Hits: 10

Hendro Joko Pryono

Pijar, Medan. Medan International Coffee Pestifal 2016 diselanggarakan mulai tanggal 13 – 15 Mei 2016 di Atrium Hermes Place Polonia, Jl. W. Mongonsidi No.45 Polonia, Medan. Acara yang sudah diadakan pada tahun ke tiga, kali ini mengusung tema “Spirit Of Sumatera Coffee”  yang bertujuan untuk membangun anak-anak muda, agar lebih mencintai kopi Sumatera dan untuk meningkatkan konsumsi kopi Sumut dimasyarakat.

Acara yang berlangsung dalam tiga hari ini selain menyuguhkan berbagai jenis kopi nusantara, juga menampilkan acara yang lain seperti Coffe Education ( Talkshow with Coffee Expert), Buyer and Seller Meeting, Cupping Session, Barista Throw Down Latte Art Competition, Culture Performance, Coffee Night Party, Tatto Exhibition, & Coffee Song Competition.

Dalam acara Coffe Education ( Talkshow with Coffee Expert)  panitia mengadakan diskusi yang mengusung tema “Prasarana Sebagai Peningkatan Industri Parawisata Kota Medan” menampilkan pembicara Hendra Gunawan mewakili Apara (Asosiasi Perusahaan Penyelenggara dan Pelaksana Acara), cahyo dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia, Etriman Abidi Anggota DPRD Sumatera Utara, Safrin dari Ketua Harian Perhumas (perhimpunan praktisi humas). Diskusi ini membahas tentang potensi perdagangan, peran pemerintah untuk menjadikan kopi sebagai icon parawisata, dan tentunya bagaimana peluang kopi Sumatera Utara dalam meningkatkan perekonomian.

Indonesia merupakan negara terbesar ketiga penghasil kopi di dunia setelah Brazil dan Vietnam dengan produksi rata-rata sebesar 685 ribu ton per tahun (8,9%) dari produksi kopi dunia. Sedangkan Sumatera Utara sendiri tahun lalu telah mengekspor 60ribu ton.

Peran pemerintah sendiri masih terlalu berfokus kepada mengekspor kopi, belum maksimal terhadap pengolahan dan  peningkatan konsumsi kopi nusantara di masyarakat.  Ada tujuh unggulan kopi dari Indonesia, dua diantaranya dari Provinsi Sumatera Utara yakni kopi lintong dan Mandailing. Namun, kedua jenis kopi tersebut sampai saat ini belum bisa menjadi andalan dan pilihan bagi penikmatan kopi di Indonesia bahkan di kampung sendiri Kota Medan.

“Sebenarnya, kopi yang ada di Amerika itu asalnya dari Indonesia. Ada tujuh jenis kopi andalan di Indonesia, kita berbangga bahwa dua diantaranya berasal dari provinsi Sumatera Utara, kopi lintong dan kopi mandailing. Apa peran pemerintah untuk membantu? harusnya, pemerintah membantu dulu nanti jika sudah jalan baru dilepas, jadi nantinya juga kan ada pemasukan untuk pemerintah,” Ungkap Safren dari Perhumas saat diskusi mengenai kopi asal Sumatera Utara yang sampai saat ini belum bisa dikonsumsi masal di masyarakat.

Jpeg
Antusiasme pengunjung yag hadir  mencoba  menikmati beberapa jenis kopi sumatera dalam Medan International Coffee Pestifal 2016

Antusias masyarakat Sumut cukup baik, terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang menghadiri. Mulai dari yang hanya sekedar melihat-lihat hingga mencoba untuk menikmati kopi. Dengan mengikuti Medan International Coffee Pestifal 2016 sebenarnya kita dapat mengetahui bagaimana cara meracik kopi, mencium harum aroma kopi yang berkualitas dan tentunya menikmati cita rasa kopi. Menikmati kopi harusnya tanpa menggunakan gula, agar  originaly rasa dari jenis kopi yang kita rasakan tetap terjaga. Jika kita menambahkan gula kedalamnya, tentu rasanya akan berubah dan kenikmatannya juga berubah pula.

 “Aku disini sudah ikut buat kopi didepan tadi, disitu kita diajarin gimana menghirup aroma coffee yang benar  itu seperti apa, kemudian mencicipi kopi itu dan sebenernya disarankan minum kopi itu gak pakek gula harus original. Karna dengan ditambahnya gula maka nanti akan ada peberubah rasa,” ungkap  Hendra salah satu pengunjung yang ikut menikmati  beberapa jenis kopi dalam pameran Medan International Coffee Pestifal 2016.

Menurut Azizah Fazirah sebagai ketua panitia, pemerintah masih kurang memberikan perhatian dan fasilitas kepada para petani. Ada dua jenis kopi Sumatera Utara yang terkenal yakni Kopi Lintong dan Mandailing. Harusnya kedua jenis kopi ini di angkat oleh pemerintah Sumatera Utara, tidak harus mengekspor keluar negeri saja. Sehingga nantinya para anak-anak muda tidak hanya menikmati kopi yang dijual sachet  melainkan mengetahui dan dapat menikmati kopi asal Sumut.

“Semoga melalui event ini, Harapannya Pemerintah membuka diri dan memfasilitasi petani agar bisnis kopi menjadi bisnis yang besar sehingga menjadi ikon baru di Sumut,” ungkap Azizah Fazirah.

 

Leave a comment