Kembalinya Musikal Klasik dan Penggapaian Mimpi ala La La Land

Sumber foto : okmagazine-thai.com

Rosha Asthari / Meylinda Pangestika Gunawan

“Here’s to the ones who dream, foolish as they may seem. Here’s to the hearts that ache. Here’s to the mess we make.” – Mia

Pijar, Medan. “La La Land” adalah sebuah istilah sehari-hari yang mulai digunakan pada tahun 1960. Kata ini memiliki artian suatu kondisi yang tidak berhubungan dengan kenyataan, yang biasa terjadi karena kebahagiaan atau ketidaktahuan. Selain itu, sebutan “La La Land” juga merujuk pada Kota Los Angeles di California, AS, sekaligus menggambarkan gaya hidup dan perilaku masyarakatnya.

Film La La Land sendiri secara resmi dirilis dengan genre drama komedi-musikal pada tahun 2016. Film ini ditulis dan disutradarai langsung oleh Damien Charlez yang sukses terkenal dengan karyanya, Whiplash, pada 2014 lalu.  La La Land  juga mempertemukan kembali Ryan Gosling (The Notebook) dan Emma Stone (The Help), setelah keduanya sempat beradu akting di Crazy, Stupid, Love (2011) dan Gangster Squad (2013).

Berlatar belakang di sebuah kota yang terkenal dengan julukan Kota Bintang, La La Land mengisahkan tentang jerih payah sepasang individu dalam usaha mereka mengejar mimpi. Sebastian (Gosling) adalah seorang pianis jazz yang bermimpi untuk menyelamatkan dan mengembalikan jazz murni ke dunia. Ia juga berkeinginan untuk membuka kelab jazz-nya sendiri di dataran LA. Suatu waktu, Sebastian bertemu dengan seorang barista bernama Mia (Stone), calon aktris yang berusaha terjun ke dunia akting di Hollywood.

Sama-sama memiliki passion yang kuat akan mimpi mereka, Sebastian dan Mia dengan mudah saling tertarik dan jatuh hati dengan cepat. Bersama kencan-kencan yang mereka lalui, penonton dibawa terhanyut dengan sinematografi apik dan iringan skor-skor film yang memukau. Berbagai rintangan datang menerpa mimpi mereka dan membuat dua sejoli ini memikirkan ulang tujuan hidup mereka.

Sebuah hubungan yang baik tidak hanya mementingkan siapa dan apa yang terjadi di antara mereka. Tapi juga tentang bagaimana keduanya dapat membantu satu sama lain untuk berkembang dalam satu titik tertentu kehidupan. Kegigihan Sebastian dan Mia menyadarkan kita bahwa mimpi yang didasari oleh passion yang kuat tidak akan datang begitu saja, dan harus dikejar tanpa lelah.

Pengambilan long take dan tampilan visual penuh warna yang memanjakan mata, menemani penonton dari awal sampai akhir cerita. Sebut saja adegan musikal besar ikonik di tengah kemacetan jalan raya, juga tap dance para karakter utama di pelataran Taman Griffith. Bahkan adegan signature Sebastian dan Mia yang satu ini, tidak hanya harus dilakukan dalam satu pengambilan, tetapi juga saat matahari terbenam.

Maka memang hal yang pantas jika film ini berhasil menyapu bersih 7 piala Golden Globe yang dinominasikan kepada mereka. Mencatatkan sejarah sebagai film dengan borongan piala terbanyak sepanjang Golden Globe berlangsung.

Bersanding bersama Titanic (1997) dan All About Eve (1950), La La Land juga menjadi satu-satu nya film abad 21 yang sukses menyabet rekor 14 nominasi penghargaan di Academy Award dan belum terkalahkan hingga tahun ini. Film ini turut menghantarkan Damien Chazelle sebagai sutradara termuda yang membawa pulang piala untuk Best Director dalam sejarah Oscar.

La La Land tidak lupa pula untuk memberikan penghormatan kepada beberapa musikal klasik dalam potongan-potongan adegannya, seperti Singin’ in the Rain (1952), The Umbrellas of Cherbourg (1964), dan banyak lainnya. Membuat film ini banyak disenangi oleh khalayak ramai.

“Ini adalah film untuk para pemimpi, dan menurut saya harapan dan kreativitas adalah dua hal terpenting di dunia dan tentang itulah film ini,” kata Emma Stone dalam pidato penerimaannya sebagai Best Leading Actress di ajang Golden Globe yang dilansir dari Entertainment Weekly.

Secara keseluruhan, La La Land dengan berhasil menyuguhkan sebuah kisah sederhana nan realistis yang membuat penonton memikirkan kembali makna kehidupan mereka. Film ini juga mengantongi satu pesan sederhana yang nyatanya lumayan berat dan sering terlupakan oleh banyak orang; jangan mudah menyerah.

(Editor: Widya Tri Utami)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *