Hits: 192
Grace Kolin
Pijar, Medan. Hujan deras di pagi hari tak sedikit pun menyurutkan semangat mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP USU untuk berguru bersama praktisi copywriter yang berpengalaman, Budiman Hakim. Lewat kuliah umum bertajuk “Berpikir Kreatif untuk Menulis Iklan Kreatif”, Budiman Hakim yang akrab disapa Om Bud membagikan jurus pamungkas untuk menghasilkan ide brilian iklan yang menarik di Ruang Sidang FISIP USU (19/7).
Diselingi dengan contoh iklan grafis dan video, Om Bud mengajak mahasiswa untuk berpikir kreatif. Tidak melulu menjabarkan teori, Om Bud menantang mereka untuk menggabungkan kedua benda nyata (tangible) untuk menciptakan iklan yang SUPER “A” (Simple, Unexpected, Persiasive, Entertaining, Relevant dan Acceptable).
Eksplorasi BH (dari inisial Budiman Hakim), Satu benda simbol ganda. Begitu Om Bud menamakan teknik tersebut. Sebagai salah satu contoh, mahasiswa diberi case untuk menciptakan pesan produk pizza yang merepresentasikan Hari Natal. Maka, dalam trik tersebut, potongan pizza dibalik serupa dengan pohon natal dan ditambahkan tulisan Merry Christmas dibawahnya untuk mempertegas pesan iklan tersebut.
Proses menulis iklan kreatif itu sebaiknya simpel dan tidak njelimet. Seperti itulah mindset yang ditanamkan Om Bud kepada mahasiswa. Ia membebaskan mereka untuk mengeksplorasi imajinasi lewat brainstorming yang tak jarang pula memancing gelak tawa. Sambil menerka, sambil belajar. Ide-ide yang terucap ditampung untuk kemudian diselaraskan dengan kunci jawaban yang telah tersedia di slide presentasi.
Om Bud juga tak lupa mengingatkan untuk menulis dan berkarya. Paling tidak, satu buku untuk sekali seumur hidup. Menurutnya, dengan berkarya nama manusia akan tetap awet dalam sejarah. Contohnya, seperti Chairil Anwar. Tidak menutup kemungkinan pula dengan menulis peluang kerja sebagai copywriter terbuka lebar. Asal, karya tulisan itu tetap berlandaskan pada sikap kreatif (creative attitude) yang baik.
“Janganlah menganggap berkarya itu ribet atau sulit. Tulisan kita di blog itu sudah termasuk sebuah karya. Tweet kita di Twitter, itu juga karya. Status FB juga adalah karya. Begitu juga foto-foto kita di Instagram. Jika seandainya kita setuju bahwa semua itu adalah karya, sangat wajar dong kalau dalam mengerjakannya kita juga melakukannya dengan creative attitude,” kata Om Bud.
Lanturan tapi relevan. Topik hangat yang dibawakan Om Bud dalam sesi kuliah umum perdananya di FISIP USU menjadi sarana untuk merangsang cara berpikir kreatif mahasiswa. Boleh ngelantur sebebas-bebasnya, asal tetap pada jalur yang relevan. Demikian kiat yang diajarkan Om Bud agar mahasiswa tidak membatasi ruang gerak imajinasinya.

(Fotografer: Putri Arum Marzura)
Azka Fikri, Mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2017 yang juga merupakan salah satu peserta yang mengikuti kuliah umum ini menyambut baik maksud kegiatan ini. Bersama teman-temannya di barisan bangku kedua dari depan, ia aktif mencari-cari jawaban atas case yang dibacakan Om Bud.
“Jadi kami dapet ilmu, bagaimana sih caranya membuat iklan itu sebenarnya. Walaupun dua jam tapi itu bermanfaat sekali. Iklan itu nengoknya enak sih, tapi ternyata di belakangnya gini. Memikirkannya itu payah karena harus unik dan menghibur. Jadi kita harus menyatukan unik dan menghibur supaya bisa laku di pasaran,” pungkas Azka.
Tidak hanya berprofesi sebagai copywriter, di usianya yang tengah menginjak kepala lima, Om Bud telah melahirkan sederet judul buku iklan dan copywriter populer, seperti Lanturan Tapi Relevan, Dasar-dasar Kreatif Periklanan (2005), Ngobrolin Iklan Yuk! (2007), Sex After Dugem: Catatan Seorang Copywriter (2008), Si Muka Jelek (2010), Go West and Gowes (2012), Saya Pengen Jadi Copy Writer (2015), Saya Pengen jago Presentasi (2015), dan Saya Pengen Jadi Creative Director (2016).

