Hits: 45
Annisa Nahda
Pijar, Medan. Pada saat ini, hewan kerap kali dijadikan bahan lelucon oleh sebagian masyarakat. Menyakiti hewan dianggap sebagai pancingan untuk mengundang tawa, hewan yang sering dijadikan korban ialah kucing. Berangkat dari realitas yang menyedihkan ini, maka sekelompok mahasiswa dari Ilmu Komunikasi USU tergerak untuk membentuk sebuah tim bernama Nyan Nyan guna mengkampanyekan stop kekerasan pada kucing yang bekerja sama dengan komunitas Animal Lovers. Sabtu (12/10), bertempat di Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA), Nyan Nyan sukses menyelenggarakan sebuah kampanye dengan mengangkat tema “Berantas Kekerasan pada Kucing”.
Acara ini diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh MC, serta kata sambutan yang diberikan oleh Pak Samuda selaku perwakilan dari YPSA.
Adapun tujuan Nyan Nyan menggelar kampanye ini ialah untuk menumbuhkan rasa kepeduliaan terhadap kucing dan hewan lainnya yang harus ditanamkan sejak dini. Mengurangi angka kekerasan dan penelantaran sebab kucing dan hewan lainnya ialah sahabat kita, sehingga kita harus memperlakukannya sebanding dengan makhluk lainnya.
Bimbi, salah satu perwakilan dari Animal Lovers mengenalkan jenis kucing yang dibawanya serta memberikan edukasi mengenai cara merawat kucing dengan baik kepada para peserta. Seluruh peserta yang merupakan siswa dari kelas 7 YPSA terlihat sangat antusias dan bersemangat ketika Bimbi mengenalkan kucing Persia Medium dan American Maincane.
Pada materinya, Bimbi menjelaskan bahwa sebelum memutuskan untuk merawat kucing, ada baiknya kita perlu mengetahui tentang kebebasan-kebebasan hewan terlebih dahulu. Hewan memiliki 5 kebebasan yaitu bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari panas serta rasa tidak nyaman, bebas dari luka dan penyakit, bebas mengekspresikan perilaku normal dan alami serta yang terakhir ialah bebas dari rasa takut dan penderitaan.
Kebebasan yang dimaksud ialah masyarakat yang ingin memelihara seekor hewan harus menyediakan makanan yang bergizi dan tempat tinggal yang layak. Kemudian, harus cepat tanggap terhadap penyakit yang diderita hewan dan segera membawanya ke dokter hewan jika kondisi kesehatan semakin memburuk. Lalu, menyediakan mainan sesuai dengan kebutuhan serta memperlakukan kucing dengan baik agar tidak mengalami stress. Jika dirasa sudah dapat memenuhi kebebasan tersebut, barulah seseorang dikatakan pantas untuk memelihara kucing dan hewan peliharaan lainnya.
Selain Bimbim, pemateri selanjutnya yakni Ella dari Animal Lovers juga menjelaskan bahwa angka kekerasan terhadap kucing mencapai 30%. Tingginya tingkat kekerasan dan kurangnya kepedulian terhadap hewan ini merupakan suatu fenomena yang cukup disayangkan. Pasalnya, kekerasan tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang tidak menyukai keberadaan kucing saja, bahkan pemiliknya pun terkadang sanggup untuk menyiksa hewan peliharaannya. Hal itu bisa disebabkan dari ketidaksiapan dalam memelihara seekor kucing.
Ella juga mengajak para peserta untuk mulai menumbuhkan rasa kepedulian terhadap kucing dengan tidak menyakitinya, memberi makan kepada kucing liar, dan mengarahkan agar berani menegur jika seseorang tersebut melakukan kekerasan terhadap kucing. “Kucing serta hewan lainnya tidak sepatutnya kita sakiti, sebab mereka juga makhluk hidup sama seperti kita. Untuk itu, ada baiknya kita bisa menyayangi dan peduli terhadap keberadaan mereka,” jelas Ella.
Tak hanya itu, para peserta pun diberikan kesempatan untuk berfoto dengan para kucing. Kegiatan kampanye ini mendapatkan respon yang positif sebab peserta merupakan para remaja dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Kucing-kucing lucu nan menggemaskan ini dijadikan bak aktor papan atas, diminta berfoto dan dibopong ke sana kemari.
Respon para peserta pun beragam, ada yang gembira bukan kepalang serta ada yang berteriak takut tatkala melakukan sesi berfoto sambil menggendong kucing. “Kampanye ini menambah wawasan dan juga membuat saya jadi berani untuk memegang bahkan menggendong kucing,” ucap Nayla, salah satu peserta kampanye.
“Dari kegiatan kampanye ini, saya berharap semakin banyak orang yang peduli dengan kucing sehingga angka kekerasan dapat menurun menjadi 0%,” ungkap Iqbal selaku anggota dari tim Nyan Nyan.
(Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami)

