Hits: 12

Miftahul Jannah Sima

Pijar, Medan. Tepat pada tanggal 31 Mei secara serentak, dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan yang menyerukan para perokok untuk sejenak berpuasa dari merokok selama 24 jam lamanya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengesahkan Resolusi WHA40.38, menetapkan tanggal 7 April 1988 sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Kemudian masih di tahun yang sama, disahkanlah Hari Tanpa Tembakau ini oleh Majelis Kesehatan Dunia menjadi tanggal 31 Mei.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia atau dengan kata internasionalnya “Word No Tobacco Day” merupakan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahayanya merokok dan keharusan menjaga kesehatan, serta tentunya dapat mengurangi angka perokok di dunia.

Semua orang tentunya sudah tahu bahwa merokok itu berbahaya. Bahkan para perokok sendiri pun juga mengetahui bahayanya merokok. Sudah sering disuarakan bahayanya merokok seperti dalam kampanye termasuk dalam kemasan rokok pun sudah tertera bahwa rokok sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian baik bagi si perokok aktif maupun perokok pasif.

Jika dikira-kira, lebih banyak kerugian yang didapatkan perokok itu sendiri. Seperti uang yang habis dan kesehatan yang menurun. Rokok dapat menyebabkan munculnya berbagai penyakit, seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, kolestrol tinggi, komplikasi diabetes, gigi menguning dan keropos, gangguan mata, bahkan bisa menimbulkan efek psikis seperti rasa cemas dan gelisah. Bagi perempuan, rokok dapat menyebakan keguguran dan monopause prematur.

WHO sendiri masih gencar untuk menyuarakan bahayanya merokok untuk mengurangi angka perokok yang ada. Pada tahun 2008, WHO mengusung tema Pemuda Bebas Rokok, yang tepatnya pada malam hari Word No Tobacco Day, WHO menyerukan agar larangan untuk menampilkan iklan, promosi, dan sponsor tembakau. Karena menurut WHO, saat ini target pemasarannya ialah remaja, karena perokok dewasa yang sakit-sakitan berupaya untuk berhenti merokok. Sedangkan anak muda yang masih sehat dibidik agar terpapar iklan rokok yang dapat memicu mereka untuk merokok.

Dikutip dari kemkes.go.id, Indonesia sendiri memiliki perokok terbanyak di antara negara ASEAN, yang mana di tahun 2018 menunjukkan peningkatan prevalensi perokok remaja pada usia 15-18 tahun dari 7.2% menjadi 9,1%.

Dikutip dari kanal Youtube Ochannel yang melakukan wawancara dengan Pakde Indro, ia berpesan, “Percumalah merokok, gak ada gunanya, bohong besar kalau merokok bisa bikin santai, bisa munculkan ide kreatif  karena ini hal subjektif, saya yang gak merokok santai aja, karena ketika kamu mau berhenti dan bisa berhenti, kamu orang yang hebat karena bisa melawan dirimu sendiri, yang gak mau behenti silahkan itu pilihan pribadi, tapi satu, tolong jangan merusak orang lain.”

Bagi yang tidak merokok, jangan sekali-kali mendekatinya, karena itu hanya akan merugikan dirimu dan orang lain. Mungkin awalnya memang sulit, tapi semua bisa dicoba dengan mengubah pola hidup yang lebih sehat, perbanyak olahraga, dan mungkin bila perlu lakukan Nicotine Replacement Therapy (NRT). Matikan puntung serta jalani hari bersih dan sehat tanpa asap rokok. Tanpa rokok diri kita tetap keren.

(Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami)

Leave a comment