Hits: 65
Dinda Nazlia Nasution
Pijar, Medan. Sabtu (08/10), bertempat di Ruang Sidang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), digelar workshop yang dilaksanakan oleh FISIP USU English Club (FISH Club) yang bersinergi dengan Medan Debaters Forum melaksanakan workshop. Acara yang dihadiri 30 peserta dimulai pukul 09.00 – 15.00 ini sukses mengundang dua pembicara, Hot Maringan Samosir, S.Sos, S.E yang merupakan alumni FISIP USU sekaligus pendiri FISH CLUB serta Medan Debaters Forum dan Selamat Husni Hasibuan S.Pd, M.Hum merupakan alumni Universitas Negeri Medan yang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan debat terbukti dengan sederet prestasi debat yang pernah diraih baik skala Provinsi maupun Nasional.
Apalagi di kalangan FISIP USU sendiri diketahui banyak dosen yang concern dan bergabung di organisasi internasional. Dosen Politik FISIP USU yang terpilih sebagai Delegasi Indonesia di ajang Child Rights to the ASEAN Commission on the Promotion and Protection on the Rights of Women and Children (ACWC) for 2013 – 2016 serta pernah menjabat sebagai Vice Chair for the Commission for 2010-2013, Ahmad Taufan Damanik. Hal ini membuktikan keterkaitan isu global dengan kalangan akademisi sangatlah erat.
“International language itu menarik. Karena orang sekarang bakalan nanya kamu Do you speak environment? Do you speak government? Bukannya Do you speak English?,”ujar Hotma. “Banyak mahasiswa yang takut berbicara, tidak berani mengekspresikan ide/pendapatnya dimuka umum. In the end, semua orang kenal debat,orang tahu bagaimana menyampaikan pendapat di publik, dan menerima perbedaan pandangan,” tambah Husni.
Bahasa Inggris itu bukan sesuatu yang bersifat exclusive, melainkan inclusive. Tak berlebihan rasanya jika mengatakan debat yang sehat adalah debat ilmiah, menggunakan critical analyzis serta melibatkan komunikasi dua arah. Sehingga menghasilkan pemikiran yang kritis dan analogi.
Semangat peserta terlihat ketika ada yang bertanya “Dalam debat itu harus mengutamakan public speaking terutama English debate. Nah persoalannya adalah, bagaimana seseorang itu jika ia memiliki kemauan tanpa kemampuan? Atau dalam artian kata ia kurang mampu dalam berbahasa Inggris sementara ia sangat berminat dalam debat?” Pertanyaan ini kemudian dijawab Hotma secara diplomatis “Saya mempercayai bahwasanya as frequent you use, the more chances you get. Yang artinya adalah semakin kamu melatih/mengasah kemampuan bahasa inggris, maka akan semakin terbuka/mudah peluang positif untuk kamu,”.
Lebih lanjut, Husni menjelaskan dalam ‘tubuh’ debat ada empat hal yang harus dibedah, yaitu Assertion (pernyataan yang tegas), Reasoning (penalaran/argument yang jelas), Evidence (bukti/fakta/data), dan Linkback (rangkuman dari keseluruhan) atau yang biasa disingkat dengan prinsip AREL untuk memudahkan mengingat.
Meski workshop ini terkendala dengan listrik padam yang mengakibatkan berbagai kendala teknis, hal ini tidak menyurutkan antusiasme peserta untuk berani mengungkapkan argumennya saat sesi latihan debat berlangsung. Pada uji coba Motion This House Would Expell Bulliers From School para peserta diminta untuk menuliskan pendapatnya mengenai persoalan tersebut. Ada yang menyetujui dan ada pula yang menolak.
Ayulia Hasanah selaku Presiden FISH Club periode 2016-2017 mengungkapkan FISH Club merupakan satu satunya komunitas bahasa inggris di FISIP USU yang berdiri pada tahun 2009 yang dibentuk untuk memfasilitasi teman-teman yang ingin berkompetisi dalam bidang bahasa Inggris. Ayu berharap semoga kedepannya mahasiswa menjadi lebih aktif dan termotivasi untuk semakin kuat berkompetisi dalam debat bahasa inggris. Berharappihak fakultas harus pay more attention terhadap karya yang mahasiswa buat.
Hotma mengatakan awal mula dibentuk FISH Club ketika FISIP USU mengirimkan tim debat ke lomba USU Debating Championship pada tahun 2009 dan berhasil keluar sebagai juara tiga. Dimulai dari sana serta atas saran teman-teman dan pihak fakultas yang ingin mengembangkan bahasa inggris, kemudian tercetuslah ide “FISH Club”. “Understand and familiar with global issues is the key for staying competitive” tandasnya.
