Hits: 5
Ferdi Rakiven Sianturi
Pijar, Medan. Di tengah kehidupan yang serba cepat, banyak orang mulai mengubah cara mereka memaknai hidup, terutama di kalangan anak muda. Jika dahulu kepuasan sering dicari lewat pembelian barang-barang branded serta kebutuhan fashion lainnya, kini arah itu sudah mulai bergeser. Banyak orang yang mulai memilih pengalaman sebagai prioritas utama, seperti liburan, konser, wisata kuliner, kelas hobi, hingga perjalanan yang memberi kenangan berkesan. Perubahan ini dikenal sebagai gaya hidup Experience Driven.
Secara sederhana, gaya hidup ini menempatkan pengalaman sebagai sumber utama. Hal ini lebih berfokus pada apa yang kita alami, daripada apa yang kita miliki. Dalam kajian Experience Economy, konsumen tidak hanya membeli produk atau jasa, tetapi juga mencari keterlibatan emosional, interaksi yang personal, dan kenangan yang membekas. Karena itu, pengalaman sering dianggap lebih bernilai daripada sekadar kepemilikan benda.
Melansir dari skift.com, Generasi Z lebih menghargai perencanaan perjalanan yang fleksibel, pengalaman unik, dan destinasi yang mudah diakses. Sebanyak 75% Genersi Z melakukan dua perjalanan atau lebih dalam setahun terakhir. Mereka lebih mengutamakan pengalaman daripada barang mewah. Menurut Laporan “Tren Perjalanan Global 2023” oleh American Express Travel, 79% responden Generasi Z dan Milenial percaya perjalanan wisata merupakan bagian penting dari alokasi anggaran mereka. Lalu, 84% dari mereka lebih memilih liburan impian daripada membeli barang mewah baru.
Perubahan pola pikir ini tentu tidak terjadi begitu saja. Kehadiran media sosial menjadi faktor utama yang mendorong munculnya gaya hidup ini. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube membuat orang lebih mudah membagikan pengalamannya ke publik. Foto liburan, video konser, atau cerita perjalanan, sering dianggap lebih menarik dibanding memamerkan barang baru. Akibatnya, pengalaman menjadi bagian dari identitas dan cara seseorang mengekspresikan diri.
Selain itu, banyak anak muda mulai menyadari bahwa kebahagiaan dari membeli barang biasanya hanya bersifat sementara. Sebaliknya, pengalaman cenderung meninggalkan kenangan yang lebih lama dan memiliki nilai emosional. Seseorang mungkin akan lupa kapan membeli sepatu baru, tetapi akan terus mengingat perjalanan pertama ke luar kota bersama teman-teman, atau momen menyaksikan artis favorit tampil secara langsung.
Di sisi lain, gaya hidup Experience Driven juga memiliki tantangan. Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa harus selalu mengikuti tren pengalaman demi terlihat menarik di media sosial. Keinginan untuk terus bepergian, mencoba tempat viral, atau menghadiri acara populer, terkadang membuat seseorang mengeluarkan uang di luar kemampuan finansialnya. Akibatnya, pengalaman yang seharusnya memberikan kebahagiaan justru bisa menjadi tekanan sosial.
Karena itu, penting untuk memahami bahwa inti dari gaya hidup ini bukanlah sekadar mengikuti tren, tetapi juga mencari pengalaman yang benar-benar bermakna bagi diri sendiri. Pengalaman sederhana seperti berkumpul bersama keluarga, menikmati suasana alam, atau mencoba hal baru, juga dapat memberikan kebahagiaan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Gaya hidup Experience Driven menunjukkan bahwa makna kebahagiaan terus berubah seiring perkembangan zaman. Banyak orang kini tidak lagi mengejar kemewahan dalam bentuk barang, tetapi juga bisa mencari cerita, kenangan, dan momen yang bisa dikenang sepanjang hidup. Pengalaman dianggap lebih bernilai karena mampu membentuk emosi, memperluas cara pandang, dan menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan orang lain.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

