Mengenal Dunia Sinematografi bersama Backpacker Kurus

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Bayu Herlambang / Johns Napitupulu

Pijar, Medan. Sinematografi merupakan ilmu yang menciptakan sebuah karya dengan menggabungkan rekam gambar, sehingga suatu karya tersebut memiliki kemampuan dalam menyampaikan suatu ide dan cerita.  Pada era teknologi yang semakin berkembang saat ini, para content creator dipermudah dalam proses pembuatan sinematografi. Di mana dalam pembuatannya tidak terpaku pada peralatan khusus lainnya, apalagi banyak sekali smartphone yang mulai dilengkapi dengan fitur kamera yang sudah sangat bagus. Sehingga, tidak perlu repot-repot untuk membawa kamera pada saat ingin mengabadikan moment.

Mengenai hal tersebut, Sinematografi Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (SIKU USU) mengadakan Talkshow Online yang bertajuk “Kelas Sinematografi Telling The Story” pada sabtu (19/12) pukul 20.00 WIB. Talkshow ini dilaksanakan melalui Zoom meeting sebagai wadah medianya. Adapun tujuan yang dilakukan pada acara ini adalah untuk mempelajari teknik-teknik dalam pengambilan gambar serta memaksimalkan fitur-fitur yang ada.

Talkshow dimulai dengan pembukaan yang dipandu oleh Natasia Fergina sebagai Master of Ceremonial (MC), kemudian dilanjutkan dengan Kata sambutan oleh Tia Habibah selaku Perwakilan dari Divisi Pengembangan Organisasi IMAJINASI yang mewadahi organisasi SIKU USU, serta dilanjutkan oleh Abraham Geraldo selaku ketua umum dari SIKU USU.

Muhammad Shidiq atau yang lebih akrab dikenal sebagai Backpacker Kurus, merupakan seorang Backpacker sekaligus seorang content creator yang memberikan materi pada acara talkshow kali ini. Sebelum menyampaikan materi, beliau juga bercerita bagaimana awalnya dia dapat terjun serta menyukai dunia fotografi serta videografi. Sebelum menekuni dunia sinematografi, Shidiq memulai awal karir dengan desain grafis. Kemudian berlanjut ke fotografi dan akhirnya menyukai dunia videografi.

Materi yang disampaikan banyak menjelaskan sebuah teori serta teknik–teknik dalam pengambilan sebuah gambar atau video. Ada banyak sekali teknik–teknik dalam sinematografi yang dapat untuk dipelajari. Mulai dari apa itu sinematografi, pra produksi yang memaksimalkan ide cerita, persiapan shot list/story board, produksi, composition, frame size, angle, lensa, editing, color grading, colour theory, sound design, dll. Ia juga menyampaikan kalau hanya paham materi tanpa jam terbang yang tinggi itu tidak akan memaksimalkan hasil dalam berkarya.

Lalu setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sharing session atau tanya jawab antara peserta dan materi. Para peserta sangat antusias dalam sesi ini, banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada content creator tersebut. Salah satunya pertanyaan yang disampaikan oleh Imandaflah “Gimana cara nyamain tone video maupun video untuk konten Instagram?”

Backpacker kurus memberikan tanggapan, dalam proses penyamaan warna atau tone foto seperti menggunakan salah satu aplikasi dan membuat sebuah preset (tone) yang diinginkan lalu menyalin tone tersebut kepada foto yang ingin diberikan warna. “Untuk menyamakan tone foto dan video caranya itu kita bisa menggunakan preset, maksudnya yaitu salah satu foto yang sudah diedit kemudian presetnya di salin dan kemudian ditempelkan, untuk hasil yang lebih maksimal adakalanya lebih baik untuk memperbanyak latihan agar terbiasa,” ungkap seorang Content Creator tersebut.

Dilanjutkan dengan pertanyaan dari salah satu peserta John Immanuel “Bagaimana cara abang agar bisa mempertahankan konsistensi dari penggunaan tone yang dimiliki atau apakah ada alasan tersendiri mengapa abang selalu konsisten terhadap tone tersebut?” jelasnya.

Shidiq menjawab bahwa warna atau tone yang digunakannya secara konsisten untuk memperkuat personal branding terhadap diri sendiri. “Tujuan saya untuk selalu konsistensi dalam tone tersebut adalah sebagai personal branding. Kemudian harus banyak meng-explore serta memperbanyak referensi untuk membangun ciri khas dari diri sendiri,” ucapnya.

Adapun harapan yang disampaikan dari seorang Backpacker Kurus tersebut kepada seluruh peserta maupun content creator yang baru mulai terjun kedunia sinematografi merupakan edukasi untuk mencari ilmu dan belajar. Bukan semata terpaku pada alat serta mempraktekkan demi meningkatkan kemampuan hingga menciptakan ciri khas dari suatu karya yang akan dibuat.

“Yang terpenting mulai aja dulu, bukan dari alat yang digunakan tetapi yang terpenting adalah skill yang dimiliki dan tidak pernah cukup dengan ilmu yang dimiliki serta jangan malu untuk belajar meningkatkan skill yang kita miliki. Jangan lupa ciptakan ciri khas masing-masing atau personal branding,” pesan Shidiq.

 

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *