Hits: 69
Kelly Kidman Salim
Pijar, Medan. Setiap tahun, Hari Keluarga Internasional diperingati pada tanggal 15 Mei. Tema yang diusung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk tahun 2025 adalah “Family-Oriented Policies for Sustainable Development: Towards the Second World Summit for Social Development 2025”. Peringatan ini menyangkut peran keluarga dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Sebagai institusi terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki ragam subsistem secara struktural yang dapat berkontribusi, dan menjadi agen perubahan yang baik bagi pembangunan, apabila interaksi yang terjalin di dalamnya sehat. Hal ini disampaikan oleh Eka Ervika, selaku Dosen Psikologi Universitas Sumatera Utara.
Eka juga berpendapat bahwa melibatkan keluarga dalam mewujudkan tema ini merupakan langkah yang efektif, dibandingkan jika hanya berfokus pada subjek lain.
“Dalam konteks lokal, ada begitu banyak program pemerintah di Indonesia yang menurut saya menjadi kurang efektif karena tidak menjadikan keluarga sebagai basis perubahan. Contohnya, penyelesaian kenakalan remaja. Pendekatan yang berfokus pada remaja itu keliru, karena kita lupa bahwa remaja ini juga bisa saja berasal dari keluarga yang bermasalah,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa keluarga adalah sebuah cetakan yang memegang peran penting dalam membentuk pribadi seseorang, yang nantinya akan menjadi agen pembangunan dan perubahan sosial itu sendiri. Baginya, perwujudan tema ini terhadap keluarga di Indonesia harus dibantu oleh evaluasi dari pemerintah dalam menentukan bagaimana pendekatan yang baik bagi berbagai kalangan. Mengingat banyaknya perbedaan latar belakang ekonomi dan pendidikan yang ada.
Terkadang, keluarga atau masyarakat tidak memahami apa peran yang dapat mereka lakukan untuk mendukung program pembangunan yang ada. Sehingga menurut Eka, definisi operasional terhadap tema yang ingin diwujudkan harus dapat disampaikan dengan baik kepada setiap variasi keluarga yang ada di Indonesia.
Sebagai penutup, Eka menekankan bahwa setiap keluarga memiliki kewajiban yang sama dalam menjaga ketahanan keluarga dan masyarakat untuk mencapai sebuah negara yang besar.
“Perlu pemikiran, persepsi, dan kesadaran yang sama untuk mulai menyiapkan keluarga yang sehat, dan menciptakan masyarakat yang sehat. Dalam konteks yang lebih luas, kita lebih mudah mencapai negara yang lebih besar dan kuat. Karena hal tersebut tentu saja dimulai dari keluarga,” tutupnya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

