Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau 1 Muara, hingga Anak Rantau adalah hasil buah tangan dingin dari seorang mantan wartawan TEMPO. Tangan dingin Ahmad Fuadi mampu meracik cerita-cerita yang berlatar Minang, suku asalnya yang terkenal akan merantau.
Menjadi pemuda yang tangguh adalah keharusan bagi setiap manusia yang mulai memasuki fase pematangan pola pikir dan berproses untuk mengejar impian. Sering juga dalam mengejar cita-cita, pemuda memilih untuk hijrah/berpindah demi mendapatkan ilmu dan pengalaman yang banyak. Hal ini persis seperti yang dilakukan oleh Walid, pemuda yang mewakili Sumatera Utara dalam program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) 2019.
Sore ini salah satu kedai kopi yang tak jauh dari kampus hijau dipadati oleh suara-suara yang berdesakan menuju topik demonstrasi mahasiswa. Jauh sebelum sore tak bertepi ini terjadi, tertulislah dalam sejarah kisah mahasiswa bernama Soe Hok Gie. Pemuda yang kini namanya hidup sepanjang reformasi, walau sesungguhnya ia tak punya banyak waktu untuk pertiwi.
Lantas bagaimana ia bisa menjadi seorang Public Speaker seperti sekarang? Berbagai prestasi yang dimilikinya tentu tidak didapat dengan proses yang instan. Untuk menjadi sukses, tidak cukup hanya bermodal paras cantik saja, itulah yang ada di benak Aziva Zahrianis.
Rassya Priyandira salah satunya, pemuda kelahiran 19 Januari 2001 ini sudah tertarik dengan dunia puisi sejak duduk bangku sekolah. Hobinya itu mengantarkan ia menyabet beberapa juara pada kompetisi musikalisasi puisi, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
Shitaaram adalah gadis kelahiran Selangor, Malaysia 6 September 1996 yang sudah tinggal di kota Medan sejak berumur 5 tahun. Status kewarganegaraannya sudah menjadi warga negara Indonesia sejak ia berusia 18 tahun. Hal ini menjadi cerita unik di balik perjalanannya untuk bisa lulus seleksi PPAN 2018 lalu.
“Tidak masalah kita jadi ikan kecil di kolam besar yang isinya ikan besar, daripada jadi ikan besar di kolam kecil yang isinya ikan kecil. Artinya tidak masalah kita biasa saja tetapi berada di tengah-tengah orang hebat. Life is a choice, choose a good choise.”
“Dadio wong ing paran, lan sinauo teko paran.”
Artinya, jadilah pejalan dan belajarlah dari perjalananmu.”
Pijar, Medan. Bahagia itu sederhana. Hanya dengan melakukan hal-hal yang kita senangi maka kebahagiaan itu akan tercipta. Ada orang yang senang melukis, bermain musik, memasak, fotografi, videografi, dan masih banyak lagi.
Pijar, Medan. Pendidikan merupakan hal yang penting, namun mencari dan melatih skill di luar pendidikan sekolah juga tidak kalah penting. Seperti sosok Hasan Al Banna yang akrab disapa Hasan, pria kelahiran Padang Sidempuan, 3 Desember 1978 ini merupakan pegawai Balai Bahasa Sumatera Utara—Kemendikbud, penyair, penulis prosa, esais, dan pekerja seni pertunjukan.
“Semua yang dilakukan sampai sekarang adalah pengalaman tak terlupakan, setiap pengalaman memiliki pelajaran yang tak ternilai khususnya dalam pengembangan diri.” – Siti Mei Syarah
