Kehebatan kualitas kreatifitas tidak selalu didukung materi, tetapi bagaimana suatu pertemanan mampu saling memberi inspirasi dalam mengembangkan bakat dan kemampuan. Itulah yang dilakukan komunitas film indie asal Medan, Opique Pictures yang terbentuk sejak 9 Januari 2008.

Semangat Kebersamaan Opique Pictures

Pijar, Medan. Kehebatan kualitas kreatifitas tidak selalu didukung materi, tetapi bagaimana suatu pertemanan mampu saling memberi inspirasi dalam mengembangkan bakat dan kemampuan. Itulah yang dilakukan komunitas film indie asal Medan,  Opique Pictures yang terbentuk sejak 9 Januari 2008.

Awalnya adalah kebersamaan membuat film yang hanya mengandalkan kamera telepon genggam. Itu tidak membuat Opique Pictures patah semangat untuk menggali kemampuan sinematografinya. Peningkatan kreatifitas ini membuat mereka semakin percaya diri mengikuti aneka perlombaan nasional, bahkan terbiasa menyabet berbagai penghargaan.

Dijumpai di Panti Asuhan Ade Irma Suryani Nasution, Jalan Cik Ditiro (22/4), mereka sedang mengambil gambar untuk film Marjinal. Film ini mengisahkan Kulog, pengamen yang berjuang sendiri membiayai pendidikan adiknya, karena orang tuanya sudah meninggal dunia. Karena penghasilan sebagai pengamen tidak cukup, Kulog memutuskan menjual narkoba. Opique Pictures juga menambahkan bumbu-bumbu percintaan agar film jadi lebih berasa dan tidak membosankan.

Opique Pictures sadar membuat film memang memeras banyak tenaga, biaya, dan waktu. Persiapan produksi Marjinal direncanakan akan memakan waktu 8 bulan. Ridho Pratama, sutradara Marjinal mengaku rancangan biaya produksi akan menelan hingga 102 juta rupiah. Namun, berkat kekompakan Opique Pictures biaya tersebut bisa ditekan. Misalnya saja ketika memakai lokasi panti asuhan Opique Pictures mengaku dapat menggunakannya secara gratis. Begitu pula untuk mencari pemain, komunitas yang diketuai Ridho Pratama ini, mengandalkan pemain yang memang mau bergabung secara sukarela. Walau demikian Opique Pictures tidak asal memilih pemain, mereka tetap mengadakan casting untuk menyeleksi pemain mana yang memang pantas untuk tampil di film yang mulai diproduksi sejak 16 Februari 2012 ini.

“Ya, kami tetap melihat apakah pemainnya cocok dari segi wajah, kemampuan peran, dan karakternya,” jelas Ridho Pratama. Setelah melewati proses seleksi, pemain diharuskan mengikuti karantina selama dua minggu agar mereka menemukan karakter dan menghayati peran yang mereka ambil. Kata Ridho lagi, hal paling penting untuk bermain di film ini adalah pembinaan hubungan nyaman antara kru dan pemain.

“Saya juga nggak menyangka bisa bergabung dengan tim Opique Pictures. Karena saya suka seni peran, saya memang menikmati karakter yang saya mainkan. Apalagi saya sudah tidak canggung lagi dengan orang-orang baru,” jawab Fany yang berperan sebagai Sofy.

Opique Pictures berharap film ini rampung pada akhir Mei atau awal Juni. Rencana berikutnya mereka akan menggelar acara pemutaran film di 10 sekolah dan 10 perguruan tinggi di Medan. “Agar orang-orang melihat indie spirit Opique Pictures,” kata Ridho. Komunitas ini membuktikan bahwa dalam meraih suatu penghargaan tidak harus dengan modal yang kuat dahuku, tetapi bagaimana kita memanfaatkan modal yang sederhana ditambah kebersamaan, tentu saja. [inri, awi]

3 comments

  1. mksih byk ya uda mau liput
    doain film kita ini cepat rampung ya

    🙂

  2. klo itu mah gampang…
    tunggi hasil yg gak pernah kmi rencanai ya
    krena bakal ada hentakan n kejutan dalam film kita ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *