Jenni Sihombing

Pijar, Medan. Tanggal yang bertepatan pada musim semi di Northern Hemisphere (belahan bumi utara) dan musim gugur di belahan bumi selatan yakni 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Internasional.

Hari Bumi merupakan sebuah momentum yang dirancang sebagai bentuk apresiasi terhadap bumi. Mengingat semakin hilangnya kesadaran terhadap bumi, maka hadirlah Hari Bumi yang bertujuan untuk mendukung dan meningkatkan kesadaran masyarakat di seluruh dunia untuk tetap peduli dan melindungi lingkungan.

Sama seperti kita, bumi juga semakin lama akan semakin bertambah tua dan apabila tidak diselimuti dengan kepedulian kita, hanya akan menyebabkan usia bumi bertambah pendek. Hal ini tak lepas dari ulah jahil dan sifat  tamak manusia terhadap bumi seperti penebangan liar yang semakin ganas dan membuang sampah sembarangan yang kemudian berdampak pada terjadinya pemanasan global, efek rumah kaca, pergeseran musim, kesulitan air dan pada akhirnya justru berdampak pada manusia itu sendiri.

Apabila kita telusuri ke belakang, peringatan Hari Bumi diawali pada tanggal 22 April 1970, sekitar dua puluh juta warga Amerika Serikat yang terdiri dari para demonstran dan mahasiswa  turun ke jalan untuk mengampanyekan kesehatan dan aksi protes yang dikarenakan buruknya saluran pembuangan oleh tumpahan minyak di pesisir Santa Barbara, California (1969), serta semakin tingginya tingkat kepunahan flora dan fauna. Aksi ini diprakarsai oleh Gaylord Nelson, seorang politikus yang pertama kali menyuarakan tentang isu-isu lingkungan.

Selain itu, peringatan Hari Bumi ini juga terinspirasi oleh banyaknya protes dan demonstrasi dari pelajar di Amerika Sertikat mengenai perang Vietnam. Seperti yang juga kita ketahui bersama, perang akan selalu berdampak pada kerusakan ekosistem lingkungan.

Lewat gerakan ini pula lahirlah organisasi-organisasi atau kelompok-kelompok yang berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan hidup. Di antaranya, Environmental Action (di Washington, 1970), kelompok Greenpeace (1971), Environmentalist for Full Employment (1975), Worldwatch Institute (1975), dan masih banyak lagi.

PBB sendiri memilih tanggal 20 Maret dengan alasan karena tanggal ini bertepatan dengan posisi matahari tepat di atas khatulistiwa. Hal ini berdasarkan ide “Hari bagi Orang-orang Bumi” oleh John McConnell.  Pada Oktober 1969, saat acara konferensi UNESCO di San Francisco, ia mengajukan adanya hari libur sedunia untuk merayakan “Kehidupan dan Keindahan Bumi”.

Ia melandaskannya karena itu merupakan hari pertama musim semi di belahan bumi utara. Tujuannya tak lain untuk menyadarkan kita betapa pentingnya ekologi untuk kelestarian ekosistem bumi.

Sayangnya, sebulan kemudian Nelson mengimbau masyarakat Amerika Serikat untuk memperingati Hari Bumi pada 22 April 1970 bertepatan dengan kejadian pencemaran laut terbesar di Amerika Serikat oleh tumpahan minyak di selat Santa Barbara (1969). Setelah itu PBB secara resmi merayakannya 22 April sebagai “International Mother Earth Day“.

Hingga saat ini momen Hari Bumi terus diperingati secara internasional untuk menyadarkan dan mengingatkan betapa pentingnya kepedulian akan lingkungan hidup dan menjaga agar bumi tidak rusak. Bukan hanya diperingati sebagai sebuah momentum semata namun kita juga harus melakukan aksi nyata demi menyelamatkan dan peduli terhadap lingkungan hidup dengan dimulai dari hal-hal yang sederhana. Misalnya pada hal-hal berikut ini :

  1. Mencabut steker apabila tidak dipakai. Hal sederhana yang dapat kita lakukan yaitu melepaskan charger apabila telah selesai dipakai. Karena dengan ini berarti kita telah melakukan penghematan terhadap pemakaian listrik.
  2. Menanam minimal satu tumbuhan atau satu pohon. Sebuah rumah dengan sebuah pohon tentu terasa lebih sejuk dengan kalkulasi oksigen yang diberikan.
  3. Lakukan aksi 3R yaitu reuse (gunakan kembali), reduse (mengurangi pemakaian), dan recycle (daur ulang).
  4. Perbaiki keran yang bocor, tanpa kita sadari keran yang bocor berarti melakukan tindakan boros air sengaja-tidak sengaja.
  5. Gunakan kendaraan umum atau gunakan sepeda atau berjalan kaki lah jika masih memungkinkan. Karena hal ini mampu mengurangi emisi kendaraan bahkan dapat kita jadikan sebagai sarana berolahraga untuk tetap hidup sehat.
  6. Hindari penggunaan kertas. Hal kecil yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu mengurangi penggunakan kertas seperti bon/struk transaksi dengan cara belanja atau bertransaksi secara daring.
  7. Matikan lampu jika tidak diperlukan. Matikanlah lampu jika memang tidak diperlukan atau saat kita pergi meninggalkan rumah.

Lewat aksi kecil di atas walaupun terbilang sederhana, merupakan sebuah bentuk partisipasi yang nyata terhadap bumi. Sebab, jika bukan kita yang memulainya, lalu siapa lagi?

Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami

Leave a comment