Hits: 13
Tevy Ulani S Depari
Pijar, Medan. Memiliki teman yang selalu menjadi tempat bercerita, diajak pergi, bertukar kabar setiap hari, bahkan tahu berbagai sisi diri yang jarang diperlihatkan kepada orang lain, tidak selalu berarti hubungan tersebut adalah hubungan romantis. Ada kalanya dua orang bisa begitu dekat secara emosional, tetapi tetap memilih untuk menjadi teman. Kedekatan seperti ini dikenal dengan istilah Platonic Relationship, atau Hubungan Platonik.
Dilansir dari healthline.com, Platonic Relationship merupakan hubungan yang dekat dan penuh kasih sayang, tetapi tidak melibatkan ketertarikan romantis maupun seksual. Hubungan ini dapat tetap memiliki kedekatan dan komitmen yang kuat seperti hubungan lainnya, hanya saja tidak didasari keinginan untuk menjadi pasangan romantis.
Istilah “platonik” sendiri berkaitan dengan filsuf Yunani kuno, yaitu Plato. Dalam perkembangannya, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan bentuk kedekatan yang tidak berorientasi pada hubungan romantis atau seksual. Karena itu, memiliki sahabat yang sangat dekat tidak otomatis berarti salah satu pihak sedang menyimpan perasaan.
Hal tersebut juga yang membedakan hubungan platonik dengan fenomena Friendzone. Dalam Friendzone, biasanya terdapat ketidakseimbangan perasaan karena salah satu pihak menginginkan hubungan romantis, sedangkan pihak lainnya hanya menganggapnya sebagai teman. Sementara dalam Platonic Relationship, kedua pihak memahami hubungan tersebut sebagai kedekatan non–romantis.
Menariknya, Platonic Relationship juga tidak hanya berlaku bagi dua orang yang berbeda jenis kelamin. Hubungan sesama perempuan, sesama laki-laki, maupun antara laki-laki dan perempuan, sama-sama dapat menjadi Platonic Relationship. Hal yang menentukan bukan jenis kelamin orang-orang di dalamnya, melainkan ada atau tidaknya unsur romantis dalam hubungan tersebut.
Karena itu, anggapan bahwa laki-laki dan perempuan yang dekat pasti memiliki hubungan spesial tidak selalu tepat. Dua orang bisa sering pergi bersama, saling bertukar cerita, saling membantu, bahkan menjadi orang pertama yang dicari ketika sedang menghadapi masalah, tetapi tetap tidak menginginkan hubungan romantis.
Bentuk kedekatan seperti ini sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Di tengah tugas kuliah, kegiatan organisasi, jadwal yang padat, hingga masalah pribadi, teman dekat bisa menjadi tempat untuk beristirahat sejenak dari berbagai tekanan. Tidak harus selalu memberikan solusi, terkadang memiliki seseorang yang bersedia mendengarkan cerita setelah menjalani hari yang melelahkan saja sudah cukup membuat seseorang merasa tidak menghadapi semuanya sendirian.
Platonic Relationship juga dapat menjadi salah satu bentuk support system. Seseorang dapat berbagi keresahan, meminta pendapat, mencari semangat, atau sekadar menghabiskan waktu bersama tanpa adanya tuntutan untuk menjadi pasangan. Dalam hubungan yang sehat, dukungan tersebut berjalan dua arah sehingga kedua pihak sama-sama merasa dihargai dan didengarkan.
Namun, kedekatan yang kuat bukan berarti platonik selalu berjalan tanpa masalah. Salah satu tantangan yang mungkin muncul adalah perubahan perasaan. Hubungan yang awalnya murni sebagai pertemanan dapat menjadi rumit ketika salah satu pihak mulai memiliki ketertarikan romantis, sedangkan pihak lainnya tetap melihat hubungan tersebut sebagai persahabatan.
Situasi tersebut lebih mungkin menjadi perhatian dalam persahabatan antara laki-laki dan perempuan karena kedekatan mereka terkadang lebih mudah dianggap sebagai hubungan romantis oleh orang lain. Meski begitu, adanya kemungkinan perasaan berubah bukan berarti setiap persahabatan lawan jenis akan berakhir menjadi hubungan romantis.
Penelitian Reeder (2000) mengenai cross-sex friendship menunjukkan bahwa ketertarikan romantis merupakan salah satu bentuk ketertarikan yang dapat muncul dalam persahabatan lawan jenis. Namun, bentuk ketertarikan persahabatan ditemukan sebagai bentuk ketertarikan yang paling umum.
Karena itu, komunikasi dan batasan menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan platonik. Kedua pihak tidak harus selalu bersama atau mengetahui seluruh kehidupan satu sama lain. Menghargai kesibukan, privasi, dan ruang pribadi justru dapat membuat hubungan terasa lebih sehat. Jika muncul perubahan perasaan atau sesuatu mulai terasa tidak nyaman, membicarakannya secara terbuka juga dapat mencegah kesalahpahaman yang lebih besar.
Kedekatan dengan seseorang tidak harus selalu berakhir sebagai hubungan romantis. Dalam beberapa hubungan, rasa nyaman, dukungan, dan keterbukaan justru dapat berupa persahabatan. Platonic Relationship menjadi salah satu contoh bahwa kedekatan dua orang dapat tetap saling berarti tanpa harus memiliki status sebagai sebuah pasangan.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

