Hits: 30
Yos Nathanael Mahanaim Kaban
Pijar, Medan. Lebih dari tiga dekade kemudian, tragedi mematikan Chernobyl kembali dihadirkan melalui miniseri HBO Chernobyl, yang dirilis pada 2019. Dalam lima episode, serial ini tidak hanya menggambarkan bagaimana sebuah reaktor nuklir mengalami kehancuran, tetapi juga membawa penonton mengikuti orang-orang yang berada di garis depan ketika bencana tersebut terjadi.
Semua terjadi di malam yang sunyi pada 26 April 1986, sebuah ledakan terjadi di kota Pripyat, Ukraina. Reaktor nomor 4 pembangkit listrik tenaga nuklir mengalami ledakan ketika sebuah pengujian sistem keselamatan sedang berlangsung. Orang-orang di sekitar pembangkit belum sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya terjadi. Api berkobar, bangunan reaktor mengalami kerusakan parah, dan material dari inti reaktor terlempar ke sekitar lokasi.
Namun, bahaya terbesar dari tragedi tersebut tidak langsung terlihat. Radiasi tidak memiliki warna, suara, maupun bentuk yang dapat dikenali secara kasatmata. Bagi masyarakat yang berada di sekitar lokasi, kehidupan malam tersebut merupakan malam yang biasa saja sampai kekacauan mulai terjadi. Para pihak petugas pemadam kebakaran datang untuk memadamkan api tanpa sepenuhnya menyadari tingkat bahaya radiasi yang mereka hadapi.
Kisah dalam Chernobyl itu sendiri tidak hanya terletak pada bagaimana kehancuran reaktor nuklir 4 terjadi, tetapi juga pada kisah manusia yang berada di balik tragedi tersebut. Para pekerja, petugas pemadam kebakaran, ilmuwan, hingga masyarakat di sekitar lokasi harus menghadapi situasi yang mereka belum mengerti. Di tengah kepanikan dan minimnya informasi, mereka tetap dituntut untuk mengambil keputusan yang berisiko demi keselamatan masyarakat di kota tersebut.
Salah satu tokoh utama dalam serial ini adalah Valery Legasov, seorang fisikawan nuklir Soviet yang diperankan Jared Harris. Legasov menjadi bagian dari tim yang ditugaskan menangani kecelakaan dan memahami penyebabnya. Bersama Boris Shcherbina, seorang pejabat pemerintah Soviet yang diperankan Stellan Skarsgard, Legasov menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar memadamkan api.
Mereka memiliki tanggung jawab besar dalam mencari apa faktor utama penyebab ledakan tersebut, bagaimana menghentikan penyebaran radiasi dari reaktor nuklir, dan bagaimana mencegah bencana yang lebih besar. Di saat yang sama, terdapat tekanan politik dan birokrasi mengenai informasi apa yang dapat disampaikan.
Serial ini kemudian memperlihatkan benturan antara ilmu pengetahuan dan kepentingan sistem. Bagi para ilmuwan, fakta mengenai reaktor dan radiasi harus dipahami untuk menentukan tindakan yang tepat, tetapi bagi birokrasi, pengakuan terhadap kegagalan dapat membawa konsekuensi politik.
Di luar ruang rapat dan laboratorium, terdapat manusia yang harus menghadapi konsekuensi secara langsung. Chernobyl memberikan perhatian kepada para pekerja dan petugas yang berada di lokasi ketika kecelakaan terjadi. Salah satunya adalah kisah Lyudmilla Ignatenko, yang diperankan Jessie Buckley, istri seorang petugas pemadam kebakaran yang terpapar radiasi.
Kisah tersebut memperlihatkan sisi lain dari bencana nuklir. Statistik mengenai radiasi dapat menjelaskan tingkat paparan atau dampak lingkungan, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan apa yang terjadi kepada sebuah keluarga ketika seseorang yang mereka cintai menjadi korban. Karena itu, tragedi Chernobyl dalam serial ini tidak berhenti pada angka. Ia hadir melalui wajah, hubungan keluarga, ketakutan, pengorbanan, dan kehilangan.
Lebih dari tiga dekade setelah tragedi tersebut, Chernobyl tetap menjadi pengingat bahwa teknologi sebesar apa pun tetap berada di tangan manusia. Kesalahan dapat terjadi, sistem dapat gagal, dan keputusan yang diambil dalam beberapa menit dapat meninggalkan dampak selama puluhan tahun.
Melalui lima episode yang disutradarai oleh Johan Renck, Chernobyl mengubah sebuah tragedi sejarah menjadi cerita tentang manusia. Tentang mereka yang melakukan kesalahan, mereka yang mencoba memperbaikinya, mereka yang berkorban, dan mereka yang berusaha memastikan bahwa kebenaran tidak ikut terkubur bersama reruntuhan reaktor 4.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

