Hits: 5
Alya Zahra Putri / Siti Farrah Aini
Pijar, Medan. Lagi-lagi berlatar di Kota Jakarta. Tempat semuanya tampak megah, walau beberapa terseok menyambung kehidupan. Buku Dua Dini Hari mengungkap segala hal yang tumpang-tindih dari kota metropolitan, baik kemanusiaan maupun keadilan, terutama untuk mereka yang terpinggirkan.
Buku Dua Dini Hari merupakan debut perdana sang penulis, Chandra Bientang. Karyanya ini sukses menyabet dua penghargaan berskala nasional, yaitu Best Novel dan Best Crime Drama & Thriller dalam Scarlet Pen Awards 2020 yang diselenggarakan oleh Crime Fiction Author Indonesia dan Komunitas Detectives Indonesia. Lewat 208 halaman yang menyentuh nurani, Chandra tidak hanya menceritakan misteri yang membuat pembaca bergidik, tetapi juga membedah kenyataan pahit tentang hukum dan relasi kuasa di tanah air.
“Enggak usah muram baca berita-berita miris, mending cobain jajanan ibu kota yang lagi hits!” – halaman 154.
Ironisnya, penggalan kalimat dalam Dua Dini Hari tersebut sedang mendeskripsikan minimnya kesadaran manusia. Untuk mereka yang mungkin tidak pernah diketahui kehadirannya atau bahkan tiada yang mau tahu tentang mereka.
Kisah ini berawal dari ditemukannya tiga anak jalanan yang tewas tergantung di flyover Jatinegara. Bukannya ditangani secara sigap, kematian anak-anak nirkuasa ini justru ditanggapi dingin oleh aparat kepolisian. Di sinilah Chandra memperlihatkan betapa murahnya harga nyawa rakyat kecil di mata mereka yang memiliki kuasa ketika korban “dianggap” tidak punya status sosial.
Meski dengan enggan, akhirnya penyelidikan tetap dilaksanakan. Namun, pemikiran semua orang sama, yaitu bahwa mereka hanya anak jalanan, lebih baik disingkirkan.
Bak terang di tengah gelap, Chandra tetap menyisipkan mereka yang memutus pemikiran nirempati, berusaha mencari benang merah di tengah pilinan yang kusut. Elang muncul, sebagai seorang pemuda sedikit naif yang terjun dengan kesadaran penuh demi mencari kebenaran. Disusul oleh Kanti, seorang pemudi yang mencari tahu lewat malamnya yang resah dan bermodal kisi-kisi dari mimpi. Dua warga biasa ini berjuang memecahkan misteri di tengah kepungan sistem yang enggan peduli.
Di sisi lain, potret penegak hukum dalam ceritanya juga digambarkan sangat dilematis. Ranggalawe, polisi yang diceritakan masih memiliki nurani murni pun tetap harus berbenturan dengan tembok tinggi hierarki kepemimpinan. Ia terus bergelut antara menuruti perintah moralnya sendiri atau tunduk pada atasan yang dikendalikan oleh kepentingan elit.
Ketiadaan independensi aparat kepolisian tersebut menunjukkan bahwa hukum sering kali bergantung pada siapa yang memegang kendali. Mereka yang tidak punya kuasa menjadi kelompok rentan yang sengaja diabaikan. Sementara itu, pujian dan penghambaan mengerubungi siapa saja yang memangku kekuasaan. Inilah kritik Chandra untuk realitas sosial: tidak ada hukum yang benar-benar mau melindungi mereka yang tidak berkuasa.
Meski akhir cerita disampaikan secara implisit, Chandra tidak gagal menggambarkan tokoh demi tokoh untuk menyorot betapa mahal dan penuh diskriminasinya keadilan. Dua Dini Hari membuka mata pembaca bahwa mereka yang terpinggirkan sangat butuh perlindungan. Buku ini menjadi kritik, sekaligus refleksi atas mirisnya struktur sosial di kehidupan.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

