Hits: 25
Grace Kolin
Media, Pijar. Study in Japan Fair 2015, untuk kedua kalinya menyapa pelajar-pelajar muda Medan di Ballroom Washington & New York, Hotel JW Marriott (24/10). Sebelumnya, acara yang serupa, diadakan pada 2 Maret yang lalu. Sejak pukul 10.00 pagi tadi, ruangan pameran pendidikan sudah ramai dipadati siswa-siswa SMA se-Kota Medan berbaju Pramuka. Mereka datang dari berbagai sekolah yang berbeda, dibimbing guru Bahasa Jepang masing-masing.
Pameran ini bekerjasama dengan Konsulat Jendral Medan dan enam institusi pendidikan Jepang, di antaranya ada Shinjuku Tokyo Japan Japanese Language School, Kampus Hikichi Toyo Akademi Budaya International, Aiwa Language Institute Japanese Language School, Ken Sekolah Bahasa Jepang, Fukuoka Sekolah khusus Bahasa Asing, dan Bunka sekolah Fashion. Selain itu, komunitas jejepangan Shaberoukai juga ikut melengkapi stand pendidikan dengan mainan-mainan edukatif ala Jepang, misalnya seperti origami, kotoba asobi, kunitori, kotozawa, daruma kotoshi, kendama, topeng tengu, dan kucing pembawa keberuntungan, manekineko.

Foto : Grace Kolin
Mengusung konsep yang berbeda dari acara di tahun-tahun sebelumnya, panitia Study in Japan Fair 2015 menyediakan jasa mencoba pakaian tradisional khas Jepang, yukata, secara gratis. Peserta pameran pendidikan, khususnya kaum hawa, tampak antusias mengenakan berbagai macam warna yukata dan berfoto dengan gawai pintarnya. Buku, majalah, dan brosur tentang pendidikan Jepang dari berbagai judul juga bisa dibawa pulang peserta secara cuma-cuma.
Tak ketinggalan, dua agenda menarik seminar pendidikan Jepang di ruangan sebelah kiri dan upacara minum teh (chanoyu) pada jam 12 siang ke atas. Sebelum kedua agenda terlaksana, terlebih dahulu, penampilan tari soran bushi (tarian nelayan Jepang) yang dibawakan oleh klub tari Shiawase SMKN 1 Kota Medan menghentak semangat peserta. Sembilan penari berkostum biru laut dengan ikat kepala putih yang melingkar erat di kepala mereka dengan penuh tenaga meneriakkan Yokoso! Yokoso! Dan Sora! Sora! di sela-sela tarian mereka.
Dalam seminar tersebut, materi dihantarkan oleh Khadijah dan Ria Damayanti, dua staf berpengalaman dari Konjen Jepang Medan selama kurang lebih dua jam. Seminar diselingi oleh presentasi dan diskusi interaktif yang membuka wawasan peserta pameran pendidikan. Khadijah menerangkan, ada tujuh jalur beasiswa pemerintah Jepang (Monbukagakusho/MEXT) yang bisa ditempuh oleh akademisi di Indonesia. Mulai dari beasiswa jalur D2, D3, S1, S2, S3, Program penataran guru, dan Program Japanese Studies.
Sedangkan Ria Damayanti, memaparkan pengalamannya yang menarik selama mengambil beasiswa S2 di Shizuoka, Jepang. Alumnus S2 Jurusan Agrikultural ini telah banyak menikmati suka duka kehidupan selama tiga setengah tahun tinggal di Negeri Sakura.
“Waktu itu, pas saya di sana baru tumbuh rasa nasionalisme. Sebenarnya, lebih tinggi disana, karena pada saat orang tanya, Indonesia seperti apa, saya jadi cari tahu informasi dan pengen share yang menarik tentang Indonesia.”
Banyak orang yang ingin sekolah di Jepang, mengeluhkan soal biaya sekolah dan biaya kehidupan yang sangat mahal. Padahal sebenarnya, dengan kerja paruh waktu, mereka bisa lebih mudah menjalani kehidupan sehari-hari di sana. Ria sendiri menambahkan, dengan kerja part-time di Jepang, selain kita bisa mendapat uang saku tambahan sekaligus melatih kemampuan bahasa Jepang kita. Jadi, kerja paruh waktu sangat disarankan bagi mahasiswa asing supaya lebih mengenal jauh negara tempat ia menimba ilmu dan bertahan hidup, khususnya di Negara Jepang.
So, tunggu apalagi? Ayo sekolah di Jepang!

