Hits: 9
Marshella Febriyanti Hutabarat
Pijar, Medan. Di antara deretan komik yang silih berganti mengikuti tren, Ten Ten Series masih bertahan dan terus menarik perhatian pembaca muda. Sejak mulai hadir pada awal 2000-an, komik yang memiliki banyak seri ini perlahan menemukan tempatnya di hati pembaca, seolah ikut tumbuh bersama mereka. Dari waktu ke waktu, seri ini terus menghadirkan cerita-cerita baru yang ringan, menarik, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ten Ten Series adalah komik edukasi asal Korea Selatan yang diterbitkan di Indonesia oleh PT Elex Media Komputindo, dengan memiliki konsep unik dibandingkan komik pada umumnya. Setiap volume dalam kumpulan komik tersebut berdiri sendiri, dan dibuat oleh kreator yang berbeda-beda.
Keberagaman penulis dan ilustrator ini justru menjadi kekuatan tersendiri, sehingga menghadirkan variasi gaya cerita dan visual yang membuat setiap buku terasa segar. Meski berbeda-beda, seluruh seri tetap membawa benang merah yang sama, yakni menyajikan hiburan yang ringan sekaligus sarat akan nilai edukatif.
Salah satu judul dalam Ten Ten Series adalah komik I Love Studying. Komik ini terdiri dari 199 halaman yang disajikan dalam bentuk komik berwarna, dengan tampilan visual yang mencolok dan menarik perhatian. Penggunaan warna yang beragam serta ilustrasi yang ekspresif, menjadi salah satu ciri yang menonjol dalam penyajiannya. Ceritanya disampaikan melalui karakter-karakter remaja dengan latar lingkungan sekolah, sehingga menggambarkan berbagai situasi yang berkaitan dengan kegiatan belajar sehari-hari.
Dalam komik I Love Studying, alur cerita dibagi ke dalam tiga bab utama. Pada bab pertama yang berjudul “Persiapan Khusus Menjadi Teladan”, pembaca diperkenalkan pada kondisi awal Yong Gi yang digambarkan sebagai seorang anak tidak menyukai kegiatan belajar. Bab ini menjadi bagian awal yang menggambarkan perubahan dalam cara pandang terhadap proses belajar.
Bab pertama tersebut kemudian diuraikan ke dalam tujuh bagian, yaitu menetapkan target belajar untuk diri sendiri, mencari tahu kemampuan belajar, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memeriksa hasil belajar melalui diary belajar, mengatur waktu belajar secara mandiri, menjaga kondisi fisik sebagai fondasi belajar, serta membangun kebiasaan pembelajaran mandiri.
Bab kedua, berjudul “Metode Belajar yang Membuat Otak Pintar” yang terdiri dari 19 bagian, berfokus membahas tentang berbagai cara yang berkaitan dengan kebiasaan, kondisi fisik, serta strategi belajar yang dilakukan oleh pelajar. Beberapa di antaranya meliputi kebiasaan yang membuat otak pintar, menjadi guru bagi teman sendiri, serta menyesuaikan kondisi fisik dengan kapasitas belajar. Selain itu, terdapat pula pembahasan mengenai persiapan menjadi murid teladan dan cara mengulang materi secara efektif.
Memasuki bab ketiga yang berjudul “Metode Belajar Efektif 100%”, dimulai dengan cerita yang mengarah pada bagaimana usaha belajar itu diterapkan dalam situasi yang lebih nyata. Bagian ini terdiri dari sepuluh pembahasan yang menggambarkan berbagai pengalaman, mulai dari melihat hasil ujian di papan pengumuman, hingga proses menaklukkan satu buku latihan. Bab ini juga menampilkan bagaimana sikap dan cara belajar berperan dalam menentukan hasil yang didapat.
Pembagian materi yang disusun secara bertahap ini membuat setiap poin terasa lebih mudah diikuti, terutama bagi pembaca anak-anak dan remaja. Penyajian seperti ini menjadi salah satu nilai lebih yang membuat komik ini tidak hanya ringan untuk dibaca, tetapi juga mudah dipahami. Dengan pendekatan yang sederhana dan tetap terarah, komik ini bisa menjadi salah satu pilihan bacaan yang layak untuk menemani proses belajar sehari-hari.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

