Illustrator: Samuel Agustinus Sinurat

Hujani Aku

Sherenika Azalia

Berkali-kali sudah hujan turun hari ini. Tidak ada satu alasan pun yang dapat membuat pikiranku tenang hari ini. “Sudahkah kau makan hari ini?” tanya Ray kepadaku melalui telfon ke-empat kalinya hari ini.

Hari ini menang sedikit mengalihkan beberapa perhatianku dari pekerjaan-pekerjaan yang sudah kutunda selama beberapa hari, benar, badanku terasa kurang sehat beberapa hari belakangan ini Ray memang selalu menemaniku saat hariku terasa tidak mudah untuk dijalani. Ia tahu, dan pasti akan selalu berada di sisiku.

Mengunjungiku kedua kalinya hari ini. Ray tahu, ia sedang mengerjakan beberapa pekerjaannya yang tidak mungkin dapat ditunda. Ia melakukannya untukku. Beberapa pekerjaan rela ia kerjakan besok hari, demi membuat diriku terasa sedikit lebih pulih.

Ntah apa yang membuatku merasakan ini, sentuhan tangan Ray membuatku nyaman berada di dekatnya. Kita memang sudah lama berpisah, sejak 2 tahun lalu aku dan dia memutuskan untuk sejenak berjarak antara satu dengan yang lainnya.

Perbedaan keinginan antara kami berdua, memang ego di masa muda. Kini kami sudah berkepala dua dan hampir menyelesaikan perkuliahan.

Hujan hari ini, kembali membawakan memori-memoriku bersamanya. Kenangan tepat 3 tahun yang lalu. Kami berada di tengah kota Bandung untuk merayakan hari jadi kami yang ke 3. Hari ini kembali aku dihujani dengan perkataan, perlakuan lembutnya kepadaku.

Datang dari kejauhan, lalu aku mendengar suara pintu terbuka.

Krrkkkk”… ku dengar pintu terbuka… lalu suara kaki berjalan masuk.

“Aku di sini untukmu, selalu bersamamu,” ucap Ray lembut

Diriku yang terbaring di atas kasurku di apartemen lantai-11 Florence.

Ray yang juga membawakan kue pie stroberi kesukaanku, yang padahal sudah cukup kurasa kehadirannya.

“Ray, kau hadir disini juga sudah membuat-“ belum selesai kuucapkan perkataan terima kasihku kepadanya langsung memotong ucapanku. “Sudah, dimakan saja dahulu pie yang kubawakan, aku tahu itu kan makanan kesukaanmu.” ucapnya meledek, lalu menyuapiku suap demi suap.

Merona pipiku dibuat Ray selama kehadirannya menjengukku selama 2 jam itu.

Siang berlalu, sore pun datang.

Hujan hari ini bermula dari pagi yang tidak begitu cerah. Sang mentari tidak begitu bersinar, karena ditutupi oleh awan mendung meski sampai sore ini pun masih begitu. Aku sudah mulai rindu kehadiran Ray didekatku… ia mampu membuat ketenangan meski hanya sejenak. Membuat hatiku terasa damai, lebih damai menghadapi situasi ini.

Kurasakan beberapa hari ini memang diriku kurang mendapatkan istirahat, tubuhku merasakan lelah yang lebih dari kadar seharusnya… hingga akhirnya aku tidak dapat lagi menahan.

“aaah, kepala… kepalaku terasa tidak begitu sakit lagi…”

Rintik hujan menemaniku hingga malam, juga bersama seperempat pie yang belum kuhabiskan sejak dari siang… setiap potongan sendok, aku teringat kepadanya…

“Halo, jangan lupa istirahat yang cukup yaa… besok sabtu, aku kembali berkunjung besok pagi… selamat tidur cantik” ucap Ray malam itu pada saat ia meneleponku kembali, memastikan keadaanku. Ingin sekali kuungkapkan rasa rinduku kepadanya.

Malam itu aku memimpikannya, memori-memori bersamanya kembali datang. Tidak heran, beberapa hari terakhir memang kuhabiskan bersamanya, tentang dirinya selalu muncul di kepalaku.

Hujan kembali membasahi bumi. Bandung pagi itu, aku terbangun, kurasakan diriku sudah dapat berjalan bersama Ray mengelilingi apartemen Florence, menghirup udara pagi yang segar ucapnya.

Hingga pada akhirnya, kembali meluangnya ruang yang berada dikepalaku untuk kembali memulai hari-hari. Di akhir hari, aku, disini. Di kamar apartemen Florence lantai 11-ku. Berterima kasih kepada sang Pencipta. Sudah mengirimkan satu makhluknya untuk saling manjaga antara satu dengan yang lainnya. Ray adalah satu makhlukmu, kembali ku berterima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *