The Rise of Pro Gamers: Talkshow and PUBGM Fun Match

Sumber Foto : https://www.instagram.com/trainingmarket.id/

Risty Novita / Jenni Sihombing

Pijar, Medan. Trainingmarket.id ialah sebuah wadah untuk belajar karier-karier yang kekinian. Dalam Trainingmarket.id ini terdapat kelas-kelas yang menarik, seperti kelas untuk content creator, bagian perhotelan, vlogger, gamers dan semacamnya. Trainingmarket.id akan memberikan fasilitas kepada orang-orang yang sangat ingin mempelajari profesi yang sekarang ini sangat booming dikalangan masyarakat.

Dalam acara Talkshow and PUBGM Fun Match yang telah diadakan pada 22 Desember 2020 kemarin, Trainingmarket.id menghadirkan Matthew Mayo yang merupakan seorang e-sport pro player & pro streamer sebagai narasumber di acara yang bertajuk “The Rise Of Pro Gamers” tersebut. Acara ini dilaksanakan melalui Zoom meeting yang dimulai dari jam 13.00-15.00 dengan persyaratan sudah meregistrasi diri di hari sebelumya melalui link yang tertera dalam flyer.

Sesuai dengan tema yang diusung, acara ini diperuntukkan bagi para gamers yang ingin melanjutkan kariernya ke tingkat yang lebih serius (pro-player). Hal ini dilakukan agar para gamers tidak hanya membuang-buang waktu untuk bermain game, namun dapat juga menghasilkan pundi-pundi dan mengukir prestasi.

Meskipun dilakukan secara online, acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 orang peserta yang sangat antusias dan pastinya seorang gamers sejati. Acara ini juga terdiri dari empat sesi yakni, perkenalan training market, sesi tanya jawab bersama Matthew Mayo, PUBGM Fun Match dan pengumuman pemenang Fun Match yang diselenggarakan live di Zoom itu juga.

Matthew Mayo dalam sesi tanya jawab yang terdiri dari 10 pertanyaan itu membagikan ilmunya kepada para peserta Zoom yang ingin menjadi pro-player seperti dirinya.

Penyampaian jawaban atas pertanyaan para peserta webinar The Rise Of Pro Gamers pada acara Talkshow and PUBGM Fun Match melalui zoom (22/12)

“Kita harus tahu terlebih dahulu bahwa diri kita mampu dulu, bagaimana skill dan kemampuan kita. Ketika kita sudah mendapatkan itu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjadi seorang e-sport pro-player yaitu rajin ikut turnamen pastinya. Kebanyakan orang-orang terlalu menyepelekan turnamen-turnamen kecil, ini saya ngomongnya PUBG ya, seperti turnamen daerah atau turnamen apapun itu. Karena pengalaman saya sebagai kapten tim yang banyak merekrut player, kita melihat justru dari turnamen kecil, karena kebanyakan turnamen besar biasanya sudah terikat dengan kontrak dan sebagainya,” jelas Matthew saat ditanyakan bagaimana cara menjadi seorang e-sport pro-player dari nol.

Matthew menjelaskan juga bahwa ia lebih suka merekrut seorang pemain yang tidak terlihat. Ia mengaku bahwa beberapa player yang diambilnya ke Onic e-sports dulu semuanya diambil dari tim kecil, tim daerah atau pun komunitas tidak pernah dari tim besar.

“Kalau saya pribadi, kita itu bermain untuk menang. Saya sebagai kapten tim atau pun manajemen tidak suka dengan pemain yang egois, ingin terlihat keren dan segala macam. Tapi itu bisa kita lihat bagaimana win rate yang dipengaruhi seseorang itu ketika dia bermain di tim tersebut dan bagaimana caranya kita menjadi player yang membuat tim kita menjadi lebih bagus dan bukan menjadi player paling bagus dalam tim kita,” ungkap Matthew.

Menjadi seorang gamers mungkin belum menjadi sesuatu yang tabu di telinga para orangtua. Banyak orang yang sangat ahli bermain game, namun tidak dapat melanjutkan mimpinya menjadi seorang pro-player karena terhalang restu dari orangtua yang sebenarnya tidak mengetahui bahwa Gamers salah satu profesi yang mempunyai banyak peluang untuk menjadi sukses.

Sebenarnya bagaimana sih caranya meyakinkan orangtua bahwa e-sports dapat menjadi pilihan karier? Karena pasti orangtua berpikir bahwa game hanya untuk bermain saja.

“Menurut saya, bekerja di e-sports, apa pun itu ya mau jadi pro-player manajer, atau apapun itu sama seperti kita bekerja di bidang olahraga ataupun seni, itu yang harus kita samakan dulu. Jangan kita samakan dengan dokter, lawyer, karena itu beda sekali. Pertama, kita harus mewajarkan dulu bahwa orangtua ngomong seperti ini. Kita harus menjalankan e-sports ini sembari menjalankan tanggung jawab yang kita punya. Contohnya kalau kita sekolah atau kuliah, jangan sampai sekolah atau kuliah itu terbengkalai, yang harus dikorbankan itu tidak boleh tanggung jawab, tapi kegiatan fun-fun kita, seperti jangan nongkrong kebanyakan, nonton kebanyakan. Kalau sudah kerja, ya sudah sambil kerja sambil lakuin ini-itu bisa, bukan tidak bisa, tinggal ngorbanin hal fun yang di luar ini,” tegasnya.

Matthew mengaku bahwa pertama kali masuk dalam dunia e-sports, ia juga mempunyai bisnis kecil-kecilan yakni, Matthew Entertainment. Namun, ia menjalankan keduanya karena ia merasa bahwa menjadi seorang pro-player saat itu belum bisa menutupi tanggung jawabnya yang ia tutupi dari apa yang dilakukannya di bisnisnya saat itu. Sampai berada pada titik di mana ia merasa bisa melebihi dan merasa dapat full time menjadi seorang pro-player dan menjadikan yang tadinya pekerjaan utamanya menjadi pekerjaan sampingannya, seperti slogannya, “butuh lebih dari sekedar mau”.

Mayoritas orang khususnya Gamers pasti sangat tahu bahwa kerugian menjadi seorang pro-player ialah harus mengorbankan waktu. Matthew menjelaskan bahwa pro-player di seluruh Indonesia bahkan dunia pasti banyak yang jarang bertemu dengan keluarga, jarang bertemu teman di real life karena seorang pro-player pasti sangat mengejar kariernya. Namun, berbicara soal gaji menjadi seorang pro-player adalah profesi yang sangat menjanjikan. Matthew mengatakan bahwa menjadi seorang pro-player itu ialah bagaimana kita meningkatkan value kita dari skill, branding dan bagaimana caranya supaya kita tidak tergantikan. Apabila sudah tidak tergantikan maka kita pun bisa bebas menentukan berapa kita harus dibayar oleh manajemen.

Sampai sekarang Matthew mengaku bahwa ia belum tahu apa yang akan ia lakukan ketika nantinya akan pensiun sebagai pro-player. Apakah akan menjadi coach, analis, atau streamer, karena ia merasa bahwa “age is just a number”.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *