Hits: 89

Atika Putri

Judul                           : Bandar

Pengarang                   : Zaky Yamani

Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal                           : 304 Halaman

ISBN                           : 978-602-03-0428-1

Terbit                           : 2014

Kategori                      : Novel

Pijar, Medan. Bandar merupakan novel fiksi pertama karya seorang jurnalis asal Bandung bernama Zaky Yamani. Dibuka dengan prolog yang menggambarkan kehidupan sebuah gang kumuh di pojok kelam Kota Bandung, Gang Somad. Sempit, berbau busuk, dan kotor. Daerah yang menjadi ikon kemelaratan, kemiskinan, kriminal dan masalah lainnya. Parlan, seorang pemuda berpendidikan yang bercita-cita menjadi seorang pengacara dan bisa keluar dari kesengsaraan kampung itu, sedang dilema karena permintaan ayahnya sangat bertolak belakang dengan cita-cita dan pendidikan yang sedang diambilnya. Ia diminta untuk menjadi penerus bisnis keluarga yang sudah sejak lama dibangun dengan perjuangan oleh neneknya, Dewi, yang luar biasa.

Kembali ke masa tahun 1945 ketika Indonesia baru merdeka. Dewi seorang gadis remaja cantik yang lahir pada masa penjajahan Jepang. Ayahnya, Abdul Halim, memutuskan untuk menikah lagi dengan anak seorang kyai yang sebaya dengan anaknya. Ibu Dewi yang merasa sakit hati, akhirnya tetap bersabar dan menerima keputusan suaminya. Sementara Aminah, gadis yang ingin dinikahi oleh ayah Dewi sangat mencintai Ahmad, seorang pemuda yang bekerja dan mengabdi kepada  keluarga Dewi. Aminah dan Ahmad memutuskan untuk kabur dari rumah. Namun di perjalanan, Aminah tewas karena serangan dari orang suruhan ayahnya sendiri.

Mengetahui kabar duka dari calon istrinya, Abdul Halim akhirnya menjodohkan Dewi dengan sepupu dari Kyai yang anaknya gagal dinikahinya. Dewi tidak terima. Di malam pertama pernikahannya, ia melarikan diri, menyusuri hutan dan pergi ke kota. Ia ingin ke Tasikmalaya. Berharap di sana hidupnya akan berubah dan memulai hidup baru dengan keterampilan yang dimiliki. Namun nahas, di kota ia malah menjadi korban human traficking, kegadisannya direnggut oleh orang yang memperkerjakannya. Ia terpaksa bekerja melayani nafsu birahi lelaki hidung belang untuk bertahan hidup.

Kemudian ia bertemu dengan Ahmad, mantan pengasuhnya di kampung. Ahmad prihatin dengan keadaan Dewi. Ia menawarkan diri untuk membawa Dewi kabur. Dewi setuju dan meminta kesediaan Ahmad untuk menikahinya. Mereka menikah dan tinggal di sebuah Gang bernama Gang Somad. Mereka mulai memperbaiki hidup dengan berjualan. Namun lama-kelamaan banyaknya saingan usaha membuat dagangan mereka menjadi tidak laku. Ahmad kebingungan dan terpaksa menjadi seorang pencuri. Kehidupan memprihatinkan Dewi dimulai lagi ketika Ahmad dipenjara. Ahmad yang pasrah dan kasihan melihat istri dan anaknya, terpaksa meminta Dewi untuk kembali bekerja melayani nafsu lelaki. Dengan berat hati, Dewi melakoni pekerjaan itu kembali. Hingga pada akhirnya Ahmad meninggal di penjara. Dewi menikah lagi dengan Wahid, teman baik Ahmad selama di penjara. Anak Dewi pun sudah bertambah menjadi tiga orang dan semua laki-laki. Ketiga anak Dewi tumbuh menjadi anak yang dianggap jagoan di gang itu. Gopar, yang paling besar, sangat mengerti jungkir balik kehidupan ibunya. Ia kembali sedih melihat ibunya ketika Wahid pun akhirnya meninggal akibat tertembak saat di perjalanan mengantar barang ke Pulau Sumatera.

Dewi bingung bagaimana lagi caranya untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan ketiga anaknya. Ia kemudian menemukan berkas-berkas milik suaminya, Wahid, dan ternyata selama ini Wahid bekerja sebagai supir pengantar ganja ke provinsi lain. Dari sana Dewi berinisiatif untuk meneruskan apa yang telah ditinggalkan suaminya demi mengurus ketiga anaknya yang semakin dewasa dan tumbuh menjadi jagoan kampung. Berbisnis ganja.

Novel ini banyak mengandung sisi feminisme dan emansipasi wanita. Sang penulis menggambarkan sosok Dewi yang tangguh dengan kehidupannya yang sangat berliku. Perjuangan Dewi yang digambarkan sangat membuat kita mengerti akan penderitaan dalam hidupnya. Gaya bahasa yang sederhana dan tidak berbelit sangat membantu kita agar mudah dalam memaknai setiap alur yang diceritakan. Novel ini mengajarkan kita untuk tidak peduli siapa dan bagaimana kita di masa lalu, yang terpenting adalah bagaimana cara kita bersikap dan berusaha keluar dari kesengsaraan.

Zaky Yamani membutuhkan waktu selama 10 tahun untuk menyelesaikan novel ini. Sebuah perjuangan yang luar biasa dan patut dihargai. Novel Bandar ini juga sempat masuk dalam 10 besar Khatulistiwa Literary Award 2014. Untuk itu novel ini pantas untuk dijadikan referensi bacaan Anda.

Redaktur Tulisan : Novita Arum

Leave a comment