Rosha Asthari / Sherenika Azalia

Pijar, Medan. Banyak ungkapan yang beredar di masyarakat bahwa peran seorang ayah dalam rumah tangga hanyalah untuk mencari nafkah. Sedangkan urusan yang berhubungan dengan rumah diserahkan kepada ibu. Stereotip berbasis gender ini sudah terbentuk sejak kita umur 5 sampai dengan 7 tahun. Karenanya, pola pengasuhan setara perlu dimulai dari jangkauan terdekat, yaitu rumah.

Pada hari Kamis (12/11), bertepatan dengan Hari Ayah Nasional, IBCWE bersama Aqua dan Sarihusada mengadakan sebuah acara bertemakan “Milenial Parenting: Pola Pengasuhan Setara” yang dihadiri oleh beberapa narasumber seperti Edward Andriyanto, Dedie Renaldi, Dini Widiastuti, dan Fedi Nuril. Acara ini dilangsungkan melalui media Zoom meeting pada pukul 14.00 – 16.00 WIB.

Salah satu hal kecil yang tanpa sadar sering dilakukan adalah mengategorikan mainan anak bersadarkan gendernya. Seperti boneka bagi perempuan dan bola bagi laki-laki, padahal yang umumnya dimainkan oleh anak laki-laki juga merupakan sebuah boneka. Kemudian, baju yang berwarna terang seperti merah muda, hijau, dan nila hanya untuk anak perempuan. Hal-hal seperti ini yang harusnya mulai diubah secara pelan-pelan.

“Mainan yang bisa mengembangkan aspek skills-nya harus sama. Karena tugas orangtua adalah memastikan protection, welfare, dan hak anak terpenuhi. Jangan sampai dibedakan, hak untuk mengembangkan skill motorik juga artistiknya,” tegas Dini Widiastuti dalam menyampaikan pesan.

Pengasuhan Gender Neutral sebenarnya bukanlah pengasuhan dalam bentuk yang berbeda atau dengan cara aneh yang luar biasa. Melainkan lebih banyak melibatkan anak beraktivitas bersama ayah dan ibu, tanpa melihat gender mereka. Seperti urusan membantu ibu di rumah, tidak hanya anak perempuan saja yang sebenarnya bisa membantu dan sebaliknya. Dengan begitu, sang anak akan mendapatkan haknya untuk berekspresi, mengeluarkan pendapat, mendapat perlindungan, belajar dan bermain, hingga berkembang untuk mencapai potensi maksimalnya dalam hal tumbuh kembangnya.

Ayah yang terlibat dalam pengasuhan anak di dalam sebuah keluarga, akan memiliki konsep diri yang lebih baik. Konsep diri tersebut timbul karena adanya perasaan sukses yang didapat dari keberhasilan-keberhasilan kecil yang diraih oleh anak-anak dalam tumbuh kembang sang anak.

Bahkan, ada sebuah temuan yang mengatakan bahwa hubungan suami-istri akan jauh lebih positif apabila ayah juga terlibat dalam pengasuhan di rumah. Afeksi, kasih sayang, rasa nyaman, aman, dan kepercayaan diri akan meningkat antara orangtua dan sang anak di rumah.

Karena pekerjaan penuh seorang kepala keluarga, sejatinya adalah menjadi seorang ayah. “It’s not a sacrifice. Being a parent, being a father itu saja sudah rewarding,” kata Edward Andriyanto sekaligus menutup acara.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

 

Leave a comment