Hits: 9
Grace Noverlin Gulo
Pijar, Medan. Di tengah keberagaman mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), sosok Ahad Ameen Lutf Al-Awadhi, atau yang kerap disapa Ahed, hadir membawa cerita yang berbeda. Ia merupakan mahasiswa internasional asal Yaman yang sejak kecil tinggal di Arab Saudi. Lahir pada tahun 2004, Ahed datang ke Indonesia melalui program beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dan kini menempuh pendidikan di Fakultas Keperawatan stambuk 2025 di USU.
Pada fase Ahed pertama kali mengikuti perkuliahan, ia menghadapi tantangan besar dalam memahami bahasa yang digunakan dosen dan mahasiswa lainnya. Ia mengaku kesulitan mengikuti perkuliahan karena perbedaan bahasa dan metode pengajaran dosen yang dominan menggunakan bahasa Indonesia.
Selain itu, Ia juga merasa kesulitan saat berinteraksi dengan teman-teman sekelas. Perbedaan bahasa dan budaya kerap memicu miskomunikasi, terutama saat mengerjakan tugas kelompok.
“Kalau mau berbicara atau kerja kelompok dengan teman-teman sekelas, kadang terjadi salah paham,” ujarnya.
Namun, perlahan ia mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Dengan usaha yang konsisten dan keberanian untuk beradaptasi, Ahed mulai terbiasa dengan bahasa dan budaya di lingkungan kampus. Ia pun mampu menjalin interaksi yang lebih dengan teman-teman sekelasnya, sehingga hal ini membuktikan bahwa proses adaptasi adalah hal yang bisa dilalui.
Keputusan memilih USU juga didasarkan pada pertimbangan yang matang. Dari banyaknya pilihan universitas yang ada di Indonesia, Ahed menilai akreditasi, kualitas, serta peluang yang tersedia sebagai faktor utama. Meski sempat mendengar berbagai pandangan negatif, ia tetap yakin dengan pilihannya. Baginya kualitas pendidikan jauh lebih penting daripada sekadar lokasi.
Tidak hanya berfokus di bidang akademik, Ahed juga menunjukkan keaktifannya di luar kampus. Ia terlibat dalam organisasi Nextor Global yang membantu mahasiswa mencari informasi beasiswa dan peluang studi. Di sana, ia berperan sebagai ambassador sekaligus organizer, yang aktif membagikan pengalaman dan membantu mahasiswa lain menentukan studi mereka. Ia juga pernah menjadi naradamping (liaison officer) pada kegiatan inbound students dari Jepang.
Dibalik perjalanannya tersebut, motivasi terbesar Ahed datang dari keluarga. Dukungan penuh yang ia terima membuatnya ingin memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.
“Motivasi utama saya adalah menjadikan fakultas saya sebagai keluarga di USU,” ucapnya.
Kisah Ahed menjadi bukti bahwa menjadi mahasiswa internasional bukanlah penghalang untuk berkembang. Dengan keberanian menghadapi perbedaan serta kemauan untuk terus belajar, ia menunjukkan bahwa setiap tantangan dapat dilalui jika memiliki tekad untuk melangkah maju.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

