Belajar Cara Hidup dari Filosofi Teras

Sumber Foto: pemimpin.id

Chairunnisa Asriani Lubis / Muhammad Farhan

“Some things are up to us, some things are not up to us – ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita. Ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita”

Pijar, Medan. Hidup tentu selalu punya momen kejutan. Momen-momen tersebutlah yang berperan memainkan emosi manusia sehari-hari. Namun, semua momen tersebut tentulah tidak semata-mata menghasilkan tawa, terkadang momen tersebut juga memunculkan emosi negatif seperti itulah hidup, bak roda yang berputar. Banyak cara untuk menangani emosi negatif tersebut, salah satu caranya tertuang di buku Filosofi Teras.

Filosofi Teras adalah sebuah aliran filsafat kuno yang dituliskan dalam sebuah buku karya dari Henry Manampiring. Walaupun filosofi ini sudah berumur sangat tua tetapi masih sangat relate dengan masalah sosial saat ini.

Isi buku ini tidak terkesan sebagai penggambaran filosofi yang umumnya berat dan mengawang-awang saat kita memahaminya. Justru penjelasannya sangat dekat dengan masalah yang terjadi di kehidupan kita sekarang apalagi yang dialami oleh generasi milenial. Seperti halnya sering merasa khawatir akan banyak hal, baperan, susah move on, dan masalah-masalah lain.

Hal utama yang ingin dicapai oleh Filosofi Teras adalah hidup bebas dengan emosi negatif juga mendapatkan kehidupan yang tenteram. Di mana ketenteraman ini akan didapat jika kita mampu mengendalikan pikiran serta hal-hal yang berhubungan dengan emosi kita.

Salah satu prinsip filosofi teras ini adalah untuk menyelesaikan masalah harus dengan nalar. Contoh kecil yang sangat relate terjadi di kehidupan kita misalnya kita sedang berkendara di jalan raya, lalu disalip oleh kendaraan lain, dan kita langsung emosi dan mengeluarkan kata-kata kasar dengan nama salah satu penghuni kebun binatang. Tentu hal ini terjadi karena kita tidak menggunakan nalar dan tindakan tersebut tidak membawa efek positif sama sekali. Maka dari itu jika kita tidak menggunakan nalar, kita akan rentan merasa tidak bahagia.

Buku ini juga mengajarkan bahwa di dalam hidup ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada yang tidak. Seperti halnya opini orang lain, kesehatan kita, kekayaan kita, dan kondisi kita saat lahir, itu semua tidak di bawah kendali kita. Tetapi, hal seperti keinginan kita, tujuan kita, dan segala tindakan dan yang kita pikirkan hal itu akan kita lakukan di bawah kendali kita. Orang yang bijak adalah orang yang bisa mengenali kedua kategori ini dalam segala hal di dalam hidupnya.

Buku Filosofi Teras juga semakin menarik karena berisi hasil wawancara dengan beberapa orang yang menerapkan prinsip filosofi teras. Salah satunya psikolog klinis yang juga pengajar di program S1 psikologi di sebuah universitas swasta bernama Wiwit Puspitasari.

Ada tiga inti dari wawancara itu. Pertama, bahwa kekhawatiran itu sering kali datang karena adanya pendapat. Kedua, berusaha mengatasi emosi negatif dengan mengubah pola pikir dan perilaku. Ketiga, belajar menerima hal-hal yang tidak ada di bawah kendali kita bisa membantu kita mengatasi stres. Arti singkatnya kita diajarkan untuk bersikap santai saja dan jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu.

Buku ini sangat banyak memberikan pelajaran bagi pembacanya dan dapat membuka pikiran pembaca untuk lebih luas lagi dalam berpikir. Karena buku ini sangat kuat dalam penggambaran emosi negatif yang terjadi di kehidupan saat ini, maka pada akhirnya Filosofi Teras adalah buku yang cukup keren untuk dijadikan panduan hidup zaman sekarang. Untuk mengenal dan menerapkan langsung prinsip Filosofi Teras guna mengatasi emosi negatif yang kerap terjadi tersebut.

(Editor : Lolita Wardah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *