seolah ada yang ternganga menatap begitu tajam tanpa timbal balik membuka jati diri.” (halaman 22)

Tentang Madame Gaillard

Madame Gaillard kehilangan indra penciumannya sehingga ia bahkan tidak sadar Greneouille berbeda dari anak lainnya karena wajahnya pernah dipukul. Selain itu Madame tidak mati dibunuh. Ia bahkan berumur panjang namun mati dengan cara yang paling tidak ia harapkan.

“Sewaktu kecil ayahnya memukul kening Gaillard dengan tongkat, persis di atas dasar tulang hidung” (halaman 25)

Greneouille berdiam di gua selama tujuh tahun

Selama tujuh tahun Greneouille makan seadanya yang disediakan oleh alam dan asyik berpesta dalam imajinasi kemakmuran dirinya dan koleksi aroma yang ia miliki di sebuah istana fiktif hingga mimpi menakutkan menyadarkannya.

Greneouille pernah singgah di Kota Montpellier sebelum Kota Grasse

Dalam film ditunjukkan bahwa orang pertama yang ditemui Greneouille saat keluar dari hutan adalah Laure dan ayahnya. Di buku Greneouille bertemu petani dulu sebelum akhirnya dengan Marquis de la Taillade – Espinasse sang penguasa kota yang mengubah ia menjadi layaknya manusia pada umumnya dengan gas “fluidum letale” teori buatan Marquis.

Greneouille pintar

Untuk beberapa hal Greneouille bisa dikatakan polos apalagi berbicara soal keinginannya memperoleh aroma tak terlupakan suatu ketika di kota. Selain hal tersebut, Greneouille paham akan tindakannya. Ia pintar mengelabui manusia lain.

“Kadang dari waktu ke waktu, dengan interval yang diatur baik, ia sengaja membuat kesalahan, yang bisa ditangkap Baldini… Dengan cara ini ia menenangkan dan menyeret baldini ke dalam ilusi bahwa ‘semuanya wajar-wajar saja’”. (halaman 134)

Buat Sobat pijar, kisah ini sangat reccommended untuk mengisi waktu senggang kalian. Di dalam film kita bisa melihat gambaran nyata tentang kondisi Paris pada abad-18, tetapi alangkah baiknya jika membaca bukunya juga. Sebab buku lebih detail sehingga bisa lebih memahami karakter sebenarnya tokoh utama Greneouille.

Dari sebuah kisah di atas, seperti yang kita ketahui lingkungan bisa menjadikan manusia seperti manusia membuat mesin apa saja. Jean-Baptiste Greneouille sang jenius yang lahir tanpa cinta dan kasih sayang menjadi seorang psikopat. Seandainya saja ia lahir memiliki keluarga, mendapatkan kasih sayang dan cinta, mungkin ia akan menjadi seorang ahli parfum terkenal dan terkaya di dunia. Akhirnya dengan parfum ciptaannya semua orang memuja dan mencintainya seperti Tuhan. Itulah cara picik yang direncanakan Greneouille karena rasa benci terhadap setiap orang yang selama ini ia anggap tidak pernah menganggap keberadaannya, karena ia tidak memiliki aroma.

(Editor : Lolita Wardah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *