Hits: 13

Star Munthe

“Selain membunuh manusia, ternyata corona mampu menguak sisi kemanusiaan kita”

Pijar, Medan. Tidak ada yang akan mengira bahwa dengan cara rebahan sepanjang hari alias tidak melakukan aktivitas di luar rumah ternyata menjadi tindakan yang dapat menyelamatkan kehidupan. Begitulah situasi tahun 2020 yang memasuki bulan keempat.

Sejak pertama kali dilaporkan kepada WHO oleh otoritas China pada 31 Desember 2019, Corona (COVID-19) mulai menguasai headline media-media berita dunia. Masyarakat di luar China mulai ikut merasakan keresahan, karena virus ini adalah jenis terbaru dan tentu belum ditemukan vaksinnya. Agaknya untuk sekarang telah ditemukan prototipe dan vaksinya dalam tahap uji coba.

Dengan persebaran virus corona yang terdeteksi di berbagai negara sejak awal tahun 2020, mendekati akhir januari WHO malah mengeluarkan pernyataan bahwa kasus ini belum menjadi perhatian internasional. Tepat dihari yang sama pada 23 Januari 2020, pemerintah China memberlakukan lockdown di Wuhan (kota yang diduga menjadi titik awal penyebaran virus corona) dan beberapa kota lain di provinsi Hubei.

Sejak diberlakukan lockdown di kota Wuhan, media sosial ramai akan dukungan kepada masyarakat yang tinggal di kota Wuhan dan pasien yang mengidap corona. Kemanusiaan itu setidaknya tampak melalui video yang sempat trending di media sosial Twitter, yang memperlihatkan warga saling meneriakkan kata “Wuhan, Jiayou” yang artinya adalah Semangat Wuhan.

Rekam gambar masyarakat di Wuhan saling memberi semangat pasca diberlakukannya lockdown. (Sumber Foto: TimesIndonesia)
Rekam gambar masyarakat di Wuhan saling memberi semangat pasca diberlakukannya lockdown.
(Sumber Foto: TimesIndonesia)

Ketenangan mulai luntur di Indonesia terjadi sejak tanggal 2 Maret 2020, di mana pemerintah pertama kali mengumumkan bahwa sudah ada 2 WNI yang positif terpapar virus corona. Selang beberapa hari kemudian dampak dari kepanikan mulai terasa, sebagian supermarket tiba-tiba padat manusia yang berlomba membeli kebutuhan pokok maupun pelindung diri untuk mencegah corona menjangkiti dirinya.

Ketua Pusat Krisis UI Dicky Palupessy pernah menanggapi kejadian sosial yang terjadi akibat virus corona, “Merebaknya virus corona mengakibatkan kita kehilangan untuk mengendalikan perasaan diri atau kehilangan sense of control.

Panic Buying

Dirangkum dari CNN Indonesia, seorang psikolog bernama Steven Taylor menganggap  panic buying adalah sesuatu hal yang terjadi karena kesadaran manusia akan kehidupan yang fana. Ia tidak yakin bahwa dengan mencuci tangan akan cukup untuk membuat seseorang mampu membunuh virus yang kian mewabah ini.

Selain kemunculan dari sikap impulsif. Panic buying juga dikatakan mampu menular kepada orang lain. Dengan menyebarnya hoaks di media sosial, kemudian media-media berita  melakukan perannya menunjukan gambar rak-rak toko yang kosong akibat aksi panic buying, masyarakat lain juga bisa mengikuti perilaku yang sama.

Kebutuhan masyarakat sipil akan alat perlindungan menghadapi virus, seperti masker, hand sanitizer, dan bahkan sarung tangan medis ternyata memberikan dampak negatif bagi mereka yang berada di gugus terdepan untuk ‘perang’ melawan virus corona. Keterbatasan alat dan baju ‘perang’ kini dialami oleh para dokter Indonesia.

Selain itu, yang kini terasa akibat dari panic buying adalah terjadinya pelonjakan harga. Dalam teori ekonomi disebutkan bahwa jika terjadi permintaan yang tinggi terhadap suatu barang yang terbatas, maka akan terjadi kenaikan harga.

Kesadaran masyarakat untuk membeli secukupnya dan menyadari bahwa masih banyak yang lebih diprioritaskan untuk hal tersebut seharusnya mampu menjadi kunci perjuangan bersama melawan corona. Barangkali kepanikan kita telah menghilangkan naluri kemanusiaan demi keselamatan pribadi atau keluarga sendiri.

Social Distancing vs Physical Distancing

“Setelah Indonesia dinyatakan tidak aman, pemerintah hanya memiliki dua pilihan; menjaga jarak atau lockdown.”

Mengutip dari Antara News, Dengan berbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan bahwa hal yang harus kita lakukan adalah social distancing atau menjaga jarak dari satu dengan yang lain sebagai hal penting untuk dilakukan dalam situasi mewabahnya virus corona.

 “Dengan kondisi saat ini, saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah” ujar Presiden Joko Widodo.

Aksi social distancing dimulai dari anjuran presiden untuk Work From Home atau bekerja dari rumah. Peristiwa berentet terjadi setelahnya, Ujian Nasional ditiadakan, sekolah dan kampus diliburkan, bahkan beberapa kampus mulai melakukan lockdown—termasuk USU per 24 Maret 2020.

Dilansir dari Tirto.id, Social distancing bisa diartikan sebagai isolasi diri dan terputus dari hubungan sosial. Istilah yang tepat untuk menggambarkan tindakan yang sedang dilakukan adalah physical distancing atau menjaga jarak fisik dari orang lain. Kampanye ini digemakan oleh politikus dan ahli kesehatan di Kanada.

Tapi perilaku physical distancing tak bisa berlaku untuk semua orang. Banyak masyarakat yang memiliki pekerjaan di sektor informal yang mengharuskan ia keluar rumah demi mencari pundi-pundi rupiah menjadi salah satu sebab strategi pemerintah tak berjalan mulus dalam menekan jumlah persebaran virus corona.

Lockdown

Setelah  physical distancing dianggap kurang efektif, banyak masyarakat kini menyuarakan agar pemerintah mengambil langkah tegas yakni, lockdown demi menekan angka persebaran virus. Bahkan sebelumnya kota Wuhan yang di lockdown per 23 Januari kini menunjukan kabar baik—8 April mendatang China akan mencabut status lockdown dan pembatasan perjalanan di kota tersebut.

Lockdown diartikan sebagai suatu tindakan yang membuat suatu wilayah memiliki batas untuk tidak memasuki atau keluar dari batas tersebut.

Menimbang suara masyarakat, kini pemerintah mulai menyusun pertaruan tentang lockdown wilayah. Bahkan sebelum pertaruan itu disusun oleh Mahfud MD, beberapa wilayah telah menutup aksesnya karena alasan persebaran virus corona.

Melawan Corona, Bukan Manusianya

setelah wabah corona ini berakhir, apakah kita akan kembali menjadi manusia yang sama seperti saat virus corona belum terdengar sebelumnya?”

Berstatus sebagai Orang Dalam Pantauan (ODP) barangkali akan terasa sangat pahit. Tujuan mengisolasi diri di rumah sendiri barangkali harus menemukan jalan buntu, yakni diusir oleh warga yang takut tertular. Kisah tersebut diceritakan oleh akun @LusiLouis di media sosial Twitter.

Cuitan pemilik akun @lusilouis terhadap seorang wanita yang meminta surat negatif COVID-19. (Sumber Foto: akun twitter @lusilouis.)
Cuitan pemilik akun @lusilouis terhadap seorang wanita yang meminta surat negatif COVID-19.
(Sumber Foto: akun twitter @lusilouis.)

Pada jalan terakhir yang dapat kita tempuh sebagai masyarakat sipil adalah untuk melaksanakan anjuran dari pemerintah dan WHO yakni menjaga kebersihan,  melakukan physical distancing, dan tidak keluar rumah apabila tidak terlalu mendesak.

Dengan tidak melakukan diskriminasi terhadap orang yang berstatus PDP, ODP, bahkan Suspect, sebenarnya kita sudah mampu menjalankan peran kita sebagai manusia yang memanusiakan orang lain.

Panjang Umur, Manusia. Panjang Umur, Kemanusiaan.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

 

Leave a comment