Hits: 392
Alfi Rahmat Faisal
Pijar, Medan. Satu satu daun jatuh kebumi..
Satu satu tunas muda bersemi..
Tak guna menangis tak guna tertawa..
Redalah reda..
Tak ada yang abadi, pun waktu yang tak mau menunggu walau sedetik, semua akan tergantikan. Begitulah makna yang ingin digambarkan Iwan Fals dari penggalan bait lirik lagu diatas. Setelah malang melintang dengan lagu-lagunya yang fenomenal, Iwan Fals hadir kembali dengan single terbarunya. Jika dulu sang maestro dikenal dengan lagu-lagunya yang tajam mengangkat tema kritik sosial dan perpolitikan bangsa, akhir-akhir ini bang Iwan lebih serius menggarap lagu dengan tema tentang alam dan lingkungan.
Seolah mengingat umur yang kian menua, kali ini Iwan Fals memposisikan diri sebagai generasi tua yang ingin berpesan kepada generasi muda. “Satu-satu” adalah salah satu bukti tangan dingin Iwan. Pemilihan judul yang sederhana namun memiliki makna yang dalam. Lirik-lirik sederhana namun seolah bercerita banyak tentang generasi yang mulai menua karena usia, mau tidak mau tidak mau harus digantikan oleh yang muda sebagai generasi penerus. Bukan lagi berjuang dengan senjata dan perang, namun berjuang untuk nama baik dan mengharumkan bangsa.
Satu satu tunas muda bersemi..
Mengisi hidup gantikan yang tua..
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa..
Redalah reda..
Tak peduli seberapa lama kau hidup, apa saja yang telah kau lewati, yang pasti waktu terus bergulir, yang tua akan tergantikan oleh yang muda, ibarat daun yang jatuh berguguran kemudian tergantikan oleh tunas-tunas muda yang bersemi. Karena hidup tak seperti bait puisi Kharil Anwar yang ingin terus hidup seribu tahun lagi. Semua tergantikan, regenerasi bersama alam.
Lirik yang sederhana, alunan petikan gitar dan suara khas Iwan Fals menambah kesan kuat lagu ini. tak peduli lagu bertema kritik sosial ataupun tema lingkungan, sang maestro tetap luar biasa dengan karyanya.
Well Done Legend..

