Agnes Priscilla / Meylinda Pangestika Gunawan

Pijar, Medan. Belakangan linimasa ramai dengan istilah insecure. Salah satu pemicu insecure atau perasaan tidak nyaman ini datang dari media sosial. Ketika 15 detik momen kebahagiaan orang lain yang dibagikan melaui fitur Instagram story, lantas kita jadikan tolak ukur kebahagiaan untuk diri kita sendiri. Tak jarang hal tersebut yang membuka jalan bagi “insecure” untuk mencari kekurangan diri.

Berbicara mengenai kekurangan diri kepada orang lain bukan perkara yang mudah, acap kali mengalami penolakan, bahkan dengan orang terdekat sekalipun. Pada akhirnya, semua cerita hanya berkeliling dalam kepala dan hal emosional lainnya menumpuk dalam pikiran.

Memaafkan bukan hal yang gampang dan singkat, namun ini perlu dilakukan. Untuk membahas lebih dalam mengenai insecure dan forgiveness, Divisi Pendidikan dan Penalaran IMAJINASI FISIP USU  menyelenggarakan Talkshow OKUR (Obrolan Akurat) dengan tema “Be Confident and Spread Positivity”, pada (13/11) pukul 13.30  WIB melalui platform Zoom meeting.

Pada kesempatan kali ini, Talkshow OKUR mengundang Juliana Saragih, M.Psi., Emilia Ramadhani, S. Sos, M. A., Lucky Andriansyah, S. I. Kom., dan Nadya Hutagalung, S. I. Kom. sebagai narasumber serta dipandu oleh Hamli Rizky sebagai moderator.

Juliana Saragih menjelaskan bahwa masalah adalah tanda kehidupan. Menurutnya, hidup tanpa masalah itu impossible. Namun ketika masalah datang, tak jarang kita berusaha menjatuhkan diri sendiri melalui pemikiran. Bahkan tak jarang kita mengutuk diri demi meluapkan ketidakpuasaan yang ada. Menyakiti diri tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi lisan dan pemikaran juga termasuk bentuknya. Menurut Juliana, menyakiti diri sendiri adalah bukti bahwa kita sedang mengalami self love deficit.

Cinta adalah kebutuhan utama makhluk hidup. Sumber cinta utama adalah dari diri sendiri, jikalau kita tahu bagaimana caranya. “Ketika kita belum mencintai diri sendiri, jangan  coba-coba untuk mencintai orang lain,” tegas Juliana ketika menjelaskan makna self love.

Pemaparan topik diskusi yang sedang dibahas mengenai makna self love oleh Juliana Saragih, pada (13/11) melalui Zoom meeting. (Sumber foto: Dokumentasi Pribadi)
Pemaparan topik diskusi yang sedang dibahas mengenai makna self love oleh Juliana Saragih, pada (13/11) melalui Zoom meeting. (Sumber foto: Dokumentasi Pribadi)

Dari hasil penelitian, orang yang mencintai dirinya sendiri akan hidup lebih sehat, tangguh menjalani hidup, lebih bahagia, dan memiliki hubungan positif. Juliana Saragih juga memaparkan cara untuk meningkatkan rasa cinta pada diri sendiri, seperti berterima kasih kepada diri sendiri, melatih diri untuk memberikan positive self affirmation, dan peluk erat diri sendiri. Terakhir, jangan lupa untuk memberikan reward atau penghargaan kepada diri sendiri.

Permasalahan mengenai forgiveness, diawali dari suatu masalah yang tidak terselesaikan pada masa lalu. “Bicaralah dengan inner voice kalian, bahwa kalian akan memaafkan masa lalu yang membuat kondisi kalian sampai sekarang ini, coba maafkan,” ungkap Emilia Ramadhani.

Pada akhirnya memaafkan adalah hal yang sulit, tetapi kita harus coba itu. Seperti kutipan dari Sigmun Freud, bahwa masa lalu akan membuat bekas hingga sekarang. Mari kita selesaikan luka itu, berbicara dengan diri sendiri, dan maafkan. “Ubah bahasa negative, yang hanya mencelakakan diri sendiri. Ayo bangun diri kalian, tunjukan versi terbaik kalian, jangan bandingkan dengan orang lain,” tegas Emilia di akhir sesinya.

Self love dan forgiveness adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Apabila kita sudah mencintai diri kita, berarti kita juga sudah menunjukkan bahwa kita memaafkan diri kita dan menerima segala kekurangan yang ada. Tidak ada yang dapat menjamin kebahagiaan dan kecintaan diri sendiri sebesar yang kita lakukan.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment