Hits: 6

Riska Lie Fany

 

Pijar, Medan. Departemen Antropologi FISIP USU menggelar acara yang bertajuk pelestarian budaya untuk mengingatkan kembali identitas budaya Indonesia itu seperti apa pada Rabu (03/05). Acara ini dihadiri oleh mahasiswa/i Antropologi untuk ikut ambil bagian menyukseskan acara ini.

Pelataran parkir FISIP USU menjadi tempat diskusi acara ini. Mengangkat tema “Pelestarian Budaya Di Era Globalisasi”menjadi pembahasan yang seru sekaligus menarik bagi mahasiswa/i, khususnya yang sudah terkikis akan identitas budayanya sendiri. Warkop Antro adalah nama yang digunakan dalam kegiatan ini, supaya saling mengakrabkan antara dosen, alumni maupun mahasiswa Antropologi menjadi sebuah kerabat.

Acara ini dimulai pukul 10 pagi dipandu oleh MC, lalu ada persembahan tarian Melayu dari mahasiswi Antropologi, dan pertunjukkan drama yang membahas pelestarian budaya. Selanjutnya dibuka dengan kata sambutan oleh Drs. Ermansyah, M.Hum selaku ketua Laboratorium Antropologi, Mar’ie Muhammad selaku Ketua Panita, dan Dr. Fikarwin Zuska selaku ketua Departemen Antropologi. Donor darah dan berbagai bazar makanan turut memeriahkan acara yang berlangsung selama dua hari ini mulai tanggal 3-4 Mei.

Persembahan tarian melayu pada pembukaan acara Warkop Antro oleh mahasiswi Antropologi. Fotografer : Riska Lie Fany
Persembahan tarian melayu pada pembukaan acara Warkop Antro oleh mahasiswi Antropologi.
Fotografer : Riska Lie Fany

Acara utama menyuguhkan diskusi ringan yang akan membahas mengenai hal-hal saat ini dan juga apa yang terjadi di masyarakat sekarang ini. Seperti halnya, bagaimana seharusnya kita sebagai mahasiswa yang berpendidikan tahu cara menjaga untuk tetap berbudaya dan melestarikannya. Lewat diskusi ringan Warkop Antro ini akan menambah wawasan kita untuk mau terus melestarikan budaya kita saat ini.

Dengan tema Pelestarian Budaya Di Era Globalisasi, diharapkan identitas budaya Indonesia tetap terjaga dan tidak dilupakan bagi generasi muda sekarang. “Kenapa mengakat tema seperti itu, kenapa mengangkat tema pelestarian budaya karena kita semakin lama semakin tergerus zaman dan kita kehilangan identitas. Seperti di Sumatera Utara kita yang multikultural, yang terjadi pertama konflik antar etnis selain itu juga pemuda-pemuda saat ini tidak lagi mencerminkan dirinya sebagai seorang etnis ataupun berbudaya di daerahnya, namun sudah mulai mengikuti budaya barat. Dengan gaya mereka yang suka musik barat dan lainnya. Bukan kita menentang musik barat tapi yang pasti kita punya identitas, kenapa kita tidak menjaga identitas kita sendiri itu tujuan sebenarnya. Kenapa kita buat seperti ini, itu sebenarnya yang utama, tetap dalam memorinya kawan-kawan semua bahwasannya kita punya budaya yang seperti ini. Ini yang harus kita lestarikan sampai kapan pun budaya ini harus tetap ada,” jelas Mar’ie Muhammad.

“Harapannya untuk jaga budaya, harapan aku sebernarnya kita hidup di bumi Indonesia, kita hidup di tanah Indonesia, kenapa kita harus lebih cinta dengan barat, dengan label Amerika ataupun label England atau label-label asing lainnya. Aku pikir menjadi seorang Indonesia paham dia berpijak dimana dan paham bagaimana kedudukannya sabagi manusia di Indonesia,” tutur Mar’ie dengan sangat tegas ketika ditanya mengenai harapan untuk para mahasiswa yang ada di jurusan Antropologi maupun mahasiswa USU atas kegiatan terhadap pelestarian budaya ini.

Sama halnya dengan Mar’ie sebagai ketua panitia, mahasiswa Antropologi juga memiliki pemikiran yang sama atas harapan mereka terhadap pelestarian budaya ini. “Sesuai dengan temanya pelestarian budaya, dimana Antropologi itu lebih memandang ke arah budayanya jadi itu juga agar budaya-budaya kita sendiri tidak hilang jadi kita bisa menjaganya demi masa depan. Harapan semoga acara-acara seperti ini lebih ditambahkan lagi dalam hal membahas budaya, diskusi budaya dan tingkatkan lagi tarian-tarian budaya agar mahasiswa yang tidak tahu menjadi tahu,” ucap Lestarika Saragih stambuk 2014 Antropologi.

“Kalau peminatnya saat ini masih kurang semoga kedepannya peminatnya semakin banyak, semakin ngerti fungsinya ini apa dan untuk apa,” kata Ayu Hartini, mahasiswa Antropologi Stambuk 2014 yang juga turut mengungkapkan harapnnya.

Kegiatan ini didukung dengan mata kuliah yang juga membahas mengenai budaya, yaitu mata kuliah Lokal Jenius dan juga Kearifan Lokal. Di dalamnya itu bercerita bagaimana idenya manusia yang sebenarnya, sehingga melahirkan budaya dan kearifan lokal. Bukan halnya ini saja, namun Antropologi sedang mengembangkan sanggar Pardomuan. Sanggar ini akan mewadahi mahasiswa dalam bidang seni budaya, yaitu musik, drama, tarian, bahkan akan mengembangkan seni lukis dan juga puisi. Forum diskusi mahasiswa Antro dan juga GGArt (GoGreen Art) yang merupakan kegiatan budaya kebersihan dengan mengutip sampah di lingkungan USU setiap hari Minggu. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan untuk semakin membangkitkan lagi semangat mahasiswa Antropologi yang sebelumnya minim akan berbagai kegiatan.

“Yang pertama pengenalan mengenai drama yang menceritakan pelestarian budaya, kemudian kita ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Antropologi itu punya kegiatan. Memang beberapa saat ini mahasiswa Antro minim dengan kegiatannya. Beberapa waktu jarang buat kegiatan ataupun yang lainnya. Untuk menaikkan kembali semangat kawan-kawan mahasiswa Antro untuk itu membuat acara seperti ini. Mudah-mudahan kegiatan ini terus berlajut dan setiap tahunnya ada. Ada dua agenda yang sekarang wajib di Antropologi ini, yang pertama warkop Antro ini dan festival Antropologi,” kata Mar’ie saat ditanya mengenai target  kedepannya untuk acara ini. Kegiatan dengan mengangkat tema melestariakan budaya seperti ini diharapkan terus ada dan berlanjut kedepannya.

Redaktur Tulisan : Maya Andani

Leave a comment