Erika Sihite

“Style is a way to say who you are without having to speak.” – Rachel Zoe.

Pijar, Medan. Fashion merupakan salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Perubahannya dapat dilihat dalam waktu singkat atau panjang. Perubahan waktu yang terus berjalan beriringan dengan teknologi kini telah mengubah mode, baik dari pakaian, alas kaki, aksesoris, gaya rambut, proporsi tubuh, dan lainnya.

Tren fashion yang semakin diminati oleh masyarakat kebanyakan adalah produksi dari brand ternama luar negeri. Tanpa melirik terlebih dahulu produk dalam negeri yang sebenarnya juga tidak kalah saing. Inilah yang melatarbelakangi komunitas Fokal Campaign untuk membuat sebuah gerakan cinta produk fashion lokal agar lebih diminati dan dibanggakan oleh masyarakat dalam negeri sendiri.

Fokal Campaign (Fashion Lokal Campaign) merupakan sebuah komunitas yang terdiri dari 10 orang mahasiswi yang terbentuk untuk memenuhi tugas mata kuliah teknik Humas. Kampanye ini telah dimulai sejak awal bulan Oktober dengan menggunakan berbagai platform seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan Tiktok. Tidak cukup hanya disitu, tim ini juga mengadakan webinar yang dilaksanakan pada 18 Oktober 2020 melalui platform Zoom meeting.

Mengangkat tema “Buy Local or Bye bye Local, acara ini memiliki tagline ‘Be comfort, be fashionable with local brand’. Bekerjasama dengan Genbi (Generasi Baru Indonesia) dan By.U, webinar ini diikuti oleh mahasiswa/i penerima beasiswa Bank Indonesia dan juga masyarakat umum. Dimulai pukul 14.00 WIB acara diawali dengan kata sambutan dari moderator pertama Hesmitha Eunike dan dilanjutkan dengan materi pertama yang dibawakan oleh owner brand Electrica Panda yaitu Rizky Saragih yang telah meluncurkan mereknya sejak masa kuliah. Rizky juga menjelaskan bagaimana merek yang ia buat dapat berkembang serta tantangan-tantangan yang menghampirinya. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini, menyebabkan omset dari merek yang ia keluarkan menurun.

“Konsistensi untuk eksistensi itu harus. Dalam masa pandemi ini omset tentu menurun. Tetapi kita harus terus mencari cara bagaimana brand produk kita tetap eksis,” tukas Rizky.

Memasuki materi selanjutnya yang dipandu oleh moderator kedua, Erna Tinna Ria Angkat membacakan cv dari pemateri kedua yang merupakan salah satu dosen di USU. Dosen prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, Doli Dalimunthe membawakan materi tentang apa itu fashion lokal dan seberapa penting efeknya pada diri kita, UMKM dan juga negara. Sebelumnya, Doli juga pernah memiliki brand yang diberi nama Flipflop yang sempat tren pada masanya. Menurut Doli, produk lokal juga tidak kalah bagus dengan produk luar. “Brandbrand lokal sebenarnya tidak kalah bagus dengan produk luar. Kebanyakan orang-orang hanya fokus pada mereknya saja. Padahal jika dilihat lagi, produk lokal juga sama bagusnya dengan mereka,” jelas Doli.

Melalui acara ini, Fokal Campaign berharap agar masyarakat Indonesia terutama anak-anak muda dapat lebih menghargai dan mencintai produk lokal. Mengingat bahwa produk fashion lokal juga memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk luar negeri.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment