Hits: 33
Dhea Chintya
Pijar, Medan. Hindia kembali hadir dengan melahirkan sebuah mahakarya baru, “Nafas”, pada 24 April 2026. Berkolaborasi dengan Dipha Barus, Disc Jokeydisjoki (DJ) Indonesia, serta melibatkan Matter Mos dalam penulisan liriknya.
Baskara Putra, atau lebih dikenal dengan Hindia, mengeksplorasi berbagai macam cerita dalam lagu-lagunya, mulai dari fenomena-fenomena publik, keresahan politik, dan kali ini, Hindia mengangkat masalah rasa takut yang kerap menghantui seseorang.
Intro dari lagu ini familier dengan salah satu lagu Hindia, “Harga Satu Pil” dalam album Doves, ’25 on Blank Canvas.. Aransemen indie pop yang energik dan beat yang mengalun mengitari kepala ketika pertama kali mendengarnya.
Semoga aku tak dikalahkan oleh kepalaku
Takut atas hal-hal yang ku tak tahu
Semoga aku tak dikalahkan raga tubuhku
Sakit saat sadar aku tidak terbelenggu
Semoga aku tak dikalahkan oleh kepalaku
Menjauh tanpa dengar ceritamu
Semoga tak kukasih ruang ‘tuk kebingunganku
Buang waktu mencari tujuanku
Verse pertama dari lagu ini langsung menyentuh sisi rapuh dalam diri manusia. Seakan mencerminkan realitas orang-orang saat ini yang kerap cemas akan hal yang belum terjadi. Rasa cemas yang digambarkan dalam bait ini bukanlah hal yang selalu bisa dijelaskan secara gamblang, melainkan secara perlahan.
Kuurai satu-satu
Semua takut dan cemasku
Menjadi pemilik tubuhku
Ia ‘kan takluk dan berikan jalan
Lagu ini tidak hanya berhenti ditahap kegelisahan, tetapi juga menggerakkan kita sebagai pendengar untuk berproses. Kita diajak untuk mengurai satu per satu rasa takut dan cemas, lalu menghadapinya, bukan justru melarikan diri.
Mudah-mudahan
Aku berperan
Menyambung nafas doa keluargaku
Oh, mudah-mudahan
Awalnya, aransemen lagu ini terasa catchy hingga membuat badan ingin bergerak, tetapi di bagian ini, berubah menjadi lebih emosional. Bait ini menyampaikan pesan bahwa setiap orang tahu kalau kita semua hidup, tetapi tidak dengan bagaimana cara kita hidup.
Hidup bukan sesuatu yang berdiri sendiri dari awal, melainkan sebuah perjalanan yang terus berlanjut. Apa yang kita jalani hari ini merupakan sambungan dari perjuangan dan harapan yang telah lebih dulu dimulai oleh orang tua, keluarga, dan mereka yang datang sebelum kita.
Chorus ini ditutup dengan Oh, mudah-mudahan. Sebuah pengulangan yang menerangkan bahwa tidak semua hal bisa dipastikan dan langsung berbuah hasil. Namun, harapan sekecil apa pun, tetap layak untuk dijaga.
Semoga aku tak terlalu banyak bicara,
Menghukum diri ‘tuk sesuatu yang sia-sia Lupa terapkan saran yang sering kuberikan
Kepada orang lain ‘tuk keperluan batin (Oh)
Kadang hidup hanya perlu main-main (Main-main)
Masalah usai semalam, ya tidak mungkin
Tidak tentu sisa hariku diburu perkara,
Jangan kuingat hal-hal yang buruk saja
Verse kedua menggambarkan pergulatan yang sering terjadi tanpa disadari, kebiasaan overthinking yang berujung pada self-judgement. Ada kecenderungan untuk terus memikirkan hal-hal kecil, lalu memperbesar kesalahan yang sebenarnya tidak perlu dihukum sedemikian rupa.
Lagu ini juga menyisipkan satu perspektif yang ringan, mengingatkan bahwa tidak semua hal harus dipikul dengan serius. Tidak semua luka bisa selesai hanya dengan mengalihkan perhatian.
Terkadang muncul kesadaran bahwa luka dan pola hidup mungkin diwariskan dari generasi sebelumnya. Cara seseorang melihat dunia, merespons tekanan, dan merasa cemas mungkin terbentuk dari pola-pola yang sudah ada sebelumnya. Namun, “Nafas” tidak menjadikan hal itu sebagai alasan untuk menyerah.
Pada akhirnya, hidup bukan hanya soal harus selalu kuat. Kadang, yang paling penting adalah memberi ruang bagi diri sendiri untuk lelah, untuk merasa, lalu tetap menjaga harapan-harapan kecil agar tidak padam. Di tengah banyaknya tuntutan, mungkin yang kita perlukan hanya berhenti sejenak, menarik napas, dan percaya kalau kita masih punya kesempatan untuk terus melangkah. Semoga kita selalu diberi jalan dan kekuatan untuk terus berjuang, menjadi alasan doa-doa keluarga tetap hidup.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

